Selasa, 09 Maret 2021

taqrib muza, tayammum, najasah, dan haid

Fasal Mengusap Khuf (Muza, Kaos kaki Kulit)

 فصل: والمسح على الخفين جائز في الوضوء لا في غسل فرض أو نفل، ولا في إزالة نجاسة، فلو أجنب أو دميت رجله، فأراد المسح بدلاً عن غسل الرجل لم يجز، بل لا بد من الغسل وأشعر قوله جائز أن غسل الرجلين أفضل من المسح، وإنما يجوز مسح الخفين لا أحدهما فقط، إلا أن يكون فاقد الأخرى 

diperbolehkan dalam wudhu’, tidak di dalam mandi wajib ataupun sunnah, dan tidak di dalam menghilangkan najis. Sehingga kalau ada seseorang yang junub atau kakinya berdarah, kemudian ia ingin mengusap muza sebagai ganti dari membasuh kaki, maka tidak diperkenankan, bahkan harus membasuh kakinya. Perkataan mushannif yang berbunyi, “diperbolehkan” memberi pemahaman bahwa sesungguhnya membasuh kedua kaki itu lebih utama dari pada mengusap muza. Mengusap muza itu hanya diperbolehkan jika memang mengusap keduanya tidak salah satunya saja, kecuali jika dia tidak memiliki kaki yang satunya lagi.

 (بثلاثة شرائط أن يبتدىء) أي الشخص (لبسهما بعد كمال الطهارة) فلو غسل رجلاً وألبسها خفها، ثم فعل بالأخرى كذلك، لم يكف ولو ابتدأ لبسهما بعد كمال الطهارة، ثم أحدث قبل وصول الرجل قدم الخف لم يجز المسح  (وأن يكونا) أي الخفان (ساترين لمحل غسل الفرض من القدمين) بكعبيهما فلو كانا دون الكعبين كالمداس، لم يكف المسح عليهما، والمراد بالساتر هنا الحائل لا مانع الرؤية، وأن يكون الستر من جوانب الخفين لا من أعلاهما  (وأن يكونا مما يمكن تتابع الشيء عليهما) لتردد مسافر في حوائجه من حط وترحال، ويؤخذ من كلام المصنف كونهما قويين بحيث يمنعان نفود الماء، ويشترط أيضاً طهارتهما، ولو لبس خفاً فوق خف لشدة البرد مثلاً، فإن كان الأعلى صالحاً للمسح دون الأسفل صح المسح على الأعلى، وإن كان الأسفل صالحاً للمسح دون الأعلى، فمسح الأسفل صح أو الأعلى فوصل البلل للأسفل صح إن قصد الأسفل أو قصدهما معاً، لا إن قصد الأعلى فقط، وإن لم يقصد واحداً منهما، بل قصد المسح في الجملة أجزأ في الأصح  -

[diperbolehkan]- dengan tiga syarat, yaitu seseorang mulai mengenakan kedua muza tersebut setelah dalam keadaan suci secara sempurna. Sehingga, kalau ia membasuh salah satu kakinya dan mengenakan muza pada kaki tersebut, kemudian hal yang sama dilakukan pada kaki yang satunya lagi, maka tidak mencukupi. Dan seandainya ia mulai mengenakan kedua muza setelah sempurnanya suci, namun kemudian ia hadats sebelum kakinya sampai di dasar muza, maka tidak diperkenankan untuk mengusapnya. Syarat kedua adalah kedua muza tersebut bisa menutupi bagian kedua telapak kaki yang wajib di basuh hinggah kedua mata kakinya. Sehingga, kalau kedua muza tersebut tidak sampai menutup kedua mata kaki seperti sepatu, maka tidak cukup mengusap keduanya. Yang di kehendaki dengan “satir (yang menutup)”di dalam bab ini adalah penghalang, bukan sesuatu yang mencegah penglihatan. Yang harus tertutup adalah bagian bawah dan sampingnya kedua muza, tidak arah atas keduanya. Muza tersebut harus terbuat dari sesuatu yang bisa digunakan untuk berjalan naik turun bagi seorang musafir guna memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Dari ucapan mushannif di atas bisa diambil pemahaman bahwa kedua muza tersebut harus kuat, sekira bisa mencegah masuknya air. Juga disyaratkan keduanya harus suci. Dan seandainya ia memakai muza berlapis karena cuaca terlalu dingin semisal, maka, jika muza yang luar / atas layak untuk diusap tidak muza yang dalam, maka syah mengusap muza yang luar. Dan jika yang layak diusap adalah muza yang dalam, bukan yang luar, kemudian ia mengusap muza yang dalam, maka hukumnya sah. Atau ia mengusap muza yang atas, namun kemudian basah-basah air sampai ke muza yang dalam, maka hukumnya sah jika ia menyengaja untuk mengusap yang dalam atau mengusap keduanya, dan tidak sah jika ia menyengaja mengusap muza yang luar saja. Dan jika ia tidak menyengaja mengusap salah satunya, akan tetapi ia menyengaja mengusap secara umum, maka dianggap cukup  menurut pendapat al Ashah

 (ويمسح المقيم يوماً وليلة و) يمسح (المسافر ثلاثة أيام بلياليهن) المتصلة بها سواء تقدمت أو تأخرت (وابتداء المدة) تحسب (من حين يحدث) أي من انقضاء الحدث الكائن (بعد) تمام (لبس الخفين) لا من ابتداء الحدث و لا من وقت المسح، ولا من ابتداء اللبس والعاصي بالسفر والهائم يمسحان مسح مقيم، ودائم الحدث إذا أحدث بعد لبس الخف حدثاً آخر مع حدثه الدائم قبل أن يصلي به فرضاً يمسح، ويستبيح ما كان يستبيحه لو بقي طهره الذي لبس عليه خفه، وهو فرض ونوافل، فلو صلى بطهره فرضاً قبل أن تحدث مسح، واستباح نوافل فقط، 

Bagi orang yang muqim (tidak bepergian) diperkenankan mengusap selama sehari semalam. Dan bagi musafir diperkenankan mengusap selama tiga hari beserta malam-malamnya yang bersambung, baik malam-malamnya itu lebih dahulu atau belakangan. Permulaan masa tersebut terhitung sejak ia hadats, maksudnya sejak selesainya hadats yang terjadi setelah sempurna mengenakan kedua muza. Bagi orang yang melakukan maksiat dengan bepergiannya dan orang yang berkelana tanpa tujuan, maka diperkenankan mengusap seperti mengusapnya orang yang muqim -sehari semalam-. Orang yang selalu mengeluarkan hadats (daimul hadats), ketika ia mengalami hadats yang lain di samping hadatsnya yang selalu ada, setelah mengenakan muza dan sebelum melakukan sholat fardlu, maka ia diperkenankan mengusap muza dan melakukan hal-hal yang boleh ia lakukan seandainya kesucian saat mengenakan muza itu masih ada, yaitu ibadah fardlu dan beberapa ibadah sunnah. Sehingga, kalau sudah melakukan ibadah fardlu sebelum mengalami hadats, maka ia diperkenankan mengusap muza dan melakukan ibadah-ibadah sunnah saja.

 (فإن مسح) الشخص (في الحضر ثم سافر أو مسح في السفر ثم أقام) قبل مضي يوم وليلة (أتم مسح مقيم) والواجب في مسح الخف ما يطلق عليه اسم المسح إذا كان على ظاهر الخف، ولا يجزىء المسح على باطنه، ولا على عقب الخف، ولا على حرفه ولا أسفله والسنة في مسحه أن يكون خطوطاً بأن يفرج الماسح بين أصابعه ولا يضمها (ويبطل المسح) على الخفين (بثلاثة أشياء بخلعهما) أو خلع أحدهما أو انخلاعه أو خروج الخف عن صلاحية المسح كتخرقه (وانقضاء المدة) وفي بعض النسخ مدة المسح من يوم وليلة لمقيم وثلاثة أيام بلياليها لمسافر (و) بعروض (ما يوجب الغسل) كجنابة أو حيض أو نفاس للابس الخف. .  

Jika ada seseorang yang mengusap muza saat masih di rumah kemudian ia bepergian, atau mengusap saat bepergian kemudian ia muqim sebelum melewati sehari semalam, maka dia diperkenankan menyempurnakan masa mengusap bagi orang yang muqim -sehari semalam. Yang wajib saat mengusap muza adalah melakukan sesuatu yang sudah layak disebut mengusap, jika memang dilakukan di bagian luar muza. Tidak mencukupi mengusap bagian dalam, tungkak muza, tepi dan bagian bawahnya. Yang sunnah di dalam mengusap adalah mengusap dengan posisi menggaris, dengan artian orang yang mengusap muza tersebut merenggangkan jari-jarinya, tidak merapatkannya. Mengusap dua muza hukumnya batal sebab tiga perkara, yaitu melepas keduanya, melepas salah satunya, terlepas sendiri atau muza sudah keluar dari kelayakan untuk diusap seperti sobek. Dan habisnya masa mengusap. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “habisnya masa mengusap” yaitu sehari semalam bagi orang muqim, dan tiga hari tiga malam bagi orang musafir. Dan sebab terjadinya sesuatu yang mewajibkan mandi seperti jinabah, haidl, atau nifas pada orang yang mengenakan muza. 

Fashl fit-Tayammum

(فصل): في التيمم. وفي بعض نسخ المتن تقديم هذا الفصل على الذي قبله، والتيمم لغة القصد وشرعاً إيصال تراب طهور للوجه واليدين بدلاً عن وضوء أو غسل، أو غسل عضو بشرائط مخصوصة (وشرائط التيمم خمسة أشياء) وفي بعض نسخ المتن خمس خصال: أحدها (وجود العذر بسفر أو مرض. و) الثاني (دخول وقت الصلاة) فلا يصح التيمم لها قبل دخول وقتها، (و) الثالث (طلب الماء) بعد دخول الوقت بنفسه أو بمن أذن له في طلبه، فيطلب الماء من رحله ورفقته فإن كان منفرداً نظر حواليه من الجهات الأربع إن كان بمستو من الأرض، فإن كان فيها ارتفاع وانخفاض تردد قدر نظره 

Fasal tentang Tayamum Dalam sebagian redaksi matan, mendahulukan fasal ini dari pada fasal sebelumnya. Tayammum secara bahasa bermakna menyengaja. Dan secara syara’ adalah mendatangkan debu suci mensucikan pada wajah dan kedua tangan sebagai pengganti dari wudlu’, mandi atau membasuh anggota dengan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tayammum ada lima perkara. Dalam sebagian redaksi matan menggunakan bahasa “khamsu khishalin (lima hal)”. Salah satunya adalah ada udzur sebab bepergian atau sakit. Yang kedua adalah masuk waktu sholat. Maka tidak sah tayammun untuk sholat yang dilakukan sebelum masuk waktunya. Yang ketiga adalah mencari air setelah masuknya waktu sholat, baik diri sendiri atau orang lain yang telah ia beri izin. Maka ia harus mencari air di tempatnya dan teman-temannya. Jika ia sendirian, maka cukup melihat ke kanan kirinya dari ke empat arah, jika ia berada di dataran yang rata. Jika ia berada di tempat yang naik turun, maka harus berkeliling ke tempat yang terjangkau oleh pandangan matanya.

 و) الرابع (تعذر استعماله) أي الماء بأن يخا  من استعمال الماء على ذهاب نفس أو منفعة عضو، ويدخل في العذر ما لو كان بقربه ماء وخاف لو قصده على نفسه من سبع أو عدو، أو على ماله من سارق أو غاصب، ويوجد في بعض نسخ المتن في هذا الشرط زيادة بعد تعذر استعماله وهي (وإعوازه بعد الطلب و) الخامس (التراب الطاهر) أي الطهور غير المندى، ويصدق الطاهر بالمغصوب وتراب مقبرة لم تنبش، ويوجد في بعض النسخ زيادة في هذا الشرط وهي (له غبار فإن خالطه جص أو رمل لم يجز) وهذا موافق لما قاله النووي في شرح المهذب والتصحيح، لكنه في الروضة والفتاوى جوز ذلك. ويصح التيمم أيضاً برمل فيه غبار، وخرج بقول المصنف التراب غيره كنورة وسحاقة خزف، وخرج بالطاهر النجس، وأما التراب المستعمل فلا يصح التيمم به، 

Dan yang ke empat adalah sulit menggunakan air. Dengan gambaran jika menggunakan air, ia khawatir akan kehilangan nyawa atau fungsi anggota badan. Termasuk udzur adalah seandainya di dekatnya ada air, namun jika mengambilnya, ia khawatir pada dirinya dari binatang buas atau musuh, atau khawatir hartanya akan diambil oleh pencuri atau orang yang ghasab. Di dalam sebagian redaksi matan, tepat di dalam syarat ini, di temukan tambahan setelah syarat sulit menggunakan air, yaitu membutuhkan air setelah berhasil mendapatkannya. Yang kelima adalah debu suci, maksudnya debu suci mensucikan dan tidak basah. Debu suci mencakup debu hasil ghasab dan debu kuburan yang tidak digali. Di dalam sebagian redaksi matan, ditemukan tambahan di dalam syarat ini, yaitu debu yang memiliki ghubar. Sehingga, jika debu tersebut tercampur oleh gamping atau pasir, maka tidak diperbolehkan. Dan ini sesuai dengan pendapat imam an Nawawi di dalam kitab Syarh Muhadzdzab dan at Tashhih. Akan tetapi di dalam kitab ar Raudlah dan al Fatawa, beliau memperbolehkan hal itu. Dan juga sah melakukan tayammum dengan pasir yang ada ghubar-nya. Dengan ungkapan mushannif “debu”, mengecualikan selain debu seperti gamping dan remukan genteng. Dikecualikan dengan debu yang suci yaitu debu najis. Adapun debu musta’mal, maka tidak syah digunakan tayammum.

 وفرائضه أربعة أشياء) أحدها (النية) وفي بعض النسخ أربع خصال نية الفرض، فإن نوى المتيمم الفرض أو النفل استباحهما، أو الفرض فقط استباح معه النفل، وصلاة الجنازة أيضاً أو النفل فقط لم يستبح معه الفرض، وكذا لو نوى الصلاة ويجب قرن نية التيمم بنقل التراب للوجه واليدين، واستدامة هذه النية إلى مسح شيء من الوجه. ولو أحدث بعد نقل التراب، لم يمسح بذلك التراب بل ينقل غيره (و) الثاني والثالث (مسح الوجه ومسح اليدين مع المرفقين) وفي بعض نسخ المتن إلى المرفقين، ويكون مسحهما بضربتين، ولو وضع يده على تراب ناعم، فعلق بها تراب من غير ضرب كفى (و) الرابع (الترتيب) فيجب تقديم مسح الوجه على مسح اليدين سواء تيمم عن حدث أصغر أو أكبر، ولو ترك الترتيب لم يصح، وأما أخذ التراب للوجه واليدين فلا يشترط فيه ترتيب، فلو ضرب بيديه دفعة على تراب، ومسح بيمينه وجهه وبيساره يمينه جاز (وسننه) أي التيمم (ثلاثة أشياء) وفي بعض نسخ المتن ثلاث خصال (التسمية وتقديم اليمنى) من اليدين (على اليسرى) منهما وتقديم أعلى الوجه على أسفله (والموالاة) وسبق معناها في الوضوء وبقي للتيمم سنن أخرى مذكورة في المطولات منها نزع المتيمم خاتمه في الضربة الأولى، أما الثانية فيجب نزع الخاتم فيها 

Fardhunya tayammum ada empat perkara. Salah satunya adalah niat. Dalam sebagian redaksi matan, menggunakan bahasa “empat pekerjaan, yaitu niat fardlu”. Jika orang yang melakukan tayammum niat fardlu dan sunnah, maka dia diperkenankan melakukan keduanya. Atau niat fardlu saja, maka di samping fardlu tersebut, ia juga diperkenankan melakukan ibadah sunnah dan sholat jenazah. Atau niat sunnah saja, maka ia tidak diperkenankan melakukan fardlu besertaan dengan ibadah sunnah, begitu juga seandainya ia niat sholat saja. Dan wajib membarengkan niat tayammum dengan memindah debu pada wajah dan kedua tangan, dan melanggengkan niat hinggah mengusap sebagian wajah. Seandainya dia hadats setelah memindah debu, maka tidak diperkenankan mengusap dengan debu tersebut, akan tetapi harus memindah / mengambil debu yang lain. Rukun yang kedua dan ketiga adalah mengusap wajah dan mengusap kedua tangan beserta kedua siku. Dalam sebagian redaksi matan menggunakan bahasa “hingga kedua siku”. Mengusap kedua bagian ini (wajah & kedua tangan) dengan dua pukulan pada debu. Seandainya ia meletakkan tangannya ke debu yang lembut kemudian ada debu yang menempel pada tangannya tanpa memukulkan tangan, maka sudah dianggap cukup. Rukun yang ke empat adalah tertib. Maka wajib mendahulukan mengusap wajah sebelum mengusap kedua tangan, baik tayammum untuk hadats kecil ataupun hadats besar. Dan seandainya ia meninggalkan tertib, maka tayammumnya tidak sah. Adapun mengambil debu untuk mengusap wajah dan kedua tangan, maka tidak disyaratkan harus tertib. Dan seandainya ia memukulkan tangan satu kali ke debu dan mengusap wajahnya dengan tangan kanan, dan mengusap tangan kanannya dengan tangan kirinya, maka hal itu diperkenankan. Kesunahan tayammum ada tiga perkara. Dalam sebagian redaksi matan, menggunkan bahasa “tiga khishal”. Yaitu membaca basmalah, mendahulukan bagian kanan dari kedua tangan sebelum bagian kiri dari keduanya, dan mendahulukan wajah bagian atas sebelum wajah bagian bawah. Dan muwalah (bersegera). Maknanya telah dijelaskan di dalam bab “wudlu’”. Masih ada beberapa kesunahan-kesunahan tayammum yang disebutkan di dalam kitab-kitab yang diperluas keterangannya. Di antaranya adalah orang yang tayammum sunnah melepas cincinnya saat memukul debu pertama. Sedangkan untuk pukulan yang kedua, maka wajib melepas cincin.

 والذي يبطل التيمم ثلاثة أشياء) أحدها كل (ما أبطل الوضوء) (وسبق بيانه في أسباب) الحدث فمتى كان متيمماً ثم أحدث بطل تيممه (و) الثاني (رؤية الماء) وفي بعض نسخ المتن وجود الماء (في غير وقت الصلاة) فمن تيمم لفقد الماء ثم رأى الماء أو توهمه قبل دخوله في الصلاة بطل تيممه، فإن رآه بعد دخوله فيها، وكانت الصلاة مما لا يسقط فرضها بالتيمم كصلاة مقيم، بطلت في الحال، أو مما يسقط فرضها بالتيمم كصلاة مسافر، فلا تبطل فرضاً كانت الصلاة أو نفلاً، وإن كان تيمم الشخص لمرض، ونحوه ثم رأى الماء، فلا أثر لرؤيته بل تيممه باق بحاله. (و) الثالث (الردة) وهي قطع الإسلام 

Hal-hal yang membatalkan tayammum ada tiga perkara. Salah satunya adalah setiap perkara yang membatalkan wudlu’. Dan telah dijelaskan di dalam bab “Sebab-Sebab Hadats”. Sehingga, ketika seseorang dalam keadaan bertayammum kemudian hadats, maka tayammumnya batal. Yang ke dua adalah melihat air di selain waktu sholat. Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa “wujudnya air”. Sehingga, barang siapa melakukan tayammum karena tidak ada air kemudian ia melihat atau menyangka ada air sebelum melakukan sholat, maka tayammumnya batal. Sehingga, jika ia melihat air saat melakukan sholat, dan sholat yang dilakukan termasuk sholat yang tidak gugur kewajibannya dengan tayammum -tetap wajib qadla’- seperti sholatnya orang muqim, maka seketika itu sholatnya batal. Atau termasuk sholat yang sudah gugur kewajibannya dengan tayammum seperti sholatnya seorang musafir, maka sholatnya tidak batal, baik sholat fardlu ataupun sunnah. Jika seseorang melakukan tayammum karena sakit atau sesamanya, kemudian ia melihat air, maka melihat air tidaklah berpengaruh apa-apa, bahkan tayammumnya tetap sah. Yang ketiga adalah murtad. Murtad adalah memutus Islam,

وإذا امتنع شرعاً استعمال الماء في عضو، فإن لم يكن عليه ساتر وجب عليه التيمم وغسل الصحيح، ولا ترتيب بينهما للجنب، أما المحدث فإنما يتيمم وقت دخول غسل العضو العليل، فإن كان على العضو ساتر فحكمه مذكور في قول المصنف. (وصاحب الجبائر) جمع جبيرة بفتح الجيم وهي أخشاب أو قصب تسوى وتشد على موضع الكسر ليلتحم (يمسح عليها) بالماء إن لم يمكنه نزعها لخوف ضرر مما سبق (ويتيمم) صاحب الجبائر في وجهه ويديه كما سبق (ويصلي ولا إعادة عليه إن كان وضعها) أي الجبائر (على طهر) وكانت في غير أعضاء التيمم وإلا أعادوا هذا ما قاله النووي في الروضة. لكنه قال في المجموع: إن إطلاق الجمهور يقتضي عدم الفرق، أي بين أعضاء التيمم وغيرها، ويشترط في الجبيرة أن لا تأخذ من الصحيح إلا ما لا بد منه للاستمساك واللصوق والعصابة، والمرهم ونحوها على الجرح كالجبيرة 

Shahibul Jaba’ir (Orang yang Memakai Perban) 

Ketika secara syara’ tercegah untuk menggunakan air pada anggota badan, maka jika pada anggota tersebut tidak terdapat penutup, maka bagi dia wajib melakukan tayammum dan membasuh anggota yang sehat, dan tidak ada kewajiban tertib antara keduanya (tayammum & membasuh yang sehat) bagi orang yang junub. Adapun orang yang hadats kecil, maka dia boleh melakukan tayammum ketika sudah waktunya membasuh anggota yang sakit. Jika ada penghalang (satir) pada anggota yang sakit, maka hukumnya dijelaskan di dalam perkataan mushannif di bawah ini. Orang yang memakai jaba’ir (perban), jaba’ir adalah bentuk kalimat jama’nya lafad jabirah, yaitu kayu atau bambu yang dipasang dan diikatkan pada anggota yang luka / retak agar supaya bersatu kembali / sembuh, maka ia wajib mengusap perbannya dengan air jika tidak memungkinkan untuk melepasnya karena khawatir terjadi bahaya yang telah dijelaskan di depan. Dan orang yang memakai perban harus melakukan tayammum di wajah dan kedua tangan seperti yang telah dijelaskan. Ia harus melakukan sholat dan tidak wajib mengulangi -ketika sudah sembuh-, jika ia memasang perbannya dalam keadaan suci dan diletakkan pada selain aggota tayammum. Jika tidak demikian, maka ia wajib mengulangi sholatnya -ketika sudah sembuh-. Dan ini adalah pendapat yang disampaikan imam an Nawawi di dalam kitab ar Raudlah. Akan tetapi di dalam kitab al Majmu’, beliau berpendapat bahwa sesungguhnya kemutlakan yang disampaikan jumhur (mayoritas ulama’) menetapkan bahwa tidak ada perbedaan, maksudnya antara posisi perban yang berada pada anggota tayammum dan selainnya. Perban disyaratkan harus tidak menutup anggota yang sehat kecuali anggota sehat yang memang harus tertutup guna memperkuat perban tersebut. Lushuq[Sesuatu yang ditempelkan pada luka baik berupa kain, kapas atau sesamanya. ], ishabah[ Sesuatu yang diikatkan pada luka baik berupa tali atau sesamanya.], murham[Obat yang ditaburkan ke luka. ] dan sesamanya yang terdapat pada luka hukumnya sama dengan jabirah.

 (ويتيمم لكل فريضة) أو منذورة فلا يجمع بين صلاتي فرض بتيمم واحد، ولا بين طوافين ولا بين صلاة وطواف، ولا بين جمعة وخطبتها، وللمرأة إذا تيممت لتميكن الحليل أن تفعله مراراً وتجمع بينه وبين الصلاة بذلك التيمم وقوله (ويصلي بتيمم واحد ما شاء من النوافل) ساقط من بعض النسخ.  

Sesorang harus melakukan tayammum setiap hendak melakukan satu ibadah fardlu dan ibadah nadzar.Sehingga ia tidak diperkenankan melakukan dua sholat fardlu, dua thowaf, sholat dan thowaf, sholat Jum’at dan khutbahnya hanya dengan satu kali tayammum. Ketika seorang wanita melakukan tayammum guna melayani sang suami, maka bagi dia diperkenankan melakukan pelayanan berulang kali dan melakukan sholat dengan tayammum tersebut. Perkataan mushannif “ dengan satu tayammum, seseorang diperkenankan melakukan ibadah-ibadah sunnah yang ia kehendaki” tidak tercantum di dalam sebagian redaksi matan.


Fashl fi Bayan An-Najasat wa Izalatiha


(فصل): في بيان النجاسات وإزالتها. وهذا الفصل مذكور في بعض النسخ قبيل كتاب الصلاة، والنجاسة لغة الشيء المستقذر. وشرعاً كل عين حرم تناولها على الإطلاق حالة الاختيار مع سهولة التمييز لا لحرمتها ولا لاستقذارها، ولا لضررها في بدن أو عقل، ودخل في الإطلاق قليل النجاسة وكثيرها، وخرج بالاختيار الضرورة، فإنها تبيح تناول النجاسة، وبسهولة التمييز أكل الدود الميت في جبن أو فاكهة، ونحو ذلك وخرج بقوله لا لحرمتها ميتة الآدمي، وبعدم الاستقذار المني ونحوه، وبنفي الضرر الحجز والنبات المضر ببدن أو عقل.


Fasal) menjelaskan najis dan menghilangkannya. Di dalam sebagian redaksi, fasal ini disebutkan sebelum “Kitab Sholat”.
Najis secara bahasa adalah sesuatu yang dianggap menjijikkan. Dan secara syara’ adalah setiap benda yang haram digunakan secara mutlak dalam keadaan normal beserta mudah untuk dibedakan, bukan karena kemuliannya, menjijikkannya dan bukan karena berbahaya pada badan atau akal.
Bahasa “mutlak” mencakup najis sedikit dan banyak. Dengan bahasa “dalam keadaan normal” mengecualikan keadaan darurat. Karena sesungguhnya keadaan darurat memperbolehkan untuk menggunakan najis. Dengan bahasa “mudah dipisahkan” mengecualikan memakan ulat yang mati di dalam keju, buah dan sesamanya. Dengan ungkapan mushannif “bukan karena kemuliannya” mengecualikan mayatnya anak Adam. Dengan keterangan “tidak karena menjijikkan” mengecualikan sperma dan sesamanya. Dengan bahasa “tidak karena membahayakan” mengecualikan batu dan tanaman yang berbahaya pada badan atau akal. Maksudnya, semua barang-barang yang dikecualikan tersebut adalah barang-barang yang haram digunakan bukan karena najis tapi karena hal-hal yang telah disebutkan

 ثم ذكر المصنف ضابطاً للنجس الخارج من القبل والدبر بقوله (وكل مائع خرج من السبيلين نجس) هو صادق بالخارج المعتاد كالبول والغائط، وبالنادر كالدم والقيح. (إلا المني) من آدمي أو حيوان غير كلب وخنزير، وما تولد منهما أو من أحدهما مع حيوان طاهر، وخرج بمائع الدود، وكل متصلب لا تحيله المعدة، فليس بنجس بل يطهر بالغسل، وفي بعض النسخ، وكل ما يخرج بلفظ المضارع وإسقاط مائع (وغسل جميع الأبوال والأرواث) ولو كانا من مأكول اللحم (واجب) وكيفية غسل النجاسة إن كانت مشاهدة بالعين، وهي المسماة بالعينية تكون بزوال عينها، ومحاولة زوال أوصافها من طعم أو لون أو ريح، فإن بقي طعم النجاسة ضر أو لون أو ريح، عسر زواله لم يضر، وإن كانت النجاسة غير مشاهدة، وهي المسماة بالحكمية فيكفي جري الماء على المتنجس بها، ولو مرة واحدة 

Kemudian mushannif menyebutkan batasan najis yang keluar dari qubul (jalur depan) dan dubur (jalur belakang) dengan perkataan beliau, Setiap benda cair yang keluar dari dua jalan hukumnya adalah najis. Hal ini mencakup benda yang biasa keluar seperti kencing dan tanji, dan benda yang jarang keluar seperti darah dan nanah. Kecuali sperma dari anak Adam atau binatang selain anjing, babi dan peranakan keduanya atau salah satunya hasil perkawinan dengan binatang yang suci. Dengan bahasa “benda cair”, mengecualikan ulat dan setiap benda padat yang tidak diproses oleh lambung, maka hukumnya tidak najis, akan tetapi terkena najis yang bisa suci dengan dibasuh. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “setiap perkara yang akan keluar” dengan menggunakan lafadz fi’il mudlari’ dan membuang lafadz “ma’i’ (benda cair). 
Membasuh semua jenis air kencing dan kotoran walaupun keduanya dari binatang yang halal dimakan dagingnya, hukumnya adalah wajib. Cara membasuh najis jika terlihat oleh mata dan ini disebut dengan “najis ainiyah” adalah dengan menghilangkan bendanya dan menghilangkan sifat-sifatnya, baik rasa, warna, atau baunya. Jika rasanya najis masih ada, maka berbahaya. Atau yang masih tersisa adalah warna atau bau yang sulit dihilangkan, maka tidak masalah. Jika najisnya tidak terlihat oleh mata dan ini disebut dengan “najis hukmiyah”, maka cukup dengan mengalirnya air pada tempat yang terkena najis tersebut, walaupun hanya satu kali aliran

ثم استثنى المصنف من الأبوال قوله (إلا بول الصبي الذي لم يأكل الطعام) أي لم يتناول مأكولاً ولا مشروباً على جهة التغذي (فإنه) أي بول الصبي (يطهر برش الماء عليه) ولا يشترط في الرش سيلان الماء، فإن أكل الصبي الطعام على جهة التغذي غسل بوله قطعاً، وخرج بالصبي الصبية والخنثى فيغسل من بولهما، ويشترط في غسل المتنجس ورود الماء عليه إن كان قليلاً، فإن عكس لم يطهر أما الكثير فلا فرق بين كون المتنجس وارداً أو موروداً 

Kemudian dengan bahasa “jenisnya air kencing”, mushannif mengecualikan perkataan beliau yang berbunyi, “kecuali air kencingnya anak kecil laki-laki yang belum pernah memakan makanan, maksudnya belum pernah mengkonsumsi makanan dan minuman untuk penguat badan. Maka sesungguhnya air kencing anak laki-laki tersebut sudah bisa suci dengan hanya memercikkan air padanya. Dalam memercikkan air, tidak disyaratkan harus sampai mengalir. Jika anak kecil laki-laki tersebut telah mengkonsumsi makanan untuk penguat badan, maka air kencingnya harus dibasuh secara pasti. Dengan bahasa “anak laki-laki”, mengecualikan anak kecil perempuan dan huntsa, maka air kencing keduanya harus dibasuh. Di dalam membasuh barang yang terkena najis, disyaratkan airnya yang didatangkan/dialirkan pada barang tersebut jika airnya sedikit. Jika dibalik, maka barang tersebut tidak suci. Sedangkan jika air yang banyak, maka tidak ada bedanya antara barang yang terkena najis yang datang atau didatangi air

(ولا يعفى عن شيء من النجاسات إلا اليسير من الدم والقيح) فيعفى عنهما في ثوب أو بدن، وتصح الصلاة معهما (و) إلا (ما) أي شيء (لا نفس له سائلة) كذباب ونمل (إذا وقع في الإناء ومات فيه فإنه لا ينجسه) وفي بعض النسخ إذا مات في الإناء وأفهم قوله وقع، أي بنفسه أنه لو طرح ما لا نفس له سائلة في المائع ضر، وهو ما جزم به الرافعي في الشرح الصغير، ولم يتعرض لهذه المسألة في الكبير، وإذا كثرت ميتة ما لا نفس له سائلة، وغيرت ما وقعت فيه نجسته، وإذا نشأت هذه الميتة من المائع كدود خل وفاكهة، لم تنجسه قطعاً ويستثنى مع ما ذكر هنا مسائل مذكورة في المبسوطات سبق بعضها في كتاب الطهارة.

Tidak ada najis yang dima’fu kecuali darah dan nanah yang sedikit. Maka keduanya dima’fu di pakaian dan badan, dan sholat yang dilakukan tetap sah walaupun membawa keduanya. Dan kecuali bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir seperti lalat dan semut, ketika binatang tersebut masuk ke dalam wadah air dan mati di sana. Maka sesungguhnya bangkai binatang tersebut tidak menajiskan wadah air yang dimasukinya. Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa “ketika mati di dalam wadah”. Perkataan mushannif “terjatuh sendiri”, memberi pemahaman bahwa sesungguhnya seandainya bangkai binatang yang tidak memiliki darah mengalir itu dimasukkan ke dalam benda cair, maka berbahaya (menajiskan). Imam ar Rafi’i mantap dengan pendapat ini di dalam kitab asy Syarh ash Shaghir, namun beliau tidak menyinggung masalah ini di dalam kitab asy Syarh al Kabir. Ketika bangkai binatang yang tidak memiliki darah mengalir itu berjumlah banyak dan merubah sifat cairan yang dimasukinya, maka bangkai itu menajiskan benda cair tersebut. Ketika bangkai ini muncul dari benda cair seperti ulatnya cukak dan buah-buahan, maka tidak menajiskan cairan tersebut secara pasti. Di samping apa yang telah dijelaskan oleh mushannif, masih ada beberapa permasalahan yang dikecualikan yang disebutkan di dalam kitab-kitab yang diperluas keterangannya, sebagiannya telah dijelaskan di dalam “Kitab Thaharah”.

(والحيوان كله طاهر إلا الكلب والخنزير وما تولد منهما أو من أحدهما) مع حيوان طاهر وعبارته تصدق بطهارة الدود المتولد من النجاسة وهو كذلك (والميتة كلها نجسة إلا السمك والجراد والآدمي) وفي بعض النسخ وابن آدم أي ميتة كل منها فإنها طاهرة (ويغسل الإناء من ولوغ الكلب والخنزير سبع مرات) بماء طهور (إحداهن) مصحوبة (بالتراب) الطهور يعم المحل المتنجس، فإن كان المتنجس بما ذكر في ماء جار كدر كفي مرور سبع جريات عليه بلا تعفير، وإذا لم تزل عين النجاسة الكلبية إلا بست مثلاً، حسبت كلها غسلة واحدة، والأرض الترابية لا يجب التراب فيها على الأصح 

Semua binatang hukumnya suci kecuali anjing, babi, dan peranakan keduanya atau salah satunya hasil perkawinan dengan binatang yang suci. Ungkapan mushannif ini mencakup terhadap sucinya ulat yang muncul dari najis, dan memang demikinlah hukumnya. Bangkai, semuanya hukumnya adalah najis kecuali bangkai ikan, belalang dan anak Adam. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “ibn Adam”, maksudnya bangkai masing-masing barang di atas, maka sesungguhnya hukumnya suci. Wadah yang terkena liur anjing atau babi, maka harus dibasuh tujuh kali dengan menggunakan air suci mensucikan, salah satu basuhan dicampur dengan debu suci mensucikan yang merata ke seluruh tempat yang terkena najis. Jika barang yang terkena najis tersebut dibasuh dengan air mengalir yang keruh, maka cukup mengalirnya air tersebut tujuh kali tanpa harus dicampur dengan debu. Ketika benda najis anjing tersebut belum hilang kecuali dengan enam basuhan semisal, maka seluruh basuhan dianggap satu kali basuhan. Tanah yang berdebu -yang terkena najis ini- tidak wajib diberi debu -saat membasuhnya- menurut qaul al ashah

(ويغسل من سائر) أي باقي (النجاسات مرة واحدة) وفي بعض النسخ مرة (تأتي عليه والثلاث) وفي بعض النسخ والثلاثة بالتاء (أفضل) واعلم أن غسالة النجاسة بعد طهارة المحل المغسول طاهرة إن انفصلت غير متغيرة، ولم يزد وزنها بعد انفصالها عما كان بعد اعتبار مقدار ما يتشربه المغسول من الماء هذا إذا لم يبلغ قلتين، فإن بلغهما فالشرط عدم التغير.

Untuk najis-najis yang lain, maka cukup dibasuh satu kali yang di alirkan pada najis tersebut. Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa “marratan (sekali)”. Tiga kali (ats tsalatsu) basuhan adalah lebih utama. Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa “ats tsalatsatu” dengan menggunakan ta’ diakhirnya. Ketahuilah sesungguhnya air basuhan najis setelah sucinya tempat yang dibasuh, hukumnya adalah suci, jika air tersebut terpisah dari tempat yang dibasuh dalam keadaan tidak berubah dan tidak bertambah ukurannya dari kadar ukuran sebelumnya besertaan menghitung kadar air yang diserap oleh tempat yang dibasuh. Hal ini jika air basuhan tersebut tidak mencapai dua qullah. Jika mencapai dua qullah, maka syaratnya adalah tidak berubah.

 ولما فرغ المصنف مما يطهر بالغسل شرع فيما يطهر بالاستحالة، وهي انقلاب الشيء من صفة إلى صفة أخرى فقال (وإذا تخللت الخمرة) وهي المتخذة من ماء العنب محترمة كانت الخمرة أم لا ومعنى تخللت صارت خلاً وكانت صيرورتها خلاً (بنفسها طهرت) وكذا لو تخللت بنقلها من شمس إلى ظل وعكسه (وإن) لم تتخلل الخمرة بنفسها بل (خللت بطرح شيء فيها لم تطهر) وإذا طهرت الخمرة طهر دنها تبعاً لها. 

Setelah mushannif (penulis) selesai menjelaskan najis yang bisa suci dengan dibasuh, maka beliau berlanjut menjelaskan najis yang suci dengan istihalah, yaitu perubahan sesuatu dari satu sifat ke sifat yang lain. Beliau berkata, Ketika khamer telah menjadi cuka dengan sendirinya, maka hukumnya suci. Khamer adalah minuman yang terbuat dari air perasan anggur. Baik khamar tersebut dimuliakan ataupun tidak. Makna takhallalat adalah khamar menjadi cuka. Begitu juga hukumnya suci, seandainya ada khamer yang berubah menjadi cuka sebab dipindah dari tempat yang terkena matahari ke tempat yang teduh dan sebaliknya. Jika khamer berubah menjadi cuka tidak dengan sendirinya, bahkan menjadi cuka dengan memasukkan sesuatu ke dalamnya, maka khamer tersebut tidak suci. Ketika khamer menjadi suci, maka wadahnya pun menjadi suci karena mengikut pada khamernya.

Pasal Haid, Nifas dan Istihadoh

(فصل): في الحيض والنفاس والاستحاضة (ويخرج من الفرج ثلاثة دماء دم الحيض والنفاس والاستحاضة فالحيض هو الدم الخارج) في سن الحيض وهو تسع سنين فأكثر (من فرج المرأة على سبيل الصحة ) أي لا لعلة بل للجبلة (من غير سبب الولادة) وقوله (ولونه أسود محتدم لذاع) ليس في أكثر نسخ المتن، وفي الصحاح احتدم الدم اشتدت حمرته حتى اسود، ولذعته النار حتى أحرقته (والنفاس هو الدم الخارج عقب الولادة) فالخارج مع الولد أو قبله لا يسمى نفاساً وزيادة الياء في عقب لغة قليلة، والأكثر حذفها (والاستحاضة) أي دمها (هو الدم الخارج في غير أيام الحيض والنفاس) لا على سبيل الصحة (وأقل الحيض) زمناً (يوم وليلة) أي مقدار ذلك وهو أربعة وعشرون ساعة على الاتصال المعتاد في الحيض (وأكثره خمسة عشر يوماً) بلياليها فإن زاد عليها فهو استحاضة (وغالبه ست أو سبع) والمعتمد في ذلك الاستقراء.

Fasal) menjelaskan hukum-hukum haid, nifas dan istihadoh, Ada tiga macam darah yang keluar dari vagina perempuan, yaitu darah haidl, nifas dan istihadlah. Haidl adalah darah yang keluar dari vagina wanita pada usia haidl, yaitu usia sembilan tahun atau lebih, dalam keadaan sehat, yaitu tidak karena sakit akan tetapi pada batas kewajaran, bukan karena melahirkan. Ucapan mushannif “dan berwarna hitam, terasa panas dan menyakitkan” tidak terdapat di kebanyakan redaksi matan. Dalam kitab as Shahhah terdapat keterangan “darah sangat panas, warnanya sangat merah hinggah berwarna hitam, api membakarnya hinggah api tersebut membakarnya”. Nifas adalah darah yang keluar dari vagina perempuan setelah melahirkan. Sehingga darah yang keluar bersamaan dengan bayi atau sebelumnya, maka tidak disebut darah nifas. Penambahan huruf ya’ di dalam lafadz “’aqibin” adalah bentuk bahasa yang sedikit terlaku, sedangkan yang lebih banyak adalah membuang huruf ya’
Istihadah, darah istihadlah adalah darah yang keluar dari vagina perempuan di selain hari-hari keluarnya darah haidl dan nifas, bukan dalam keadaan sehat. Minimal masa haid adalah sehari semalam, maksudnya kadar sehari semalam, yaitu dua puluh empat jam secara bersambung yang biasa -tidak harus darah keluar dengan deras- di dalam haild. Maksimal masa haidl adalah lima belas hari lima belas malam. Jika darah keluar melebihi masa di atas, maka disebut dengan darah istihadlah. Masa keluarnya darah haidl yang sering terjadi adalah enam atau tujuh hari. Yang dibuat pegangan dalam hal ini adalah riset / penelitian. 

(وأقل النفاس لحظة) وأريد بها زمن يسير وابتداء النفاس من انفصال الولد (وأكثره ستون يوماً وغالبه أربعون يوماً) والمعتمد في ذلك الاستقراء أيضاً (وأقل الطهر) الفاصل (بين الحيضتين خمسة عشر يوماً) واحترز المصنف بقوله بين الحيضتين عن الفاصل بين حيض ونفاس إذا قلنا بالأصح أن الحامل تحيض، فإنه يجوز أن يكون دون خمسة عشر يوماً (ولا حد لأكثره) أي الطهر فقد تمكث المرأة دهرها بلا حيض، أما غالب الطهر، فيعتبر بغالب الحيض فإن كان الحيض ستاً، فالطهر أربع وعشرون يوماً، أو كان الحيض سبعاً فالطهر ثلاثة وعشرون يوماً (وأقل زمن تحيض فيه المرأة) وفي بعض النسخ الجارية (تسع سنين) قمرية فلو رأته قبل تمام التسع بزمن يضيق عن حيض وطهر، فهو حيض وإلا فلا (وأقل الحمل) زمناً (ستة أشهر) ولحظتان (وأكثره) زمناً (أربع سنين وغالبه تسعة أشهر) والمعتمد في ذلك الوجود.

Minimal masa nifas adalah lahdhah (sebentar). Yang dikehendaki dengan lahdhah adalah masa sebentar. Dan awal masa nifas terhitung sejak keluarnya seluruh badan bayi. Maksimal masa nifas adalah enam puluh hari. Dan yang lumrah adalah empat puluh hari. Yang dibuat pegangan dalam semua itu juga penelitian. Minimal masa suci yang memisahkan di antara dua haidl adalah lima belas hari. Dengan perkataannya “pemisah di antara dua haidl”, mushannif mengecualikan masa pemisah di antara haidl dan nifas, ketika kita berpendapat dengan qaul al Ashah yang mengatakan bahwa sesungguhnya wanita hamil bisa mengeluarkan darah haidl. Karena sesungguhnya masa suci yang memisahkan haidl dan nifas bisa kurang dari lima belas hari. Tidak ada batas maksimal masa suci. Karena terkadang ada seorang wanita yang seumur hidup tidak pernah mengeluarkan darah haidl. Adapun lumrahnya masa suci disesuaikan dengan lumrahnya masa haidl. Jika masa haidlnya lumrah enam hari, maka masa sucinya dua puluh empat hari. Atau masa haidlnya lumrah tujuh hari, maka masa sucinya tiga belas hari. Minimal usia seorang wanita bisa mengeluarkan darah haid adalah sembilan tahun hijriyah / qomariyah. Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa “al jariyah (wanita)”. Sehingga, kalau ada seorang wanita yang melihat keluar darah sebelum sempurnanya usia sembilan tahun dengan selisih masa yang tidak cukup untuk masa minimal suci dan minimal haidl (sembilan tahun kurang 16 hari kurang sedikit), maka darah tersebut adalah darah haidl. Jika tidak demikian, maka bukan darah haidl. Minimal masa hamil adalah enam bulan lebih lahdhatain (dua masa sebentar) -waktu untuk jima’ dan melahirkan-. Maksimal masa hamil adalah empat tahun. Masa hamil yang biasa terjadi adalah sembilan bulan. Yang dibuat pedoman dalam hal ini adalah kejadian nyata.

(ويحرم بالحيض) وفي بعض النسخ ويحرم على الحائض (ثمانية أشياء) أحدها (الصلاة) فرضاً أو نفلاً وكذا سجدة التلاوة والشكر (و) الثاني (الصوم) فرضاً أو نفلاً (و) الثالث (قراءة القرآن و) الرابع (مس المصحف) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين (وحمله) إلا إذا خافت عليه (و) الخامس (دخول المسجد) للحائض إن خافت تلويثه (و) السادس (الطواف) فرضاً أو نفلاً (و) السابع (الوطء) ويسن لمن وطىء في إقبال الدم التصدق بدينار، ولمن وطىء في إدباره التصدق بنصف دينار (و) الثامن (الاستمتاع بما بين السرة والركبة) من المرأة فلا يحرم الاستمتاع بهما ولا بما فوقهما على المختار في شرح المهذب. ثم استطرد المصنف لذكر ما حقه أن يذكر فيما سبق في فصل موجب الغسل فقال (ويحرم على الجنب خمسة أشياء) أحدها (الصلاة) فرضاً أو نفلاً (و) الثاني (قراءة القرآن) غير منسوخ التلاوة آية كان أو حرفاً سراً أو جهراً، وخرج بالقرآن التوراة والإنجيل أما أذكار القرآن فتحل لا بقصد قرآن (و) الثالث (مس المصحف وحمله) من باب أولى (و) الرابع (الطواف) فرضاً أو نفلاً (و) الخامس (اللبث في المسجد) لجنب مسلم إلا لضرورة كمن احتلم في المسجد وتعذر خروجه منه لخوف على نفسه أو ماله، أما عبور المسجد ماراً به من غير مكث، فلا يحرم بل ولا يكره في الأصح، وتردد الجنب في المسجد بمنزلة اللبث، وخرج بالمسجد المدارس والربط،

Ada delapan perkara yang haram sebab haidl dan nifas. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “ada delapan perkara yang haram bagi wanita haidl”. Salah satunya adalah sholat fardlu atau sunnah. Begitu juga sujud tilawah dan sujud syukur. Yang kedua adalah puasa fardlu atau sunnah. yang ketiga adalah membaca Al Qur’an. Dan yang ke empat adalah memegang mushaf. Mushaf adalah nama benda yang bertuliskan firman Allah Swt di antara dua tepi. Dan haram membawa mushaf kecuali jika ia khawatir terhadapnya. Yang kelima adalah masuk masjid bagi wanita haidl jika khawatir mengotorinya. Yang ke enam adalah thowaf fardlu atau sunnah. Yang ke tujuh adalah wathi’ / bersenggama. Bagi orang yang wathi’ di waktu darah keluar deras, maka disunnahkan bersedekah satu dinar. Dan bagi orang yang wathi’ di waktu darah keluar tidak deras, maka disunnahkan bersedekah setengah dinar. Yang ke delapan adalah bersenang-senang dengan anggota wanita haidl yang berada di antara pusar dan lutut. Sehingga tidak haram bersenang-senang pada pusar dan lutut, dan pada anggota selain keduanya menurut qaul yang dipilih di dalam kitab syarh al Muhadzdab Kemudian mushannif menyertakan keterangan yang seharusnya lebih tepat dijelaskan di bab sebelumnya, yaitu fasal “hal-hal yang mewajibkan mandi”.Beliau berkata, “ada lima perkara yang haram bagi orang yang junub”. Salah satunya adalah sholat fardlu atau sunnah. Yang kedua adalah membaca Al Qur’an, maksudnya yang tidak dinusakh, baik satu ayat atau satu huruf, baik pelan-pelan ataupun keras. Dikecualikan dengan Al Qur’an, yaitu kitab Taurat dan Injil. Adapun dzikiran yang terdapat di dalam Al Qur’an, maka halal dibaca tidak dengan tujuan membaca Al Qur’an. Yang ketiga adalah menyentuh mushaf, dan terlebih membawanya. Yang ke empat adalah thowaf fardlu atau sunnah. Yang ke lima adalah berdiam diri di masjid bagi orang junub yang muslim. Kecuali karena darurat, seperti orang yang mimpi keluar sperma di dalam masjid dan dia sulit keluar dari masjid karena khawatir pada diri atau hartanya. Adapun lewat di dalam masjid tanpa berdiam diri, maka hukumnya tidak haram, bahkan tidak makruh bagi orang junub menurut pendapat al Ashah. Mondar mandir di dalam masjid yang dilakukan orang yang junub itu seperti berdiam diri di dalam masjid. Di kecualikan dengan masjid yaitu madrasah-madrasah dan pondok-pondok.

ثم استطرد المصنف أيضاً من أحكام الحدث الأكبر إلى أحكام الحدث الأصغر فقال (ويحرم على المحدث) حدثاً أصغر (ثلاثة أشياء الصلاة والطواف ومس المصحف وحمله) وكذا خريطة وصندوق فيهما مصحف ويحل حمله في أمتعة، وفي تفسير أكثر من القرآن، وفي دراهم ودنانير وخواتم نقش على كل منهما قرآن، ولا يمنع المميز المحدث من مس مصحف ولوح لدراسة 

Kemudian mushannif juga istithrad (menyertakan) dari menjelaskan hukum-hukum hadats besar pada hukum-hukum hadats kecil. Beliau berkata, haram bagi orang yang memiliki hadats untuk melakukan tiga perkara. Yaitu sholat, thowaf, memegang dan membawa mushaf. Begitu juga kantong dan peti yang di dalamnya terdapat mushaf. Hukumnya halal membawa mushaf bersamaan dengan harta benda, yang berada di dalam kitab tafsir yang jumlahnya lebih banyak dari pada Al Qur’annya, di dalam dinar, dirham, dan cincin yang berukirkan Al Qur’an. Seorang anak yang sudah tamyiz dan memiliki hadats, maka tidak dilarang menyentuh mushaf dan papan karena tujuan membaca dan belajar Al Qur’an.


Selanjutnya klik disini

Selasa, 15 Desember 2020

Tarkiban jurumiyah 3

بابُ المَفعولِ الَّذى لم يسمى فاعله
وَهُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَرْفُوعُ اَلَّذِي لَمْ يُذْكَرْ مَعَهُ فَاعِلُهُ. فَإِنْ كَانَ اَلْفِعْلُ مَاضِيًا ضُمَّ أَوَّلُهُ وَكُسِرَ مَا قَبْلَ آخِرِهِ، وَإِنْ كَانَ مُضَارِعًا ضُمَّ أَوَّلُهُ وَفُتِحَ مَا قَبْلَ آخِرِهِ. وَهُوَ عَلَى قِسْمَيْنِ ظَاهِرٍ، وَمُضْمَرٍ.
فَالظَّاهِرُ نَحْوُ قَوْلِكَ :"ضُرِبَ زَيْدٌ" وَ"يُضْرَبُ زَيْدٌ" وَ"أُكْرِمَ عَمْرٌو" وَ"يُكْرَمُ عَمْرٌو".

(بابُ) دادى خبر مبتدا محدوف كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، باب مضاف (المفعولِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر،  (الذى) كلمه اسم موصول مبنى سكون محل جر دادى صفة سكيڠ المفعول (لمْ) حرف نفى حرف جزم حرف قلب (يسمَّ) كلمه فعل مضارع مجهول دى فرينتاه سيريڠ لم دى فرنتاه جزم علامة جزمى حدف (فاعلُ) دادى نائب الفاعل كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر فاعل مضاف (هُ) مبنى ضمه محل جير مضاف اليه سجمله فعل نائب الفاعل لا محل لهل من الاعراب صلة موصول  وهو الذى  الرابط بينهما الضمير فى فاعله
(و) حرف استئناف (هوَ) كلمه اسم ضمير بارز منفصيل مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا (الاسمُ) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (المرفوع) دادى صفة سكيڠ الاسم كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (الذى) كلمه اسم موصول مبنى سكون محل رفع دادى صفة سكيڠ المرفوع (لمْ) حرف نفى حرف جزم حرف قلب (يذكرْ) كلمه فعل مضارع مجهول دى فرينتاه سيريڠ لم دى فرنتاه جزم علامة جزمى سكون (معَ) ظرف مكان كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر مع مضاف (هُ) مبنى ضمه محل جر مضاف اليه (فاعلُ) دادى نائب الفاعل كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر فاعل مضاف (هُ) مبنى ضمه محل جير مضاف اليه سجمله فعل نائب الفاعل لا محل لهل من الاعراب صلة موصول  وهو الذى  الرابط بينهما الضمير فى فاعله، (ف) فصحة (إن) حرف شرط جزم (كانَ) فعل ماضى ناقص مبنى فتح ظاهر (الفعلُ) دادى اسم كان كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (ماضيًا) دادى خبر كان كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر سجمله اسم كان خبر كان محل جزم دادى فعل شرط إن (ضمَّ) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح ظاهر (اولُ) دادى نائب الفاعل كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، اول مضاف (هُ) مبنى ضمه محل جر مضاف اليه سجمله فعل نائب الفاعل محل جزم دادى فعل جواب شرط إن (و) حرف عطف (كسرَ) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح ظاهر (ما) كلمه اسم موصول مبنى سكون محل رفع دادى نائب الفاعل (قبلَ) ظرف مكان كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر قبلَ مضاف (اخرِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، اخر مضاف (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه سجمله قبلَ ظرف مضاف اليه لا محل لها من الاعراب صلة موصول وهو ما.
(و) حرف عطف (إن) حرف شرط جزم (كانَ) فعل ماضى ناقص مبنى فتح ظاهر، فاعلى ضمير هو يعد على الفعل (مضارعًا) دادى خبر كان كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر سجمله اسم كان خبر كان محل جزم دادى فعل شرط إن (ضمَّ) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح ظاهر (اولُ) دادى نائب الفاعل كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، اول مضاف (هُ) مبنى ضمه محل جر مضاف اليه سجمله فعل نائب الفاعل محل جزم دادى فعل جواب شرط إن (و) حرف عطف (فتحَ) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح ظاهر (ما) كلمه اسم موصول مبنى سكون محل رفع دادى نائب الفاعل (قبلَ) ظرف مكان كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر قبلَ مضاف (اخرِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، اخر مضاف (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه سجمله قبلَ ظرف مضاف اليه لا محل لها من الاعراب صلة موصول وهو ما. (و) حرف استئناف (هوَ) كلمه اسم ضمير بارز منفصل مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا (على) حرف جر (قسمين) مجرور كود جر علامة جرى إيا كرنا اوليه ݢݢنتين سكيڠ كسره سبب كلمه اسم تثنية والنون عواض عن التنوين فى الاسم المفراد سجمله جر مجرور تعلوق مريڠ اسم كڠدين بواڠ تقديرى كائنٌ محل رفع دادى خبر مبتدا (ظاهرٍ) دادى بدل سكيڠ قسمين كود جر علامة جرى كسره ظاهر، (و) حرف عطف (مضمرٍ) معطوف مريڠ ظاهر كود جر علامة جرى كسره ظاهر، (ف) فاصحة (الظاهرُ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، (نحو) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نحو مضاف (قول) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، قول مضاف (كَ) مبنى فتح محل جر مضاف اليه ، (ضُرِبَ) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح ظاهر (زيدٌ) دادى نائب الفاعلى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، سجمله فعل نائب الفاعل محل نصب دادى مقول القول سكيڠ قولك، (و) حرف عطف (يُضْرَبُ) كلمه فعل مضارع مجهول بوتن دى فرنتاه كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، (زيدٌ) دادى نائب الفاعل كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، سجمله فعل الفاعل محل نصب معطوف مريڠ جملهى ضرب زيدٌ (و) حرف عطف (اُكرِمَ) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح ظاهر (عمرٌو) دادى نائب الفاعلى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر ، (و) حرف عطف (يُكرَمُ) كلمه فعل مضارع مجهول بوتن دى فرنتاه كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر،(عمرٌى) دادى نائب الفاعلى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر.

وَالْمُضْمَرُ اِثْنَا عَشَرَ، نَحْوُ قَوْلِكَ :"ضُرِبْتُ وَضُرِبْنَا، وَضُرِبْتَ، وَضُرِبْتِ، وَضُرِبْتُمَا، وَضُرِبْتُمْ، وَضُرِبْتُنَّ، وَضُرِبَ، وَضُرِبَتْ، وَضُرِبَا، وَضُرِبُوا، وضُربن".

(و) حرف استئناف (المضمرُ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، (اثنا عشرَ) كلمه اسم عداد مركب مبنى فتح محل رفع دادى خبرى (نحو) دادى خبر مبتدا محدوف كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نحو مضاف  (قول) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، قول مضاف (كَ) مبنى فتح محل جر مضاف اليه، (ضُربْ) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح مقدره اتوا مبنى على السكون العارض (تُ) مبنى ضمه محل رفع دادى نائب الفاعلى، (و) حرف عطف (ضربْ) فعل ماضى مجهول (نا) مبنى سكون محل رفع دادى نائب الفاعلى (و) حرف عطف (ضربْ) فعل ماضى مجهول (تَ) مبنى فتح محل رفع دادى نائب الفاعلى (و) حرف عطف (ضربْ) فعل ماضى مجهول (تِ) مبنى كسره محل رفع دادى نائب الفاعلى (و) حرف عطف (ضربْ) فعل ماضى مجهول (تُ) مبنى ضمه محل رفع دادى نائب الفاعلى (ميم) حرف عماد (الف) حرفٌ دالٌ على التثنيه (و) حرف عطف (ضربْ) فعل ماضى مجهول (تُ) مبنى ضمه محل رفع دادى نائب الفاعلى (ميم) علامة جمع مذكر (و) حرف عطف (ضربْ) فعل ماضى مجهول (تُ) مبنى ضمه محل رفع دادى نائب الفاعلى (نون) علامة جمع نسوة (و) حرف عطف (ضربَ) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح ظاهر نائب الفاعلى ضمير هو يعد على زيد (و) حرف عطف (ضربا) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح مقدرة إڠاتسى اخرى كرنا اراه حركة مناسبة الف ، الف ضمير تثنيه نائب الفاعلى ضمير هما يعد على الزيدان (و) حرف عطف (ضربُوا) كلمه فعل ماضى مجهول مبنى فتح مقدرة إڠاتسى اخرى كرنا اراه حركة مناسبة واو، واو علامة جمع مذكر سالم، نائب الفاعلى ضمير هم يعدون على زيدون، الف تندا فمبيدا انترا واو جمع لن واو عطف  (و) حرف عطف (ضربْ) فعل ماضى مجهول مبنى فتح مقدرة (ن) علامة جمع مؤنث نائب الفاعلى ضمير هن تعدن على هندات 

باب المبتدأ والخبر
اَلْمُبْتَدَأُ : هو اَلِاسْمُ اَلْمَرْفُوعُ اَلْعَارِي عَنْ اَلْعَوَامِلِ اَللَّفْظِيَّةِ. وَالْخَبَرُ : هُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَرْفُوعُ اَلْمُسْنَدُ إِلَيْهِ. نَحْوُ قَوْلِكَ "زَيْدٌ قَائِمٌ" وَ"الزَّيْدَانِ قَائِمَانِ" وَ"الزَّيْدُونَ قَائِمُونَ ". وَاَلْمُبْتَدَأُ قِسْمَانِ ظَاهِرٌ وَمُضْمَرٌ. 

(بابُ) دادى خبر مبتدا محدوف كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، باب مضاف (المبتدأِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر (و) حرف عطف (الخبرِ) معطوف مريڠ المبتدإ كود جر علامة جرى كسره ظاهر.
(المبتدأُ) دادى مبتدا اول كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (هوَ) كلمه اسم ضمير بارز منفصيل مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا ثانى(الاسمُ) دادى خبر مبتدا ثانى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر سجمله مبتدا ثانى خبر مبتدا ثانى محل رفع دادى خبر مبتدا اول الرابط بينهما الهاء من هو (المرفوعُ) دادى صفة سكيڠ الاسم كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (العارِي) دادى صفة ثانى سكيڠ الاسم كود رفع علامة رفعنى ضمه مقدره ياء موجودة دليلى جير (عن) حرف جر (العواملِ) مجرور كود جر علامة جرى كسره ظاهر سجمله جر مجرور تعلوق مريڠ العارى (اللفظيةِ) دادى صفة سكيڠ العوامل كود جر علامة جرى كسره ظاهر. (و) حرف عطف (الخبرُ) دادى مبتدا اول كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (هوَ) كلمه اسم ضمير بارز منفصيل مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا ثانى(الاسمُ) دادى خبر مبتدا ثانى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر سجمله مبتدا ثانى خبر مبتدا ثانى محل رفع دادى خبر مبتدا اول الرابط بينهما الهاء من هو (المرفوعُ) دادى صفة سكيڠ الاسم كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (المسندُ) دادى صفة ثانى سكيڠ الاسم كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (الى) حرف جر (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه سجمله جر مجرور تعلوق مريڠ المسند (نحوُ) دادى خبر مبتدا محدوف كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نحو مضاف (قولِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، قول مضاف (كَ) مبنى فتح محل جر مضاف اليه (زيدٌ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (قائمٌ) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (و) حرف عطف (الزيدانِ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى  الف سبب كلمه اسم تثنية والنون عواضٌ عن التنوين فى الاسم المفراد (قائمان) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى الف سبب كلمه اسم تثنية والنون عواضٌ عن التنوين فى الاسم المفراد (و) حرف عطف (الزيدُونَ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى واو سبب كلمه اسم جمع مذكر سالم والنون عواضٌ عن التنوين فى الاسم المفراد  (قائمونَ) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى  واو سبب كلمه اسم جمع مذكر سالم والنون عواضٌ عن التنوين فى الاسم المفراد. (و) حرف استئناف (المبتدأُ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (قسمانِ) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى الف سبب كلمه اسم تثنية والنون عواضٌ عن التنوين فى الاسم المفراد (ظاهر ٌ) دادى بدل سكيڠ قسمان كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (و) حرف عطف (مضمرٌ) كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر.

فَالظَّاهِرُ مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ. وَالْمُضْمَر اثْنَا عَشَر وَهِي : أَنَا وَنَحْنُ وَأَنْتَ وَأَنْتِ و وَأَنْتُمَا وَأْنُتُمْ وَأَنْتُنَّ وَهُوَ وَهِيَ وَهُمَا وَهُمْ وَهُنَّ. نَحْوُ قَوْلِكُ (أَنَا قَائِمٌ) و(نَحْنُ قَائِمُوْنَ) وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ. وَالْخَبَرُ قِسْمَانِ : مُفْرَدٌ وَغَيْرُ مُفْرَدٍ.

(ف) فصيحة (الظاهرُ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (ما) كلمه اسم موصول مبنى سكون محل رفع دادى خبر مبتدا (تقدمَ) كلمه فعل ماضى مبنى فتح ظاهر (ذكرُ) دادى فاعلى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، ذكر مضاف (هُ) مبنى ضمه محل جر مضاف اليه سجمله فعل فاعل لا محل لها من الاعراب صلة موصول وهو ما الرابط بينهما الهاء فى ذكره. (و)حرف عطف (المضمرُ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (اِثناعشرَ) كلمه اسم عداد مركب مبنى فتح محل رفع دادى خبر مبتدا (و) استئناف (هىَ) كلمه اسم ضمير بارز منفصيل مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا (انَا) مبنى سكون محل رفع دادى خبر مبتدا (و)حرف عطف (نحنُ) مبنى ضمه محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (انتَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (انتِ) مبنى كسره محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (انتما) مبنى سكون محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (انتمْ) مبنى سكون محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (انتنَّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (هوَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (هىَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (هما) مبنى سكون محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (همْ) مبنى سكون محل رفع معطوف مريڠ محلى انا (و)حرف عطف (هنَّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى انا. (نحو) دادى خبر مبتدا محدوف كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نحو مضاف (قول) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، قول مضاف (كَ) مبنى فتح محل جر مضاف اليه (انا) كلمه اسم ضمير بارز منفصيل مبنى سكون محل رفع دادى مبتدا (قائمٌ) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، سجمله مبتدا خبر محل نصب دادى مقول القول سكيڠ قولك (و) حرف عطف (نحنُ) كلمه اسم ضمير بارز منفصيل مبنى ضمه محل رفع دادى مبتدا (قائمونَ) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى واو سبب كلمه اسم جمع مذكر سالم والنون عواض عن التنوين فى الاسم المفراد افرادى قائم براڠ جمع مذكر سالمى قائمون.(و) حرف عطف (ما) كلمه اسم موصول مبنى سكون محل نصب معطوف مريڠ جملهى انا قائم، (اشبهَ) كلمه فعل ماضى مبنى فتح ظاهر فاعلى ضمير هو ي على ما سجمله فعل فاعل لا محل لها من الاعراب صلة موصولٍ وهو ما الرابط بينهما الضمير فيه (ذا) كلمه اسم اشاره مبنى سكون محل نصب دادى مفعول (لام) للبعد (كاف) حرف خطاب لا محل لها من الاعراب. (و) حرف استئناف (الخبرُ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (قسمانِ) كود رفع علامة رفعنى الف سبب كلمه اسم تثنية والنون عواض عن التنوين فى الاسم مفراد. (مفرادٌ) دادى بدل سكيڠ قسمان كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (و) حرف عطف (غيرُ) معطوف مريڠ مفراد كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، غير مضاف (مفردٍ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر.

فَالْمُفْرَدُ نَحْوُ قَوْلِكَ زَيْدٌ قَائِمٌ والزيدان قائمان والزيدون قائمون. وَغَيْرُ الْمُفْرَدِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءٍ : الْجَارُ وَالْمَجْرُوْرُ وَالْظَّرْفُ وَالْفِعْلُ مَعَ فَاعِلِهِ وَالْمُبْتَدَأُ مَعَ خَبَرِهِ نَحْوُ قَوْلِكَ : (زَيْدٌ فِيْ الْدَّارِ وَزَيْدٌ عِنْدَكَ وَزَيْدٌ قَامَ أَبُوْهُ وَزَيْدٌ جَارِيَتُهُ ذَاهِبَةٌ).

(ف) فاصحة (المفردُ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (نحوُ) دادى خبرى  كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نحو مضاف (قولِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، قول مضاف (كَ) مبنى فتح محل جر مضاف اليه (زيدٌ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (قائمٌ) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (و) حرف عطف (الزيدانِ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى  الف سبب كلمه اسم تثنية والنون عواضٌ عن التنوين فى الاسم المفراد (قائمان) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى الف سبب كلمه اسم تثنية والنون عواضٌ عن التنوين فى الاسم المفراد (و) حرف عطف (الزيدُونَ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى واو سبب كلمه اسم جمع مذكر سالم والنون عواضٌ عن التنوين فى الاسم المفراد  (قائمونَ) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى  واو سبب كلمه اسم جمع مذكر سالم والنون عواضٌ عن التنوين فى الاسم المفراد. (و)حرف عطف (غيرُ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (اربعة) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، اربعة مضاف (اشياءَ) مضاف اليه كود جر علامة جرى فتح سبب كلمه اسم غير منصريف كچڮاه دين نيڠ عِلة، علتى الف تأنيث ممدوده، (الجارُ) دادى بدل سكيڠ اربعة كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (و)حرف عطف (المجرورُ) معطوف مريڠ الجار كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (و) حرف عطف (الظرفُ) معطوف مريڠ الجار كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (و)حرف عطف (الفعلُ) معطوف مريڠ الجار كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (معَ) ظرف مكان كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر ، مع مضاف (فاعلِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، فاعل مضاف (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه (و)حرف عطف (المبتداءُ) معطوف مريڠ الجار كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (معَ) ظرف مكان كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر ، مع مضاف (خبرِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، خبر مضاف (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه. (نحوُ) دادى خبر مبتدا محدوف  كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نحو مضاف (قولِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر، قول مضاف (كَ) مبنى فتح محل جر مضاف اليه (زيدٌ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (فى) حرف جر (الدارِ) مجرور كود جر علامة جرى كسره ظاهر، سجمله جر مجرور تعلوق مريڠ كَائِنٌ محل رفع دادى خبر مبتدا (و) حرف عطف (زيدٌ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (عندَ) ظرف مكان كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر، عند مضاف (كَ) مبنى فتح محل جر مضاف اليه، سجمله عند ظرف مضاف اليه تعلوق مريڠ كائنٌ محل رفع دادى خبر مبتدا ، (و) حرف عطف (زيدٌ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (قامَ) كلمه فعل ماضى مبنى فتح ظاهر (ابوُ) دادى فاعلى كود رفع علامة رفعنى واو سبب كلمه اسم اسماء الخمسة، ابو مضاف (هُ) مبنى ضمه محل جر مضاف اليه ، سجمله فعل فاعل محل رفع دادى خبر مبتدا (و) حرف عطف (زيدٌ) دادى مبتدا اول كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (جارية) دادى مبتدا ثانى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، جارية مضاف (هُ) مبنى ضمه محل جر مضاف اليه (داهبةٌ) دادى خبر مبتدا ثانى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، سجمله مبتدا ثانى خبر مبتدا ثانى محل رفع دادى خبر مبتدا اول الرابط بينهما الهاء من جاريته.



بَابُ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَى الْمُبْتَدَاءِ وَالخَبَرِ 
وَهِيَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ :كَانَ وَأَخَوَاتُهَا وَإِنَّ وَأَخَوَاتُهَا وَظَنَنْتُ وَأَخَوَاتُهَا

(بابُ) دادى خبر مبتدا محدوف تقديرى اي هذا باب كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، باب مضاف (العواملِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر (الدخلةِ) دادى صفة سكيڠ العوامل كود جر علامة جرى كسره ظاهر (على) حرف جر (المبتداءِ) مجرور كود جر علامة جرى كسره ظاهر (و) حرف عطف (الخبرِ) معطوف مريڠ المبتداء كود جر علامة جرى كسره ظاهر.
(و) حرف استئناف (هىَ) كلمه اسم ضمير بارز منفصل مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا (كانَ) مبنى فتح محل رفع دادى خبر مبتدا (و) حرف عطف (اخواتُ) معطوف مريڠ محلى كان كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، اخوات مضاف (ها) مبنى سكون محل جر مضاف اليه (و) حرف عطف (إنَّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كان (و) حرف عطف (اخواتُ) معطوف مريڠ محلى إن كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، اخوات مضاف (ها) مبنى سكون محل جر مضاف اليه (و) حرف عطف   (ظننتُ) مبنى ضمه محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (اخواتُ) معطوف مريڠ محلى ظننت كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، اخوات مضاف (ها) مبنى سكون محل جر مضاف اليه. 

فَأَمَّا كَانَ وَأَخَوَاتُهَا : فَإِنَّهَا تَرْفَعُ اَلِاسْمَ، وَتَنْصِبُ اَلْخَبَرَ، وَهِيَ كَانَ، وَأَمْسَى، وَأَصْبَحَ، وَأَضْحَى، وَظَلَّ، وَبَاتَ، وَصَارَ، وَلَيْسَ، وَمَا زَالَ، وَمَا اِنْفَكَّ، وَمَا فَتِئَ، وَمَا بَرِحَ، وَمَا دَامَ، وَمَا تَصَرَّفَ مِنْهَا نَحْوُ كَانَ، وَيَكُونُ، وَكُنْ، وَأَصْبَحَ وَيُصْبِحُ وَأَصْبِحْ، تَقُولُ ”كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا، وَلَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا“ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.
(ف) فصحة (امّا) حرف شرطٍ وتفصيلٍ وتوكيد متضمن بمعنى شرطٍ تحتاج الى الجواب الجواب مقرونة بالفاء (كانَ) مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا (و) حرف عطف (اخواتُ) معطوف مريڠ محلى كان كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، اخوات مضاف (ها) مبنى سكون محل جر مضاف اليه (ف) واقعة جواب امّا (انَّ) حرف توكيد عملى إنَّ ڠناصبكن اسم ڠروفاككن خبر (هَا) مبنى سكون محل نصب دادى اسم ان (ترفعُ) كلمه فعل مضارع بوتن دى فرنتاه كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، فاعلى ضمير هى تعد على كان سجمله فعل فاعل محل رفع دادى خبر ان سجمله اسم ان خبر ان محل رفع دادى خبر مبتدا سجمله خبر مبتدا محل جزم دادى فعل شرط امّا سجمله اما فعل جواب شرط اما محل نصب دادى مقول القول مقدر (الاسمَ) دادى مفعولى كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر (و) حرف عطف (تنصبُ) كلمه فعل مضارع بوتن دى فرنتاه كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، فاعلى ضمير هى تعد على كان سجمله فعل فاعل محل رفع معطوف مريڠ جملهى ترفع (الخبرَ) دادى مفعولى كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر. (و) حرف استئناف (هىَ) كلمه اسم ضمير بارز منفصل مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا (كانَ) مبنى فتح محل رفع دادى خبر مبتدا (و) حرف عطف (امسَى) مبنى سكون محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (امسَى) مبنى سكون محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (اصبحَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (اضحٰى) مبنى سكون محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (ظلَّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (باتَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (صارَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (ليسَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (مازال) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (ما فتئَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (ماانفك) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (مابرحَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (ما دامَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ  (و) حرف عطف (ما) كلمه اسم موصول مبنى سكون محل رفع معطوف مريڠ محلى كانَ (تصرفَ) كلمه فعل ماضى مبنى فتح ظاهر، فاعلى ضمير هو يعد على ما سجمله فعل فاعل لا محل لها من الاعراب صلة موصول وهو ما (من) حرف جر (ها) مبنى سكون محل جر مجرور سجمله جر مجرور تعلوق مريڠ تصرف.(نحوُ) دادى خبر مبتدا محدوف كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نحو مضاف (كانَ) مبنى فتح محل جر مضاف اليه (و) حرف عطف (يكونُ) مبنى ضمه محل جر معطوف مريڠ محلى كانَ
(و) حرف عطف (كنْ) مبنى سكون محل جر معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (اصبحَ) مبنى فتح محل جر معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (يصبحُ) مبنى ضمه محل جر معطوف مريڠ محلى كانَ (و) حرف عطف (اصبحْ) مبنى سكون محل جر معطوف مريڠ محلى كانَ (تقولُ) كلمه فعل مضارع بوتن كفرينته كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر فاعلى ضمير انت (كانَ) كلمه فعل ماضى ناقص عملى كانَ رفع اسم نصب خبر (زيدٌ) دادى اسم كانَ كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (قائمًا) دادى خبر كانَ كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر سجمله اسم كانَ خبر كانَ محل نصب دادى مقول القول سكيڠ تقول  (و) حرف عطف  (ليسَ) كلمه فعل ماضى ناقص عملى ليس رفع اسم نصب خبر (عمرٌو) دادى اسم ليس كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (شاخصًا) دادى خبر ليس كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر سجمله اسم ليس خبر ليس محل نصب معطوف مريڠ جملهى كانَ زيد قائما (و) حرف عطف (ما) كلمه اسم موصول مبنى سكون محل نصب معطوف مريڠ جملهى كانَ زيد قائما (اشبه) كلمه فعل ماضى مبنى فتح ظاهر فاعلى ضمير هو يعد على ما سجمله فعل فاعل لا محل لها من الاعراب صلة موصول وهو ما (ذا) كلمه اسم اشاره مبنى سكون محل نصب دادى مفعول (ل) للبعد (ك) حرف خطاب لا محل لها من الاعراب.


وَأَمَّا إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا : فَإِنَّهَا تَنْصِبُ الاسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ، وَهِيَ: إِنَّ، وَأَنَّ، وَلَكِنَّ، وَكَأَنَّ، وَلَيْتَ، وَلَعَلَّ، تَقُولُ: إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ، وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ. وَمَعْنَى إِنَّ وَأَنَّ لِلتَّوْكِيدِ، وَلَكِنَّ لِلِاسْتِدْرَاكِ، وَكَأَنَّ لِلتَّشْبِيهِ، وَلَيْتَ لِلتَّمَنِّي، وَلَعَلَّ لِلتَّرَجِي وَالتَّوَقُعِ.

(و) حرف عطف (امّا) حرف شرطٍ وتفصيلٍ وتوكيد متضمن بمعنى شرطٍ تحتاج الى الجواب الجواب مقرونة بالفاء (إنَّ) مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا (و) حرف عطف (اخواتُ) معطوف مريڠ محلى إنَ كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، اخوات مضاف (ها) مبنى سكون محل جر مضاف اليه (ف) واقعة جواب امّا (انَّ) حرف توكيد عملى إنَّ ڠناصبكن اسم ڠروفاككن خبر (هَا) مبنى سكون محل نصب دادى اسم ان (تنصبُ) كلمه فعل مضارع بوتن دى فرنتاه كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، فاعلى ضمير هى تعد على إنَ سجمله فعل فاعل محل رفع دادى خبر ان سجمله اسم ان خبر ان محل رفع دادى خبر مبتدا سجمله خبر مبتدا محل جزم دادى فعل شرط امّا سجمله اما فعل جواب شرط اما محل نصب معطوف مريڠ جملهى فاما كانَ الخ (الاسمَ) دادى مفعولى كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر (و) حرف عطف (ترفعُ) كلمه فعل مضارع بوتن دى فرنتاه كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، فاعلى ضمير هى تعد على إنَ سجمله فعل فاعل محل رفع معطوف مريڠ جملهى تنصب (الخبرَ) دادى مفعولى كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر. (و) حرف استئناف (هىَ) كلمه اسم ضمير بارز منفصل مبنى فتح محل رفع دادى مبتدا (إنَ) مبنى فتح محل رفع دادى خبر مبتدا (و) حرف عطف (أنَّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ  (و) حرف عطف (كأنّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ (و) حرف عطف (لكنّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ (و) حرف عطف (ليتَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ (و) حرف عطف (لعلَّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ (تقولُ) كلمه فعل مضارع بوتن كفرينته كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر فاعلى ضمير انت (إنَ) حرف توكيد عملى إنَ نصب اسم رفع خبر (زيدًا) دادى اسم إن كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر (قائمٌ) دادى خبر ان كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر سجمله اسم انَ خبر انَ محل نصب دادى مقول القول سكيڠ تقول (و) حرف عطف (ليتَ) حرف تَمَنِّى عملى ليت نصب اسم رفع خبر (عمرًا) دادى اسم ليت كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر (شاخصٌ) دادى خبر ليت كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر سجمله اسم ليا خبر ليت محل نصب معطوف مريڠ جملهى ان زيدا قائم (و) حرف استئناف (معنَى) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه مقدره الف موجوده دليلى جبار، معنى مضاف (انَ) مبنى فتح محل جر مضاف اليه (و) حرف عطف (أنّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ (لام) حرف جر زائد (التوكيدِ) دادى خبر ى كود رفع علامة رفعنى ضمه مقدره إڠاتسى اخرى كرنا حركة لان حرف جر زائد، (و) حرف عطف( لكنَّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ وان(لام) حرف جر زائد (الاستدراكِ) دادى خبر ى كود رفع علامة رفعنى ضمه مقدره إڠاتسى اخرى كرنا حركة لان حرف جر زائد، (و) حرف عطف( كأنَّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ وان (لام) حرف جر زائد (التشبيهِ) دادى خبر ى كود رفع علامة رفعنى ضمه مقدره إڠاتسى اخرى كرنا حركة لان حرف جر زائد، (و) حرف عطف( ليتَ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ وان (لام) حرف جر زائد (التمنّى) دادى خبر ى كود رفع علامة رفعنى ضمه مقدره إڠاتسى اخرى كرنا حركة لان حرف جر زائد، (و) حرف عطف( لعلَّ) مبنى فتح محل رفع معطوف مريڠ محلى إنَ وان(لام) حرف جر زائد (الترجى) دادى خبر ى كود رفع علامة رفعنى ضمه مقدره إڠاتسى اخرى كرنا حركة لان حرف جر زائد، (و) حرف عطف (التوقعِ) معطوف مريڠ الترجى كود رفع علامة رفعنى ضمه مقدره إڠاتسى اخرى كرنا حركة لان حرف جر زائد، 

وَأَمَّا ظَنَنْتُ وَأَخَوَاتُهَا : فَإِنَّهَا تَنْصِبُ الْمُبْتَدَأَ وَالْخَبَرَ عَلَى أَنَّهُمَا مَفْعُولَانِ لَهَا، وَهِيَ: ظَنَنْتُ، وَحَسِبْتُ، وَخِلْتُ، وَزَعَمْتُ، وَرَأَيْتُ، وَعَلِمْتُ، وَوَجَدْتُ، وَاتَّخَذْتُ، وَجَعَلْتُ، وَسَمِعْتُ؛ تَقُولُ: ظَنَنْتُ زَيْدًا قَائِمًا، وَرَأَيْتُ عَمْرًا شاخصًا، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.


(و) حرف استئناف (امّا) حرف شرطٍ وتفصيلٍ وتوكيد متضمن بمعنى شرطٍ تحتاج الى الجواب الجواب مقرونة بالفاء (ظننتُ) مبنى ضمه محل رفع دادى مبتدا (و) حرف عطف (اخواتُ) معطوف مريڠ محلى ظننت كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، اخوات مضاف (ها) مبنى سكون محل جر مضاف اليه (ف) واقعة جواب امّا (انَّ) حرف توكيد عملى إنَّ ڠناصبكن اسم ڠروفاككن خبر (هَا) مبنى سكون محل نصب دادى اسم ان (تنصبُ) كلمه فعل مضارع بوتن دى فرنتاه كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، فاعلى ضمير هى تعد على إنَ سجمله فعل فاعل محل رفع دادى خبر ان سجمله اسم ان خبر ان محل رفع دادى خبر مبتدا سجمله خبر مبتدا محل جزم دادى فعل شرط امّا سجمله اما فعل جواب شرط اما لا محل لها من الاعراب دادوس جمله استئناف بيانى (المبتداءَ) دادى مفعولى كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر (و) حرف عطف (الخبرَ) معطوف مريڠ المبتداء كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (على) حرف جر (انَّ) حرف توكيد عملى ان نصب اسم رفع خبر (هُ) مبنى ضمه محل نصب دادى اسم ان (م) حرف عماد (ـا) حرفٌ دالٌ على التثنية (مفعولانِ) دادى خبر ان كود رفع علامة رفعنى الف سبب كلمه اسم تثنية والنون عواض عن التنوين فى الاسم المفراد سجمله اسم ان خبر ان محل جر مجرور سجمله جر مجرور تعلوق مريڠ تنصب(لها) لام، حرف جر ، ها، مبنى سكون محل جر مجرور سجمله جر مجرور تعلوق مريڠ مفعولان. (تقولُ) كلمه فعل مضارع بوتن دى فرنتاه كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، فاعلى ضمير انت (ظننْ) فعل ماضى مبنى على السكونِ العارض (تُ) مبنى ضمه محل رفع دادى فاعل ، سجمله فعل فاعل محل نصب دادى مقول القول سكيڠ تقول (زيدًا) دادى مفعول اول كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر (منطلقًا) دادى مفعول ثانى كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر . (و) حرف عطف (خلْ) فعل ماضى مبنى على السكونِ العارض (تُ) مبنى ضمه محل رفع دادى فاعل ، سجمله فعل فاعل محل نصب معطوف مريڠ جملهى ظننت (عمرًا) دادى مفعول اول كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر (شاخصًا) دادى مفعول ثانى كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر، (و) حرف عطف(ما) كلمه اسم موصول مبنى سكون محل نصب معطوف مريڠ جملهى ظننت (اشبهَ) كلمه فعل ماضى مبنى فتح ظاهر، فاعلى ضمير هو يعد على ما سجمله فعل فاعل لا محل لها من الاعراب صلة موصول وهو ما الرابط بينهما الضمير فيه، (ذا) كلمه اسم اشاره مبنى سكون محل نصب دادى مفعول (ل)لام للبعد (ك)كاف حرف خطاب لا محل لها من الاعراب.

باب النعت
اَلنَّعْتُ تَابِعٌ لِلْمَنْعُوتِ فِي رَفْعِهِ وَنَصْبِهِ وَخَفْضِهِ، وَتَعْرِيفِهِ وَتَنْكِيرِهِ; تَقُولُ : قَامَ زَيْدٌ اَلْعَاقِلُ، وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْعَاقِلَ، وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ اَلْعَاقِلِ.

(بابُ) دادى خبر مبتدا محدوف كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، باب مضاف (النعتِ) مضاف اليه كود جر علامة جرى كسره ظاهر. (النعتُ) دادى مبتدا كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (تابعٌ) دادى خبرى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (ل) حرف جر (المنعوتِ) مجرور كود جر علامة جرى كسره ظاهر ، سجمله جر مجرور تعلوق مريڠ تابع (فى) حرف جر (رفعِ) مجرور كود جر علامة جرى كسره ظاهر، رفع مضاف (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه (و) حرف عطف (نصبِ) معطوف مريڠ رفع كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نصب مضاف (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه (و) حرف عطف (خفضِ) معطوف مريڠ رفع كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نصب مضاف (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه (و) حرف عطف (تعريفِ) معطوف مريڠ رفع كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نصب مضاف (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه  (و) حرف عطف (تنكيرِ) معطوف مريڠ رفع كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، نصب مضاف (هِ) مبنى كسره محل جر مضاف اليه (تقولُ) كلمه فعل مضارع بوتن دى فرنتاه كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، فاعلى ضمير انت، (قامَ) كلمه فعل ماضى مبنى فتح ظاهر (زيدٌ) دادى فاعلى كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر (العاقلُ) دادى صفة سكيڠ زيدٌ كود رفع علامة رفعنى ضمه ظاهر، صفتى صفة حقيقى، صفة حقيقى ايكو سمفون مشهور انتوك شرط ففات سكيڠ سفولوه سيجى انتوك رفع ڠبوواڠ نصب لن جر، اووليه شرط سيجى سكيڠ تلو، فيڠدو انتوك اِفراد ڠبوواڠ تثنية لن جمع  اووليه شرط رورو سكيڠ ننم فيڠتلو انتوك تذكير ڠبوواڠ تأنيث اووليه شرط تلو سكيڠ وولو، فيڠفات انتوك تعريف ڠبوواڠ تنكير اووليه شرط ففات سكيڠ سفولوه (و) حرف عطف (راي) فعل (تُ) مبنى ضمه محل رفع دادى فاعل (زيدً) دادى مفعولى كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر (العاقلَ)دادى صفة سكيڠ زيدًا كود نصب علامة نصبى فتح ظاهر ، صفتى صفة حقيقى، (و) حرف عطف (مررْ) فعل (تُ) مبنى ضمه محل رفع دادى فاعل (ب) حرف جر (زيدٍ) مجرور كود جر علامة جرى كسره ظاهر (العاقلِ) دادى صفة سكيڠ زيدٍ كود جر علامة جرى كسره ظاهر، صفتى صفة خقيقى، 

وَالْمَعْرِفَةُ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ : اَلِاسْمُ اَلْمُضْمَرُ نَحْوَ أَنَا وَأَنْتَ، وَالِاسْمُ اَلْعَلَمُ نَحْوَ زَيْدٍ وَمَكَّةَ، وَالِاسْمُ اَلْمُبْهَمُ نَحْوَ هَذَا، وَهَذِهِ، وَهَؤُلَاءِ، وَالِاسْمُ اَلَّذِي فِيهِ اَلْأَلِفُ وَاللَّامُ نَحْوُ اَلرَّجُلُ وَالْغُلَامُ، وَمَا أُضِيفَ إِلَى وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ اَلْأَرْبَعَةِ.

وَالنَّكِرَةُ : كُلُّ اِسْمٍ شَائِعٍ فِي جِنْسِهِ لَا يَخْتَصُّ بِهِ وَاحِدٌ دُونَ آخَرَ، وَتَقْرِيبُهُ كُلُّ مَا صَلَحَ دُخُولُ اَلْأَلِفِ وَاللَّامِ عَلَيْهِ، نَحْوُ اَلرَّجُل وَالْغلام.
باب العطف
وَحُرُوفُ اَلْعَطْفِ عَشَرَةٌ وَهِيَ : اَلْوَاوُ، وَالْفَاءُ، وَثُمَّ، وَأَوْ، وَأَمْ، وَإِمَّا، وَبَلْ، وَلَا، وَلَكِنْ، وَحَتَّى فِي بَعْضِ اَلْمَوَاضِعِ. فَإِنْ عَطَفتَ بها عَلَى مَرْفُوعٍ رَفَعتَ أَوْ عَلَى مَنْصُوبٍ نَصَبتَ، أَوْ عَلَى مَخْفُوضٍ خَفِضتَ، أَوْ عَلَى مَجْزُومٍ جَزَمتَ، تَقُولُ ”قَامَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو، وَرَأَيْتُ زَيْدًا وَعَمْرًا، وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَعَمْرٍو، وَزَيْدٌ لَمْ يَقُمْ وَلَمْ يَقْعُدْ“.
باب التوكيد
اَلتَّوْكِيدُ : تابع لِلْمُؤَكَّدِ فِي رَفْعِهِ وَنَصْبِهِ وَخَفْضِهِ وَتَعْرِيفِهِ. وَيَكُونُ بِأَلْفَاظٍ مَعْلُومَةٍ، وَهِيَ اَلنَّفْسُ، وَالْعَيْنُ، وَكُلُّ، وَأَجْمَعُ، وَتَوَابِعُ أَجْمَعَ، وَهِيَ أَكْتَعُ، وَأَبْتَعُ، وَأَبْصَعُ، تَقُولُ قَامَ زَيْدٌ نَفْسُهُ، وَرَأَيْتُ اَلْقَوْمَ كُلَّهُمْ، وَمَرَرْتُ بِالْقَوْمِ أَجْمَعِينَ.
باب البدل
إِذَا أُبْدِلَ اِسْمٌ مِنْ اِسْمٍ أَوْ فِعْلٌ مِنْ فِعْلٍ تَبِعَهُ فِي جَمِيعِ إِعْرَابِهِ.
وَهُوَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ : بَدَلُ اَلشَّيْءِ مِنْ اَلشَّيْءِ، وَبَدَلُ اَلْبَعْضِ مِنْ اَلْكُلِّ، وَبَدَلُ اَلِاشْتِمَالِ، وَبَدَلُ اَلْغَلَطِ، نَحْوُ قَوْلِكَ ”قَامَ زَيْدٌ أَخُوكَ، وَأَكَلْتُ اَلرَّغِيفَ ثُلُثَهُ، وَنَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ، وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَ“، أَرَدْتَ أَنْ تَقُولَ  اَلْفَرَسَ فَغَلِطْتَ فَأَبْدَلْتَ زَيْدًا مِنْه.ُ

Kamis, 26 November 2020

taq4

Fasal Istinjak dan Adab Buang Air Besar

 ‏( ﻓﺼﻞ ‏) : ﻓﻲ ﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ ﻭﺁﺩﺍﺏ ﻗﺎﺿﻲ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ‏( ﻭﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ ‏) ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﻧﺠﻮﺕ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺃﻱ ﻗﻄﻌﺘﻪ، ﻓﻜﺄﻥ ﺍﻟﻤﺴﺘﻨﺠﻲ ﻳﻘﻄﻊ ﺑﻪ ﺍﻷﺫﻯ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻪ ‏( ﻭﺍﺟﺐ ﻣﻦ ‏) ﺧﺮﻭﺝ ‏(ﺍﻟﺒﻮﻝ ﻭﺍﻟﻐﺎﺋﻂ ‏) ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺃﻭ ﺍﻟﺤﺠﺮ ﻭﻣﺎ ﻓﻲ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺟﺎﻣﺪ ﻃﺎﻫﺮ ﻗﺎﻟﻊ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﺘﺮﻡ ‏( ﻭ ‏) ﻟﻜﻦ ‏( ﺍﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻨﺠﻲ ‏) ﺃﻭﻻً ‏( ﺑﺎﻷﺣﺠﺎﺭ ﺛﻢ ﻳﺘﺒﻌﻬﺎ ‏) ﺛﺎﻧﻴﺎً ‏( ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ‏) ﻭﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺛﻼﺙ ﻣﺴﺤﺎﺕ، ﻭﻟﻮ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺃﻃﺮﺍﻑ ﺣﺠﺮ ﻭﺍﺣﺪ ‏( ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻘﺘﺼﺮ ‏) ﺍﻟﻤﺴﺘﻨﺠﻲ ‏(ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺣﺠﺎﺭ ﻳﻨﻘﻲ ﺑﻬﻦ ﺍﻟﻤﺤﻞ ‏) ﺇﻥ ﺣﺼﻞ ﺍﻹﻧﻘﺎﺀ ﺑﻬﺎ، ﻭﺇﻻ ﺯﺍﺩ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﻘﻰ، ﻭﻳﺴﻦ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺘﺜﻠﻴﺚ ‏( ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻻﻗﺘﺼﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﺎﻟﻤﺎﺀ ﺃﻓﻀﻞ ‏) ﻷﻧﻪ ﻳﺰﻳﻞ ﻋﻴﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﺃﺛﺮﻫﺎ، ﻭﺷﺮﻁ ﺃﺟﺰﺍﺀ ﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ ﺑﺎﻟﺤﺠﺮ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺠﻒ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﺍﻟﻨﺠﺲ، ﻭﻻ ﻳﻨﺘﻘﻞ ﻋﻦ ﻣﺤﻞ ﺧﺮﻭﺟﻪ، ﻭﻻ ﻳﻄﺮﺃ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﺠﺲ ﺁﺧﺮ ﺃﺟﻨﺒﻲ ﻋﻨﻪ، ﻓﺈﻥ ﺍﻧﺘﻔﻰ ﺷﺮﻁ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺗﻌﻴﻦ ﺍﻟﻤﺎﺀ 

Fasal
 menjelaskan tentang istinja’ dan etika-etika orang yang buang hajat. Istinja’, yang diambil dari kata “najautus syai’a ai qhatha’tuhu” (aku memutus sesuatu) karena seakan- akan orang yang melakukan istinja’ telah memutus kotoran dari dirinya dengan istinja’ tersebut, hukumnya adalah wajib dilakukan sebab keluarnya air kencing atau air besar dengan menggunakan air atau batu dan barang-barang yang semakna dengan batu, yaitu setiap benda padat yang suci, bisa menghilangkan kotoran dan tidak dimuliakan oleh syareat. Akan tetapi yang lebih utama adalah pertama istinja’ dengan batu, kemudian kedua diikuti dengan istija’ menggunakan air. Dan yang wajib -ketika istinja’ dengan batu- adalah tiga kali usapan, walaupun dengan tiga sudutnya batu satu. Bagi orang yang istinja’, diperkenankan hanya menggunakan air atau tiga batu yang digunakan untuk membersihkan tempat najis, jika tempat tersebut sudah bisa bersih dengan tiga batu. Jika belum bersih, maka ditambah usapannya hingga tempatnya bersih. Dan setelah itu -setelah bersih- disunnahkan untuk mengulangi tiga kali. Ketika ia hanya ingin menggunakan salah satunya, maka yang lebih utama adalah menggunkan air. Karena sesungguhnya air bisa menghilangkan najisnya sekaligus sisa-sisanya. Syarat istinja’ menggunakan batu bisa mencukupi adalah najis yang keluar belum kering, tidak berpindah dari tempat keluarnya dan tidak terkena najis lain yang tidak sejenis (ajnabi). Jika salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka harus istinja’ menggunakan air.

‏( ﻭﻳﺠﺘﻨﺐ ‏) ﻭﺟﻮﺑﺎً ﻗﺎﺿﻲ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ‏( ﺍﺳﺘﻘﺒﺎﻝ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ‏) ﺍﻵﻥ ﻭﻫﻲ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ‏( ﻭﺍﺳﺘﺪﺑﺎﺭﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﺮﺍﺀ ‏) ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺳﺎﺗﺮ ﺃﻭ ﻛﺎﻥ، ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻠﻎ ﺛﻠﺜﻲ ﺫﺭﺍﻉ ﺃﻭ ﺑﻠﻐﻬﻤﺎ، ﻭﺑﻌﺪ ﻋﻨﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺫﺭﻉ ﺑﺬﺭﺍﻉ ﺍﻵﺩﻣﻲ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ، ﻭﺍﻟﺒﻨﻴﺎﻥ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﻛﺎﻟﺼﺤﺮﺍﺀ ﺑﺎﻟﺸﺮﻁ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ، ﺇﻻ ﺍﻟﺒﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﻌﺪ ﻟﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻓﻼ ﺣﺮﻣﺔ ﻓﻴﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎً، ﻭﺧﺮﺝ ﺑﻘﻮﻟﻨﺎ ﺍﻵﻥ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﺔ ﺃﻭﻻً، ﻛﺒﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ ﻓﺎﺳﺘﻘﺒﺎﻟﻪ ﻭﺍﺳﺘﺪﺑﺎﺭﻩ ﻣﻜﺮﻭﻩ ‏( ﻭﻳﺠﺘﻨﺐ ‏) ﺃﺩﺑﺎً ﻗﺎﺿﻲ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ‏( ﺍﻟﺒﻮﻝ ‏) ﻭﺍﻟﻐﺎﺋﻂ ‏( ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﻛﺪ ‏) ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺠﺎﺭﻱ ﻓﻴﻜﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﻣﻨﻪ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ، ﻟﻜﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﺍﺟﺘﻨﺎﺑﻪ، ﻭﺑﺤﺚ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﺟﺎﺭﻳﺎً ﺃﻭ ﺭﺍﻛﺪﺍً ‏(ﻭ ‏) ﻳﺠﺘﻨﺐ ﺃﻳﻀﺎً ﺍﻟﺒﻮﻝ ﻭﺍﻟﻐﺎﺋﻂ ‏(ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺸﺠﺮﺓ ﺍﻟﻤﺜﻤﺮﺓ ‏) ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺜﻤﺮﺓ ﻭﻏﻴﺮﻩ 

wajib untuk menghidar dari menghadap dan membelakangi kiblat yang sekarang, yaitu Ka’bah. Jika antara dia dan kiblat tidak ada satir, atau ada satir namun ukurannya tidak mencapai 2/3 dzira’, atau mencapai 2/3 dzira’ namun jaraknya dari dia lebih dari tiga dzira’ dengan ukuran dzira’nya anak Adam, sebagaimana yang diungkapkan oleh sebagian ulama’. Dalam hal ini, hukum buang hajat di dalam bangunan sama seperti di tanah lapang yaitu dengan syarat yang telah dijelaskan, kecuali bangunan yang memang disediakan untuk buang hajat, maka tidak ada hukum haram secara mutlak di sana. Dengan ucapanku “kiblat yang sekarang”, mengecualikan tempat yang menjadi kiblat terdahulu seperti Baitul Maqdis, maka hukum menghadap dan membelakanginya adalah makruh. Etika Yang Sunnah Bagi Orang Yang Buang Hajat Bagi orang yang buang hajat, sunnah menghindari kencing dan berak di air yang diam tidak mengalir. Adapun air yang mengalir, maka di makruhkan buang hajat di air mengalir yang sedikit tidak yang banyak, akan tetapi yang lebih utama adalah menghindarinya. Namun imam an Nawawi membahas bahwa hukumnya haram buang hajat di air yang sedikit, baik yang mengalir atau diam. Dan juga sunnah bagi orang yang buat hajat untuk menghindari kencing dan berak di bawah pohon yang bisa berbuah, baik di waktu ada buahnya ataupun tidak. 

‏(ﻭ ‏) ﻳﺠﺘﻨﺐ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ‏( ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ‏) ﺍﻟﻤﺴﻠﻮﻙ ﻟﻠﻨﺎﺱ ‏(ﻭ ‏) ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻊ ‏(ﺍﻟﻈﻞ ‏) ﺻﻴﻔﺎً ﻭﻓﻲ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺷﺘﺎﺀ ‏( ﻭ ‏) ﻓﻲ ‏( ﺍﻟﺜﻘﺐ ‏) ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻨﺎﺯﻝ ﺍﻟﻤﺴﺘﺪﻳﺮ ﻭﻟﻔﻆ ﺍﻟﺜﻘﺐ ﺳﺎﻗﻂ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﻤﺘﻦ ‏(ﻭﻻ ﻳﺘﻜﻠﻢ ‏) ﺃﺩﺑﺎً ﻟﻐﻴﺮ ﺿﺮﻭﺭﺓ ﻗﺎﺿﻲ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ‏( ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻮﻝ ﻭﺍﻟﻐﺎﺋﻂ ‏) ﻓﺈﻥ ﺩﻋﺖ ﺿﺮﻭﺭﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻛﻤﻦ ﺭﺃﻯ ﺣﻴﺔ ﺗﻘﺼﺪ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎً ﻟﻢ ﻳﻜﺮﻩ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺣﻴﻨﺌﺬ ‏(ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻘﺒﻞ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺍﻟﻘﻤﺮ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﺪﺑﺮﻫﻤﺎ ‏) ﺃﻱ ﻳﻜﺮﻩ ﻟﻪ ﺫﻟﻚ ﺣﺎﻝ ﻗﻀﺎﺀ ﺣﺎﺟﺘﻪ، ﻟﻜﻦ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﻭﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ﻗﺎﻝ : ﺇﻥ ﺍﺳﺘﺪﺑﺎﺭﻫﻤﺎ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﻜﺮﻭﻩ . ﻭﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻮﺳﻴﻂ : ﺇﻥ ﺗﺮﻙ ﺍﺳﺘﻘﺒﺎﻟﻬﻤﺎ ﻭﺍﺳﺘﺪﺑﺎﺭﻫﻤﺎ ﺳﻮﺍﺀ، ﺃﻱ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﻣﺒﺎﺣﺎً ﻭﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﻘﻴﻖ : ﺇﻥ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺍﺳﺘﻘﺒﺎﻟﻬﻤﺎ ﻻ ﺃﺻﻞ ﻟﻬﺎ . ﻭﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻘﺒﻞ ﺇﻟﺦ، ﺳﺎﻗﻂ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﻤﺘﻦ .   

Dan sunnah menghindari apa telah disebutkan di atas di jalan yang dilewati manusia. Dan di tempat berteduh saat musim kemarau. Dan di tempat berjemur saat musim dingin. Dan di lubang yang ada di tanah, yaitu lubang bulat yang masuk ke dalam tanah. Lafadz “ats tsaqbu” tidak dicantumkan di dalam sebagian redaksi matan. Orang yang buang hajat hendaknya tidak berbicara tanpa ada darurat saat kencing dan berak karena untuk menjaga etika. Jika keadaan darurat menuntut untuk berbicara seperti orang yang melihat seekor ular yang hendak menyakiti seseorang, maka saat seperti itu tidak dimakruhkan untuk berbicara. Tidak menghadap dan membelakangi matahari dan rembulan. Maksudnya, bagi orang yang buang hajat dimakruhkan melakukan hal itu saat buang hajat. Akan tetapi di dalam kitab ar Raudlah dan Syarh al Muhadzdzab, imam an Nawawi berpendapat bahwa sesungguhnya membelakangi matahari dan rembulan - saat buang hajat- tidaklah dimakruhkan. Di dalam kitab syarh al Wasiht, beliau berkata bahwa sesungguhnya tidak menghadap dan tidak membelakangi keduanya adalah sama, maksudnya hukumnya mubah. Di dalam kitab at Tahqiq, beliau berkata bahwa sesungguhnya kemakruhan menghadap matahari dan rembulan tidak memiliki dalil. Ungkapan mushannif, “dan tidak menghadap ila akhir” tidak tercantum di dalam sebagian redaksi matan.

 ‏( ﻓﺼﻞ ‏) : ﻓﻲ ﻧﻮﺍﻗﺾ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺍﻟﻤﺴﻤﺎﺓ ﺃﻳﻀﺎً ﺑﺄﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺤﺪﺙ ‏( ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﻘﺾ ‏) ﺃﻱ ﻳﺒﻄﻞ ‏( ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ‏) ﺃﺣﺪﻫﺎ ‏(ﻣﺎ ﺧﺮﺝ ﻣﻦ ‏) ﺃﺣﺪ ‏( ﺍﻟﺴﺒﻴﻠﻴﻦ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻘﺒﻞ ﻭﺍﻟﺪﺑﺮ ﻣﻦ ﻣﺘﻮﺿﻰﺀ ﺣﻲّ ﻭﺍﺿﺢ ﻣﻌﺘﺎﺩﺍً ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻛﺒﻮﻝ ﻭﻏﺎﺋﻂ، ﺃﻭ ﻧﺎﺩﺭﺍً ﻛﺪﻡ ﻭﺣﺼﻰ ﻧﺠﺴﺎً ﻛﻬﺬﻩ ﺍﻷﻣﺜﻠﺔ، ﺃﻭ ﻃﺎﻫﺮﺍً ﻛﺪﻭﺩ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﻨﻲ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﺑﺎﺣﺘﻼﻡ ﻣﻦ ﻣﺘﻮﺿﻰﺀ ﻣﻤﻜﻦ ﻣﻘﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻷﺭﺽ، ﻓﻼ ﻳﻨﻘﺾ ﻭﺍﻟﻤﺸﻜﻞ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻨﺘﻘﺾ ﻭﺿﻮﺀﻩ ﺑﺎﻟﺨﺎﺭﺝ ﻣﻦ ﻓﺮﺟﻴﻪ ﺟﻤﻴﻌﺎً ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ‏( ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻫﻴﺌﺔ ﺍﻟﻤﺘﻤﻜﻦ ‏) ﻭﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﻤﺘﻦ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﺍﻷﺭﺽ ﺑﻤﻘﻌﺪﻩ، ﻭﺍﻷﺭﺽ ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻘﻴﺪ، ﻭﺧﺮﺝ ﺑﺎﻟﻤﺘﻤﻜﻦ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻧﺎﻡ ﻗﺎﻋﺪﺍً ﻏﻴﺮ ﻣﺘﻤﻜﻦ ﺃﻭ ﻧﺎﻡ ﻗﺎﺋﻤﺎً ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻗﻔﺎﻩ ﻭﻟﻮ ﻣﺘﻤﻜﻨﺎً ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ‏(ﺯﻭﺍﻝ ﺍﻟﻌﻘﻞ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻐﻠﺒﺔ ﻋﻠﻴﻪ ‏( ﺑﺴﻜﺮ ﺃﻭ ﻣﺮﺽ ‏) ﺃﻭ ﺟﻨﻮﻥ ﺃﻭ ﺇﻏﻤﺎﺀ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ 
(Fasal) menjelaskan perkara-perkara yang membatalkan wudlu’ yang disebut juga dengan “sebab-sebab hadats”. Perkara yang merusak, maksudnya yang membatalkan wudlu’ ada lima perkara. Sesuatu Yang Keluar dari Dua Jalan Salah satunya adalah sesuatu yang keluar dari dua jalan yaitu qubul dan dubur-nya orang yang memiliki wudlu, yang hidup dan jelas -jenis kelaminnya-. Baik yang keluar itu adalah sesuatu yang biasa keluar seperti kencing dan tahi, atau jarang keluar seperti darah dan kerikil. Baik yang najis seperti contoh- contoh ini, atau suci seperti ulat (kermi : jawa). Kecuali sperma yang keluar sebab mimpi yang dialami oleh orang yang memiliki wudlu’ yang tidur dengan menetapkan pantatnya di lantai, maka sperma tersebut tidak membatalkan wudlu’. Orang khuntsa musykil, wudlu’nya hanya bisa batal sebab ada sesuatu yang keluar dari kedua farjinya secara keseluruhan. Dan yang kedua adalah tidur dengan keadaan tidak menetapkan pantat. Dalam sebagian redaksi matan ada tambahan kata-kata “dari tanah dengan tempat duduknya”. Tanah bukanlah menjadi qayyid. Dengan bahasa “menetapkan pantat”, maka terkecuali kalau dia tidur dalam keadaan duduk yang tidak menetapkan pantat, tidur dalam keadaan berdiri atau tidur terlentang walaupun menetapkan pantatnya. Dan yang ketiga adalah hilangnya akal, maksudnya akalnya terkalahkan sebab mabuk, sakit, gila, epilepsi atau selainnya.

‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ‏( ﻟﻤﺲ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻷﺟﻨﺒﻴﺔ ‏) ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻭﻟﻮ ﻣﻴﺘﺔ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﺮﺟﻞ ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺫﻛﺮ ﻭﺃﻧﺜﻰ ﺑﻠﻐﺎ ﺣﺪ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻋﺮﻓﺎً، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﻤﺤﺮﻡ ﻣﻦ ﺣﺮﻡ ﻧﻜﺎﺣﻬﺎ ﻷﺟﻞ ﻧﺴﺐ ﺃﻭ ﺭﺿﺎﻉ ﺃﻭ ﻣﺼﺎﻫﺮﺓ ﻭﻗﻮﻟﻪ : ‏(ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﺎﺋﻞ ‏) ﻳﺨﺮﺝ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﺣﺎﺋﻞ ﻓﻼ ﻧﻘﺾ ﺣﻴﻨﺌﺬ ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﻭﻫﻮ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻨﻮﺍﻗﺾ ‏(ﻣﺲ ﻓﺮﺝ ﺍﻵﺩﻣﻲ ﺑﺒﺎﻃﻦ ﺍﻟﻜﻒ ‏) ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﺫﻛﺮﺍً ﺃﻭ ﺃﻧﺜﻰ ﺻﻐﻴﺮﺍً ﺃﻭ ﻛﺒﻴﺮﺍً ﺣﻴﺎً ﺃﻭ ﻣﻴﺘﺎً، ﻭﻟﻔﻆ ﺍﻵﺩﻣﻲ ﺳﺎﻗﻂ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﻤﺘﻦ ﻭﻛﺬﺍ ﻗﻮﻟﻪ ‏( ﻭﻣﺲ ﺣﻠﻘﺔ ﺩﺑﺮﻩ ‏) ﺃﻱ ﺍﻵﺩﻣﻲ ﻳﻨﻘﺾ ‏( ﻋﻠﻰ ‏) ﺍﻟﻘﻮﻝ ‏( ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ‏) ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﻻ ﻳﻨﻘﺾ ﻣﺲ ﺍﻟﺤﻠﻘﺔ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻬﺎ ﻣﻠﺘﻘﻰ ﺍﻟﻤﻨﻔﺬ ﻭﺑﺒﺎﻃﻦ ﺍﻟﻜﻒ ﺍﻟﺮﺍﺣﺔ ﻣﻊ ﺑﻄﻮﻥ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ، ﻭﺧﺮﺝ ﺑﺒﺎﻃﻦ ﺍﻟﻜﻒ ﻇﺎﻫﺮﻩ ﻭﺣﺮﻓﻪ، ﻭﺭﺅﻭﺱ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ ﻭﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻓﻼ ﻧﻘﺾ ﺑﺬﻟﻚ ﺃﻱ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺘﺤﺎﻣﻞ ﺍﻟﻴﺴﻴﺮ . 

 Yang ke empat adalah persentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan lain yang bukan mahram walaupun sudah meninggal dunia. Yang dikehendaki dengan laki-laki dan perempuan adalah laki-laki dan perempuan yang telah mencapai batas syahwat[1] secara ‘urf. Yang dikehendaki dengan mahram adalah wanita yang haram dinikah karena ikatan nasab, radla’ (tunggal susu) atau ikatan mushaharah (pernikahan). Perkataan mushannif, “tanpa ada penghalang -di antara keduanya-” mengecualikan seandainya terdapat penghalang di antara keduanya, maka kalau demikian tidak batal. Yang kelima, yaitu hal-hal yang membatalkan wudlu’ yang terakhir adalah menyentuh kemaluan anak Adam dengan bagian dalam telapak tangan, baik kemaluannya sendiri atau orang lain, laki-laki atau perempuan, kecil atau besar, masih hidup ataupun sudah meninggal dunia. Lafadz “anak Adam” tidak tercantum di dalam sebagian redaksi matan. Begitu juga tidak tercantum di sebagian redaksi adalah ungkapan mushannif “dan menyentuh lingkaran dubur anak Adam itu bisa membatalkan menurut pendapat qaul Jadid”. Menurut qaul Qadim, menyentuh lingkaran dubur anak Adam tidak membatalkan wudlu’. Yang dikehendaki dengan halqah adalah tempat bertemunya lubang keluarnya kotoran. Dan yang dikehendaki dengan bagian dalam tangan adalah telapak tangan beserta bagian dalam jari-jari tangan. Dikecualikan dari bagian dalam tangan yaitu bagian luar dan pinggir tangan, ujung jemari dan bagian di antara jemari. Maka tidak sampai membatalkan wudlu’ sebab menyentuh dengan bagian-bagian tersebut, maksudnya setelah menekan sedikit.

 (فصل): في موجب الغسل. والغسل لغة سيلان الماء على الشيء مطلقاً وشرعاً سيلانه على جميع البدن بنية مخصوصة (والذي يوجب الغسل ستة أشياء ثلاثة)  منها (تشترك فيها الرجال والنساء وهي التقاء الختانين) ويعبر عن هذا الالتقاء بإيلاج حي واضح غيب حشفة الذكر منه،أو قدرها من مقطوعها في فرج، ويصير الآدمي المولج فيه جنباً بإيلاج ما ذكر، أما الميت فلا يعاد غسله بإيلاج فيه، وأما الخنثى المشكل، فلا غسل عليه بإيلاج حشفته، ولا بإيلاج في قبله  

(Fasal) menjelaskan tentang hal-hal yang mewajibkan mandi besar. Secara bahasa, mandi bermakna mengalirnya air pada sesuatu secara mutlak. Secara syara’ adalah bermakna mengalirnya air ke seluruh badan disertai niat tertentu. Sesuatu yang mewajibkan mandi ada enam perkara. Tiga di antaranya dialami oleh laki-laki dan perempuan, yaitu bertemunya alat kelamin. Bertemunya alat kelamin ini diungkapkan dengan arti, orang hidup yang jelas kelaminnya yang memasukkan hasyafah penisnya atau kira-kira hasyafah dari penis yang terpotong hasyafahnya ke dalam farji. Anak Adam yang dimasuki hasyafah menjadi junub sebab dimasuki oleh hasyafah yang telah disebutkan di atas. Sedangkan untuk mayat yang sudah di mandikan, maka tidak perlu dimandikan lagi ketika dimasuki haysafah. Adapun khuntsa musykil, maka tidak wajib baginya melakukan mandi sebab memasukkan hasyafahnya atau kemaluannya dimasuki hasyafah.

 (و) من المشترك (إنزال) أي خروج (المنيّ) من شخص بغير إيلاج، وإن قل المني كقطرة، ولو كانت على لون الدم، ولو كان الخارج بجماع أو غيره في يقظة أو نوم بشهوة أو غيرها من طريقه المعتاد، أو غيره كأن انكسر صلبه، فخرج منيه  (و) من المشترك (الموت) إلا في الشهيد (وثلاثة تختص بها النساء وهي الحيض) أي الدم الخارج من امرأة بلغت تسع سنين، (والنفاس) وهو الدم الخارج عقب الولادة، فإنه موجب للغسل قطعاً (والولادة) المصحوبة بالبلل موجبة للغسل قطعاً، والمجردة عن البلل موجبة للغسل في الأصح. 

Di antara hal yang di alami oleh laki-laki dan perempuan adalah keluar sperma sebab selain memasukkan hasyafah. Walaupun sperma yang keluar hanya sedikit seperti satu tetes. Walaupun berwarna darah. Walaupun sperma keluar sebab jima’ atau selainnya, dalam keadaan terjaga atau tidur, disertai birahi ataupun tidak, dari jalur yang normal ataupun bukan seperti punggungnya belah kemudian spermanya keluar dari sana. Di antara yang dialami oleh keduanya adalah mati, kecuali orang yang mati syahid. Tiga hal yang mewajibkan mandi adalah tertentu dialami oleh kaum perempuan. Yaitu haidl, maksudnya darah yang keluar dari seorang wanita yang telah mencapai usia sembilan tahun. Dan nifas, yaitu darah yang keluar setelah melahirkan. Maka sesungguhnya nifas mewajibkan mandi secara mutlak. Melahirkan yang disertai dengan basah-basah mewajibkan mandi secara pasti. Sedangkan melahirkan yang tidak disertai basah-basah mewajibkan mandi menurut pendapat ashah.

 (فصل): وفرائض الغسل ثلاثة أشياء.  أحدها (النية) فينوي الجنب رفع الجنابة أو الحدث الأكبر ونحو ذلك، وتنوي الحائض أو النفساء رفع حدث الحيض أو النفاس، وتكون النية مقرونة بأول الفرض، وهو أول ما يغسل من أعلى البدن أو أسفله، فلو نوى بعد غسل جزء وجب إعادته (وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه) أي المغتسل وهذا ما رجحه الرافعي وعليه فلا تكفي غسلة واحدة عن الحدث والنجاسة، ورجح النووي الاكتفاء بغسلة واحدة عنهما، ومحله ما إذا كانت النجاسة حكمية، أما إذا كانت النجاسة عينية وجب غسلتان عندهما 

(Fasal) fardlunya mandi ada tiga perkara. Salah satunya adalah niat. Maka orang yang junub niat menghilangkan hadats jinabah, menghilangkan hadats besar atau niat-niat sesamanya. Sedangkan untuk wanita haidl dan wanita nifas, niat menghilangkan hadats haidl atau hadats nifas. Niat yang dilakukan harus bersamaan dengan awal kefarduan, yaitu awal bagian badan yang terbasuh, baik dari badan bagian atas atau bagian bawah. Sehingga, kalau dia melakukan niat setelah membasuh bagian badan, maka wajib untuk mengulangi basuhan bagian tersebut. Fardlu kedua adalah menghilangkan najis jika terdapat di badannya, yaitu badan orang yang melakukan mandi besar. Hal ini (menghilangkan najis) adalah pendapat yang dikuatkan (tarjih) oleh imam ar Rafi’i. Berdasarkan pendapat ini, maka satu basuhan tidak cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus. Imam An Nawawi men-tarjih (menguatkan) bahwa satu basuhan sudah dianggap cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus. Tempatnya Pendapat imam an Nawawi ini adalah ketika najis yang berada di badan adalah najis hukmiyah. Sedangkan jika berupa najis ‘ainiyah, maka wajib melakukan dua basuhan untuk najis dan hadats tersebut.

 (وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة) وفي بعض النسخ بدل جميع أصول، ولا فرق بين شعر الرأس وغيره، ولا بين الخفيف منه والكثيف، والشعر المضفور إن لم يصل الماء إلى باطنه إلا بالنقض وجب نقضه، والمراد بالبشرة ظاهر الجلد، ويجب غسل ما ظهر من صماخي أذنيه ومن أنف مجدوع، ومن شقوق بدن، ويجب إيصال الماء إلى ما تحت القلفة من الأقلف، وإلى ما يبدو من فرج المرأة عند قعودها لقضاء حاجتها، ومما يجب غسله المسربة، لأنها تظهر في وقت قضاء الحاجة، فتصير من ظاهر البدن  (وسننه) أي الغسل (خمسة أشياء التسمية والوضوء) كاملاً (قبله) وينوي به المغتسل سنة الغسل إن تجردت جنابته عن الحدث الأصغر (وإمرار اليد على) ما وصلت إليه من (الحسد) ويعبر عن هذا الإمرار بالدلك (والموالاة) وسبق معناها في الوضوء (وتقديم اليمنى) من شقيه (على اليسرى) وبقي من سنن الغسل أمور مذكورة في المبسوطات منها التثليث وتخليل الشعر.  

Fardlu ketiga adalah mengalirkan air ke seluruh bagian rambut dan kulit badan. Dalam sebagian redaksi diungkapkan dengan bahasa “ushul (pangkal)” sebagai ganti dari bahasa “jami’ (seluruh)”. Tidak ada perbedaan antara rambut kepala dan selainnya, antara rambut yang tipis dan yang lebat. Rambut yang digelung, jika air tidak bisa masuk ke bagian dalamnya kecuali dengan diurai, maka wajib untuk diurai. Yang dikehendaki dengan kulit adalah kulit bagian luar. Dan wajib membasuh bagian-bagian yang nampak dari lubang kedua telinga, hidung yang terpotong dan cela-cela badan. Dan wajib mengalirkan air ke bagian di bawah kulupnya orang yang memiliki kulup (belum disunnat). Dan mengalirkan air ke bagian farji perempuan yang nampak saat ia duduk untuk buang hajat. Di antara bagian badan yang wajib dibasuh adalah masrabah (tempat keluarnya kotoran (Bol : jawa). Karena sesungguhnya bagian itu nampak saat buang hajat sehingga termasuk dari badan bagian luar. Sunnahnya mandi ada lima yaitu membaca basmalah,  Berwudhu secara sempurna sebelum mandi dengan niat untuk kesunnahan mandi apabila janabahnya sepi dari hadas kecil,  Menggerakkan dan menggosokkan tangan pada tubuh yang terjangkau tangan. Pergerakan tangan ini disebut dengan dalk (menggosok).  Bersegera (muwalat) yang maknanya sudah dijelaskan dalam bab wudhu. Mendahulukan yang kanan dari dua sisi tubuh dan mengakhirkan yang kiri.  Masih ada sunnah-sunnahnya mandi yang disebut dalam kitab mabsutot salah satunya menigalikan dan menyela-nyela rambut.

 (فصل): والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا (غسل الجمعة) لحاضرها ووقته من الفجر الصادق  (و) غسل (العيدين) الفطر والأضحى، ويدخل وقت هذا الغسل بنصف الليل (والاستسقاء) أي طلب السقيا من الله  (والخسوف) للقمر (والكسوف) للشمس (والغسل من) أجل (غسل الميت) مسلماً كان أو كافراً  (و) غسل (الكافر إذا أسلم) إن لم يجنب في كفره أو لم تحض الكافرة، وإلا وجب الغسل بعد الإسلام في الأصح، وقيل يسقط إذا أسلم (والمجنون والمغمى عليه إذا أفاقا) ولم يتحقق منهما إنزال فإن تحقق منهما إنزال وجب الغسل على كل منهما  

(Fasal) mandi-mandi yang disunnahkan ada tujuh belas mandi. Yaitu mandi Jum’at bagi orang yang hendak menghadirinya. Dan waktunya mulai dari terbitnya fajar shadiq. Dan mandi dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha. Waktunya mandi ini mulai tengah malam. Mandi sholat istisqa’, yaitu meminta siraman dari Allah Swt. Mandi karena hendak melakukan sholat gerhana rembulan dan gerhana matahari. Dan mandi karena memandikan mayat orang Islam atau kafir. Dan mandinya orang kafir ketika masuk Islam jika dia tidak junub di masa kufurnya. Atau wanita kafir yang tidak mengalami haidl -saat masih kufur-. Jika junub atau haidl, maka wajib bagi mereka berdua untuk melakukan mandi setelah masuk Islam menurut pendapat al ashah. Ada yang mengatakan bahwa kewajiban mandinya telah gugur ketika masuk Islam. Dan mandinya orang gila atau pingsan ketika keduanya telah sembuh dan tidak dipastikan mereka berdua telah mengeluarkan sperma -saat belum sembuh-. Sehingga, jika dipastikan bahwa keduanya telah mengeluarkan sperma, maka wajib bagi mereka berdua untuk mandi.

 (والغسل عند) إرادة (الإحرام) ولا فرق في هذا الغسل بين بالغ وغيره، ولا بين مجنون وعاقل، ولا بين طاهر وحائض، فإن لم يجد المحرم الماء تيمم.  (و) الغسل (لدخول مكة) لمحرم بحج أو عمرة (وللوقوف بعرفة) في تاسع ذي الحجة (وللمبيت بمزدلفة ولرمي الجمار الثلاث) في أيام التشريق الثلاث، فيغتسل لرمي كل يوم منها غسلاً، أما رمي جمرة العقبة في يوم النحر، فلا يغتسل له لقرب زمنه من غسل الوقو ف (و) الغسل (للطواف) الصادق بطواف قدوم وإفاضة ووداع، وبقية الأغسال المسنونة مذكورة في المطولات.  

Mandi ketika hendak ihram. Dalam mandi ini, tidak ada perbedaan antara orang sudah baligh dan selainnya, antara orang gila dan orang yang memiliki akal sehat, antara orang yang suci dan wanita yang haidl. Jika orang yang ihram itu tidak menemukan air, maka sunnah melakukan tayammum. Mandi karena hendak masuk Makkah bagi orang yang ihram haji atau umrah. Mandi karena wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzul Hijjah. Mandi karena untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah, dan karena untuk melempar jumrah tsalats (tiga jumrah) pada tiga hari tasyrik. Maka dia sunnah melakukan mandi untuk melempar jumrah setiap hari dari tiga hari tasyrik. Sedangkan untuk melempar jumrah Aqabah di hari Nahar (hari raya kurban), maka dia tidak sunnah mandi karena hendak melakukannya, sebab waktunya terlalu dekat dari mandi untuk wukuf. Dan mandi karena untuk melakukan thawaf yang mencakup thawaf Qudum, Ifadlah dan Wada’. Sisa-sisa mandi yang disunnah telah dijelaskan di kitab-kitab yang panjang keterangan.


Selanjutnya klik disini

taq3

Fasal Farhunya Wudhu

 ‏( ﻓﺼﻞ ‏) : ﻓﻲ ﻓﺮﻭﺽ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ . ﻭﻫﻮ ﺑﻀﻢ ﺍﻟﻮﺍﻭ ﻓﻲ ﺍﻷﺷﻬﺮ ﺍﺳﻢ ﻟﻠﻔﻌﻞ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻫﻨﺎ ﻭﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﻮﺍﻭ ﺍﺳﻢ ﻟﻤﺎ ﻳﺘﻮﺿﺄ ﺑﻪ، ﻭﻳﺸﺘﻤﻞ ﺍﻷﻭﻝ ﻋﻠﻰ ﻓﺮﻭﺽ ﻭﺳﻨﻦ، ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺍﻟﻔﺮﻭﺽ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ : ‏(ﻭﻓﺮﻭﺽ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺳﺘﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ‏) ﺃﺣﺪﻫﺎ ‏( ﺍﻟﻨﻴﺔ ‏) ﻭﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ ﺷﺮﻋﺎً ﻗﺼﺪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻣﻘﺘﺮﻧﺎً ﺑﻔﻌﻠﻪ، ﻓﺈﻥ ﺗﺮﺍﺧﻰ ﻋﻨﻪ ﺳﻤﻲ ﻋﺰﻣﺎً ﻭﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﻨﻴﺔ ‏(ﻋﻨﺪ ﻏﺴﻞ ‏) ﺃﻭﻝ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ‏( ﺍﻟﻮﺟﻪ ‏) ﺃﻱ ﻣﻘﺘﺮﻧﺔ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﻻ ﺑﺠﻤﻴﻌﻪ، ﻭﻻ ﺑﻤﺎ ﻗﺒﻠﻪ ﻭﻻ ﺑﻤﺎ ﺑﻌﺪﻩ، ﻓﻴﻨﻮﻱ ﺍﻟﻤﺘﻮﺿﻰﺀ ﻋﻨﺪ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﺭﻓﻊ ﺣﺪﺙ ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺍﺛﻪ، ﺃﻭ ﻳﻨﻮﻱ ﺍﺳﺘﺒﺎﺣﺔ ﻣﻔﺘﻘﺮ، ﺇﻟﻰ ﻭﺿﻮﺀ، ﺃﻭ ﻳﻨﻮﻱ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ، ﺃﻭ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻓﻘﻂ، ﺃﻭ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﺙ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﺙ ﻟﻢ ﻳﺼﺢ، ﻭﺇﺫﺍ ﻧﻮﻯ ﻣﺎ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻨﻴﺎﺕ ﻭﺷﺮﻙ ﻣﻌﻪ ﻧﻴﺔ ﺗﻨﻈﻒ ﺃﻭ ﺗﺒﺮﺩ ﺻﺢ ﻭﺿﻮﺀﻩ

(Fasal) menjelaskan wardlu-wardlu wudlu’ Lafadz “al wudlu’” dengan terbaca dlammah huruf waunya, menurut pendapat yang paling masyhur adalah nama pekerjaannya. Dan dengan terbaca fathah huruf wa’unya “al wadlu’” adalah nama barang yang digunakan untuk melakukan wudlu’. Lafadz yang pertama (al wudlu’) mencakup beberapa fardlu dan beberapa kesunnahan. Fardunya wudhu’ ada Enam Mushannif menyebutkan fardlu-fardlunya wudlu’ di dalam perkatan beliau, “fardlunya wudlu’ ada enam perkara.” Niat wudlu’ Pertama adalah niat. Hakikat niat secara syara’ adalah menyengaja sesuatu besertaan dengan melakukannya. Jika melakukannya lebih akhir dari pada kesengajaannya, maka disebut ‘azm. Niat dilakukan saat membasuh awal bagian dari wajah. Maksudnya bersamaan dengan basuhan bagian tersebut, bukan sebelumnya dan bukan setelahnya. Sehingga, saat membasuh anggota tersebut, maka orang yang wudlu’ melakukan niat menghilangkan hadats dari hadats-hadats yang berada pada dirinya. Atau niat agar diperkenankan melakukan sesuatu yang membutuhkan wudlu’. Atau niat fardlunya wudlu’ atau niat wudlu’ saja. Atau niat bersuci dari hadats. Jika tidak menyebutkan kata “dari hadats” (hanya niat bersuci saja), maka wudlu’nya tidak syah. Ketika dia sudah melakukan niat yang dianggap syah dari niat-niat di atas, dan dia menyertakan niat membersihkan badan atau niat menyegarkan badan, maka hukum wudlu’nya tetap syah.

 ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ‏( ﻏﺴﻞ ‏) ﺟﻤﻴﻊ ‏( ﺍﻟﻮﺟﻪ ‏) ﻭﺣﺪّﻩ ﻃﻮﻻً ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﻣﻨﺎﺑﺖ ﺷﻌﺮ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﻏﺎﻟﺒﺎً ﻭﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﺤﻴﻴﻦ، ﻭﻫﻤﺎ ﺍﻟﻌﻈﻤﺎﻥ ﺍﻟﻠﺬﺍﻥ ﻳﻨﺒﺖ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﺍﻷﺳﻨﺎﻥ، ﺍﻟﺴﻔﻠﻰ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻣﻘﺪﻣﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻗﻦ، ﻭﻣﺆﺧﺮﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺫﻧﻴﻦ ﻭﺣﺪّﻩ ﻋﺮﺿﺎً ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﺫﻧﻴﻦ . ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺷﻌﺮ ﺧﻔﻴﻒ ﺃﻭ ﻛﺜﻴﻒ، ﻭﺟﺐ ﺇﻳﺼﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺒﺸﺮﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺤﺘﻪ، ﻭﺃﻣﺎ ﻟﺤﻴﺔ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﻜﺜﻴﻔﺔ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﺮ ﺍﻟﻤﺨﺎﻃﺐ ﺑﺸﺮﺗﻬﺎ ﻣﻦ ﺧﻼﻟﻬﺎ، ﻓﻴﻜﻔﻲ ﻏﺴﻞ ﻇﺎﻫﺮﻫﺎ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﺨﻔﻴﻔﺔ، ﻭﻫﻲ ﻣﺎ ﻳﺮﻯ ﺍﻟﻤﺨﺎﻃﺐ ﺑﺸﺮﺗﻬﺎ، ﻓﻴﺠﺐ ﺇﻳﺼﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻟﺒﺸﺮﺗﻬﺎ، ﻭﺑﺨﻼﻑ ﻟﺤﻴﺔ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻭﺧﻨﺜﻰ، ﻓﻴﺠﺐ ﺇﻳﺼﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻟﺒﺸﺮﺗﻬﻤﺎ ﻭﻟﻮ ﻛﺜﻔﺎً، ﻭﻻ ﺑﺪ ﻣﻊ ﻏﺴﻞ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻣﻦ ﻏﺴﻞ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﻭﺍﻟﺮﻗﺒﺔ ﻭﻣﺎ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺬﻗﻦ ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ‏( ﻏﺴﻞ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺮﻓﻘﻴﻦ ‏) ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻣﺮﻓﻘﺎﻥ ﺍﻋﺘﺒﺮ ﻗﺪﺭﻫﻤﺎ، ﻭﻳﺠﺐ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻣﻦ ﺷﻌﺮ ‏( ﻭﺳﻠﻌﺔ، ﻭﺃﺻﺒﻊ ﺯﺍﺋﺪﺓ ﻭﺃﻇﺎﻓﻴﺮ، ﻭﻳﺠﺐ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﻣﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﻣﻦ ﻭﺳﺦ ﻳﻤﻨﻊ ﻭﺻﻮﻝ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺇﻟﻴﻪ ‏)

Fardlu kedua adalah membasuh seluruh wajah. Batasan panjang wajah adalah anggota di antara tempat-tempat yang umumnya tumbuh rambut kepala dan pangkalnya lahyaini (dua rahang). Lahyaini adalah dua tulang tempat tumbuhnya gigi bawah. Ujungnya bertemu di janggut dan pangkalnya berada di telinga. Dan batasan lebar wajah adalah anggota di antara kedua telinga. Ketika di wajah terdapat bulu yang tipis atau lebat, maka wajib mengalirkan air pada bulu tersebut beserta kulit yang berada di baliknya / di bawahnya. Namun untuk jenggotnya laki-laki yang lebat, dengan gambaran orang yang diajak bicara tidak bisa melihat kulit yang berada di balik jenggot tersebut dari sela- selanya, maka cukup dengan membasuh bagian luarnya saja. Berbeda dengan jenggot yang tipis, yaitu jenggot yang mana kulit yang berada di baliknya bisa terlihat oleh orang yang diajak bicara, maka wajib mengalirkan air hingga ke bagian kulit di baliknya. Dan berbeda lagi dengan jenggotnya perempuan dan khuntsa, maka wajib mengalirkan air ke bagian kulit yang berada di balik jenggot keduanya, walaupun jenggotnya lebat. Di samping membasuh seluruh wajah, juga harus membasuh sebagian dari kepala, leher dan anggota di bawah janggut[1]. Fardlu yang ketiga adalah membasuh kedua tangan hingga kedua siku. Jika seseorang tidak memiliki kedua siku, maka yang dipertimbangkan adalah kira-kiranya. Dan wajib membasuh perkara-perkara yang berada di kedua tangan, yaitu bulu, uci-uci, jari tambahan dan kuku. Dan wajib menghilangkan perkara yang berada di bawah kuku, yaitu kotoran-kotoran yang bisa mencegah masuknya air.
Footnote [1] Karena untuk memastikan bahwa seluruh bagian wajah telah terbasuh. Sebab tidak bisa diyaqini bahwa seluruh wajah telah terbasuh kecuali dengan membasuh bagian-bagian itu juga.

 ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ‏(ﻣﺴﺢ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺮﺃﺱ ‏) ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﺃﻭ ﺃﻧﺜﻰ ﺃﻭ ﺧﻨﺜﻰ، ﺃﻭ ﻣﺴﺢ ﺑﻌﺾ ﺷﻌﺮ ﻓﻲ ﺣﺪ ﺍﻟﺮﺃﺱ . ﻭﻻ ﺗﺘﻌﻴﻦ ﺍﻟﻴﺪ ﻟﻠﻤﺴﺢ، ﺑﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﺨﺮﻗﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ، ﻭﻟﻮ ﻏﺴﻞ ﺭﺃﺳﻪ ﺑﺪﻝ ﻣﺴﺤﻬﺎ ﺟﺎﺯ ﻭﻟﻮ ﻭﺿﻊ ﻳﺪﻩ ﺍﻟﻤﺒﻠﻮﻟﺔ، ﻭﻟﻢ ﻳﺤﺮﻛﻬﺎ ﺟﺎﺯ ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ‏( ﻏﺴﻞ ﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﻌﺒﻴﻦ ‏) ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺍﻟﻤﺘﻮﺿﻰﺀ ﻻﺑﺴﺎً ﻟﻠﺨﻔﻴﻦ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻻﺑﺴﻬﻤﺎ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺴﺢ ﺍﻟﺨﻔﻴﻦ ﺃﻭ ﻏﺴﻞ ﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ، ﻭﻳﺠﺐ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﺷﻌﺮ ﻭﺳﻠﻌﺔ ﻭﺃﺻﺒﻊ ﺯﺍﺋﺪﺓ ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ‏( ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ‏) ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ‏( ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺬﻱ ‏(ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ‏) ﻓﻲ ﻋﺪ ﺍﻟﻔﺮﻭﺽ، ﻓﻠﻮ ﻧﺴﻲ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﻟﻢ ﻳﻜﻒ، ﻭﻟﻮ ﻏﺴﻞ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﻋﻀﺎﺀﻩ ﺩﻓﻌﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺑﺈﺫﻧﻪ ﺍﺭﺗﻔﻊ ﺣﺪﺙ ﻭﺟﻬﻪ ﻓﻘﻂ . 
 
Fardlu yang ke empat adalah mengusap sebagian kepala, baik laki-laki atau perempuan. Atau mengusap sebagian rambut yang masih berada di batas kepala. Tidak harus menggunakan tangan untuk mengusap kepala, bahkan bisa dengan kain atau yang lainnya. Seandainya dia membasuh kepala sebagai ganti dari mengusapnya, maka diperkenankan. Dan seandainya dia meletakkan (di atas kepala) tangannya yang telah di basahi dan tidak mengerakkannya, maka diperkenankan. Fardlu yang ke lima adalah membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, jika orang yang melaksanakan wudlu’ tersebut tidak mengenakan dua muza. Jika dia mengenakan dua muza, maka wajib bagi dia untuk mengusap kedua muza atau membasuh kedua kaki. Dan wajib membasuh perkara-perkara yang berada di kedua kaki, yaitu bulu, daging tambahan, dan jari tambahan sebagaimana keterangan yang telah dijelaskan di dalam permasalahan kedua tangan. Fardlu yang ke enam adalah tertib di dalam pelaksanaan wudlu’ sesuai dengan cara yang telah saya jelaskan di dalam urutan fardlu-fardlunya wudlu’. Sehingga, kalau lupa tidak tertib, maka wudlu’ yang dilaksanakan tidak mencukupi. Seandainya ada empat orang yang membasuh seluruh anggota wudlu’nya seseorang sekaligus dengan seizinnya, maka yang hilang hanya hadats wajahnya saja. 
Fasal Sunnahnya Wudhu

 ‏( ﻭﺳﻨﻨﻪ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ‏( ﻋﺸﺮﺓ ﺃﺷﻴﺎﺀ ‏) ﻭﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﻤﺘﻦ ﻋﺸﺮ ﺧﺼﺎﻝ ‏( ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ‏) ﺃﻭﻟﻪ ﻭﺃﻓﻠﻬﺎ ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻛﻤﻠﻬﺎ ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ، ﻓﺈﻥ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ﺃﻭﻟﻪ ﺃﺗﻰ ﺑﻬﺎ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺋﻪ، ﻓﺈﻥ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻟﻢ ﻳﺄﺕ ﺑﻬﺎ ‏(ﻭﻏﺴﻞ ﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ‏) ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﻮﻋﻴﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﻀﻤﻀﺔ ﻭﻳﻐﺴﻠﻬﻤﺎ ﺛﻼﺛﺎً ﺇﻥ ﺗﺮﺩﺩ ﻓﻲ ﻃﻬﺮﻫﻤﺎ . ‏( ﻗﺒﻞ ﺇﺩﺧﺎﻟﻬﻤﺎ ﺍﻹﻧﺎﺀ ‏) ﺍﻟﻤﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﻣﺎﺀ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻠﺘﻴﻦ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻐﺴﻠﻬﻤﺎ ﻛﺮﻩ ﻟﻪ ﻏﻤﺴﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻹﻧﺎﺀ، ﻭﺇﻥ ﺗﻴﻘﻦ ﻃﻬﺮﻫﻤﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﺮﻩ ﻟﻪ ﻏﻤﺴﻬﻤﺎ . ‏(ﻭﺍﻟﻤﻀﻤﻀﺔ ‏) ﺑﻌﺪ ﻏﺴﻞ ﺍﻟﻜﻔﻴﻦ، ﻭﻳﺤﺼﻞ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﺈﺩﺧﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻢ ﺳﻮﺍﺀ ﺃﺩﺍﺭﻩ ﻓﻴﻪ ﻭﻣﺠﻪ ﺃﻡ ﻻ، ﻓﺈﻥ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻷﻛﻤﻞ ﻣﺠﻪ ‏( ﻭﺍﻻﺳﺘﻨﺸﺎﻕ ‏) ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻀﻤﻀﺔ ﻭﻳﺤﺼﻞ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻴﻪ ﺑﺈﺩﺧﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻷﻧﻒ ﺳﻮﺍﺀ ﺟﺬﺑﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﺇﻟﻰ ﺧﻴﺎﺷﻤﻪ ﻭﻧﺜﺮﻩ ﺃﻡ ﻻ، ﻓﺈﻥ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻷﻛﻤﻞ ﻧﺜﺮﻩ ﻭﺍﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﻀﻤﻀﺔ ﻭﺍﻻﺳﺘﻨﺸﺎﻕ ﺑﺜﻼﺙ ﻏﺮﻑ، ﻳﺘﻤﻀﻤﺾ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﺎ ﺛﻢ ﻳﺴﺘﻨﺸﻖ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ .

Kesunnahan-kesunnahan wudlu’ ada sepuluh perkara. Dalam sebagian redaksi matan diungkapkan dengan bahasa ”sepuluh khishal”. Yaitu membaca basmalah di awal pelaksanaan wudlu’. Minimal bacaan basmalah adalah bismillah. Dan yang paling sempurna adalah bismillahirrahmanirrahim. Jika tidak membaca basmalah di awal wudlu’, maka sunnah melakukannya di pertengahan pelaksanaan. Jika sudah selesai melaksanakan wudlu’-dan belum sempat membaca basmalah-, maka tidak sunnah untuk membacanya. Dan membasuh kedua telapak tangan hingga kedua pergelangan tangan sebelum berkumur. Dan membasuh keduanya tiga kali jika masih ragu- ragu akan kesuciannya, sebelum memasukkannya ke dalam wadah yang menampung air kurang dari dua Qullah. Sehingga, jika belum membasuh keduanya, maka bagi dia di makruhkan memasukkannya ke dalam wadah air. Jika telah yaqin akan kesucian keduanya, maka bagi dia tidak dimakruhkan untuk memasukkannya ke dalam wadah. Dan berkumur setelah membasuh kedua telapak tangan. Kesunnahan berkumur sudah bisa hasil / didapat dengan memasukkan air ke dalam mulut, baik di putar-putar di dalamnya kemudian di muntahkan ataupun tidak. Jika ingin mendapatkan yang paling sempurna, maka dengan cara memuntahkannya. Dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) setelah berkumur. Kesunnahan istinsyaq sudah bisa didapat dengan memasukkan air ke dalam hidung, baik ditarik dengan nafasnya hingga ke janur hidung lalu menyemprotkannya ataupun tidak. Jika ingin mendapatkan yang paling sempurna, maka dia harus mennyemprotkannya. Mubalaghah (mengeraskan) di anjurkan saat berkumur dan istinsyaq. Mengumpulkan berkumur dan istinsyaq dengan tiga cidukan air, yaitu berkumur dari setiap cidukan kemudian istinsyaq, adalah sesuatu yang lebih utama daripada memisah di antara keduanya.

 ‏(ﻭﻣﺴﺢ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺮﺃﺱ ‏) ﻭﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﻤﺘﻦ ﻭﺍﺳﺘﻴﻌﺎﺏ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﺑﺎﻟﻤﺴﺢ،ﺃﻣﺎ ﻣﺴﺢ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺮﺃﺱ، ﻓﻮﺍﺟﺐ ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ، ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻧﺰﻉ ﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻪ ﻣﻦ ﻋﻤﺎﻣﺔ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻛﻤﻞ ﺑﺎﻟﻤﺴﺢ ﻋﻠﻴﻬﺎ . ‏(ﻭﻣﺴﺢ ‏) ﺟﻤﻴﻊ ‏(ﺍﻷﺫﻧﻴﻦ ﻇﺎﻫﺮﻫﻤﺎ ﻭﺑﺎﻃﻨﻬﻤﺎ ﺑﻤﺎﺀ ﺟﺪﻳﺪ ‏) ﺃﻱ ﻏﻴﺮ ﺑﻠﻞ ﺍﻟﺮﺃﺱ، ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻲ ﻛﻴﻔﻴﺔ ﻣﺴﺤﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﻳﺪﺧﻞ ﻣﺴﺒﺤﺘﻴﻪ ﻓﻲ ﺻﻤﺎﺧﻴﻪ، ﻭﻳﺪﻳﺮﻫﻤﺎ، ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺎﻃﻒ، ﻭﻳﻤﺮّ ﺇﺑﻬﺎﻣﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﻮﺭﻫﻤﺎ، ﺛﻢ ﻳﻠﺼﻖ ﻛﻔﻴﻪ، ﻭﻫﻤﺎ ﻣﺒﻠﻮﻟﺘﺎﻥ ﺑﺎﻷﺫﻧﻴﻦ ﺍﺳﺘﻈﻬﺎﺭﺍً . ‏(ﻭﺗﺨﻠﻴﻞ ﺍﻟﻠﺤﻴﺔ ﺍﻟﻜﺜﺔ ‏) ﺑﻤﺜﻠﺜﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺃﻣﺎ ﻟﺤﻴﺔ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺨﻔﻴﻔﺔ، ﻭﻟﺤﻴﺔ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﺍﻟﺨﻨﺜﻰ، ﻓﻴﺠﺐ ﺗﺨﻠﻴﻠﻬﻤﺎ ﻭﻛﻴﻔﻴﺘﻪ ﺃﻥ ﻳﺪﺧﻞ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺃﺻﺎﺑﻌﻪ ﻣﻦ ﺃﺳﻔﻞ ﺍﻟﻠﺤﻴﺔ ‏(ﻭﺗﺨﻠﻴﻞ ﺃﺻﺎﺑﻊ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ ‏) ﺇﻥ ﻭﺻﻞ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﺨﻠﻴﻞ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺼﻞ ﺇﻻ ﺑﻪ، ﻛﺎﻷﺻﺎﺑﻊ ﺍﻟﻤﻠﺘﻔﺔ ﻭﺟﺐ ﺗﺨﻠﻴﻠﻬﺎ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﺄﺕ ﺗﺨﻠﻴﻠﻬﺎ ﻻﻟﺘﺤﺎﻣﻬﺎ ﺣﺮﻡ ﻓﺘﻘﻬﺎ ﻟﻠﺘﺨﻠﻴﻞ، ﻭﻛﻴﻔﻴﺔ ﺗﺨﻠﻴﻞ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﺑﺎﻟﺘﺸﺒﻴﻚ ﻭﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ ﺑﺄﻥ ﻳﺒﺪﺃ ﺑﺨﻨﺼﺮ ﻳﺪﻩ ﺍﻟﻴﺴﺮﻯ ﻣﻦ ﺃﺳﻔﻞ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﺒﺘﺪﺋﺎً ﺑﺨﻨﺼﺮ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ ﺧﺎﺗﻤﺎً ﺑﺨﻨﺼﺮ ﺍﻟﻴﺴﺮﻯ 

Dan mengusap seluruh bagian kepala. Dalam sebagian redaksi matan diungkapkan dengan bahasa “dan meratakan kepala dengan usapan”. Sedangkan untuk mengusap sebagian kepala hukumnya adalah wajib sebagaimana keterangan di depan. Dan seandainya tidak ingin melepas sesuatu yang berada di kepalanya yaitu surban atau sesamanya, maka dia disunnahkan menyempurnakan usapan air itu ke seluruh surbannya. Dan mengusap seluruh bagian kedua telinga, bagian luar dan dalamnya dengan menggunakan air yang baru, maksudnya bukan basah-basah sisa usapan kepala. Dan yang sunnah di dalam cara mengusap keduanya adalah ia memasukkan kedua jari telunjuk ke lubang telinganya, memutar-mutar keduanya ke lipatan-lipatan telinga dan menjalankan kedua ibu jari di telinga bagian belakang, kemudian menempelkan kedua telapak tangannya yang dalam keadaan basah pada kedua telinganya guna memastikan meratanya usapan air ke telinga. Dan menyelah-nyelahi bulu jenggotnya orang laki-laki yang tebal. Lafadz ”al katstsati” dengan menggunakan huruf yang di beri titik tiga (huruf tsa’). Sedangkan jenggotnya laki-laki yang tipis, jenggotnya perempuan dan khuntsa, maka wajib untuk diselah- selahi. Cara menyelah-nyelahi adalah seorang laki-laki memasukkan jari-jari tangannya dari arah bawah jenggot. Dan sunnah menyelah-nyelahi jari-jari kedua tangan dan kaki, jika air sudah bisa sampai pada bagian- bagian tersebut tanpa diselah-selahi. Jika air tidak bisa sampai pada bagian tersebut kecuali dengan cara diselah-selahi seperti jari-jari yang menempel satu sama lain, maka wajib untuk diselah-selahi. Jika jari-jari yang menempel itu sulit untuk diselah- selahi karena terlalu melekat, maka haram di sobek karena tujuan untuk diselah-selahi. Cara menyelah-nyelahi kedua tangan adalah dengan tasybik. Dan cara menyelah-nyelahi kedua kaki adalah dengan menggunakan jari kelingking tangan kanan di masukkan dari arah bawah kaki, di mulai dari selah- selah jari kelingking kaki kanan dan di akhiri dengan jari kelingking kaki kiri.

‏(ﻭﺗﻘﺪﻳﻢ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ ‏) ﻣﻦ ﻳﺪﻳﻪ ﻭﺭﺟﻠﻴﻪ ‏(ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﺴﺮﻯ ‏) ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻌﻀﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﺬﺍﻥ ﻳﺴﻬﻞ ﻏﺴﻠﻬﻤﺎ ﻣﻌﺎً ﻛﺎﻟﺨﺪﻳﻦ ﻓﻼ ﻳﻘﺪﻡ ﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺑﻞ ﻳﻄﻬﺮﺍﻥ ﺩﻓﻌﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ، ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺳﻨﻴﺔ ﺗﺜﻠﻴﺚ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﺍﻟﻤﻐﺴﻮﻝ ﻭﺍﻟﻤﻤﺴﻮﺡ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ‏(ﻭﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﺛﻼﺛﺎً ﺛﻼﺛﺎً ‏) ﻭﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺴﺦ ﺍﻟﺘﻜﺮﺍﺭ، ﺃﻱ ﻟﻠﻤﻐﺴﻮﻝ ﻭﺍﻟﻤﻤﺴﻮﺡ، ‏( ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ‏) ﻭﻳﻌﺒﺮ ﻋﻨﻬﺎ ﺑﺎﻟﺘﺘﺎﺑﻊ، ﻭﻫﻲ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻌﻀﻮﻳﻦ ﺗﻔﺮﻳﻖ ﻛﺜﻴﺮ، ﺑﻞ ﻳﻄﻬﺮ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﺠﻒ ﺍﻟﻤﻐﺴﻮﻝ ﻗﺒﻠﻪ ﻣﻊ ﺍﻋﺘﺪﺍﻝ ﺍﻟﻬﻮﺍﺀ ﻭﺍﻟﻤﺰﺍﺝ ﻭﺍﻟﺰﻣﺎﻥ، ﻭﺇﺫﺍ ﺛﻠﺚ ﻓﺎﻻﻋﺘﺒﺎﺭ ﺑﺂﺧﺮ ﻏﺴﻠﺔ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺗﻨﺪﺏ ﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻭﺿﻮﺀ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ، ﺃﻣﺎ ﻫﻮ ﻓﺎﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﻭﺍﺟﺒﺔ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ . ﻭﺑﻘﻲ ﻟﻠﻮﺿﻮﺀ ﺳﻨﻦ ﺃﺧﺮﻯ ﻣﺬﻛﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻄﻮﻻﺕ .   
Dan sunnah mendahulukan bagian kanan dari kedua tangan dan kaki sebelum bagian kiri dari keduanya. Sedangkan untuk dua anggota yang mudah dibasuh secara bersamaan seperti kedua pipi, maka tidak disunnahkan untuk mendahulukan bagian yang kanan dari keduanya, akan tetapi keduanya di sucikan secara bersamaan. Mushannif menyebutkan kesunnahan mengulangi basuhan dan usapan anggota wudlu’ sebanyak tiga kali di dalam perkataan beliau, “dan sunnah melakukan bersuci tiga kali tiga kali.” Dalam sebagian teks diungkapkan dengan bahasa “mengulangi anggota yang dibasuh dan yang diusap.” Dan muwallah (terus menerus). Muwallah diungkapkan dengan bahasa “tatabbu’”(terus menerus). Muwallah adalah antara dua anggota wudlu’ tidak terjadi perpisahan yang lama, bahkan setiap anggota langsung disucikan setelah mensucikan anggota sebelumnya, sekira anggota yang dibasuh sebelumnya belum kering dengan keaadan angin, cuaca dan zaman dalam keadaan normal. Ketika mengulangi basuhan hingga tiga kali, maka yang jadi patokan adalah basuhan yang terakhir. Muwallah hanya disunnahkan di selain wudlu’nya shahibud dlarurah (orang yang memiliki keadaan darurat). Sedangan untuk shahibur dlarurah, maka muwallah hukumnya wajib bagi dia. Dan masih ada lagi kesunnahan-kesunnahan wudlu’ lainnya yang disebutkan di dalam kitab-kitab yang panjang keterangannya.

Selanjutnya klik disini

Kamis, 05 November 2020

fathul qorib2 bersuci

 ﻛﺘﺎﺏ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ 

ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻟﻐﺔ ﻣﺼﺪﺭ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﻀﻢ ﻭﺍﻟﺠﻤﻊ، ﻭﺍﺻﻄﻼﺣﺎً ﺍﺳﻢ ﻟﺠﻨﺲ ﻣﻦ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ، ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻓﺎﺳﻢ ﻟﻨﻮﻉ ﻣﻤﺎ ﺩﺧﻞ ﺗﺤﺖ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺠﻨﺲ، ﻭﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﻈﺎﺀ ﻟﻐﺔ ﺍﻟﻨﻈﺎﻓﺔ، ﻭﺃﻣﺎ ﺷﺮﻋﺎً ﻓﻔﻴﻬﺎ ﺗﻔﺎﺳﻴﺮ ﻛﺜﻴﺮﺓ، ﻣﻨﻬﺎ ﻗﻮﻟﻬﻢ ﻓﻌﻞ ﻣﺎ ﺗﺴﺘﺒﺎﺡ ﺑﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ، ﺃﻱ ﻣﻦ ﻭﺿﻮﺀ ﻭﻏﺴﻞ ﻭﺗﻴﻤﻢ ﻭﺇﺯﺍﻟﺔ ﻧﺠﺎﺳﺔ، ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﺑﺎﻟﻀﻢ ﻓﺎﺳﻢ ﻟﺒﻘﻴﺔ ﺍﻟﻤﺎﺀ . ﻭﻟﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺁﻟﺔ ﻟﻠﻄﻬﺎﺭﺓ، ﺍﺳﺘﻄﺮﺩ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻷﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻤﻴﺎﻩ ﻓﻘﺎﻝ : ‏( ﺍﻟﻤﻴﺎﻩ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺠﻮﺯ ‏) ﺃﻱ ﻳﺼﺢ ‏( ﺍﻟﺘﻄﻬﻴﺮ ﺑﻬﺎ ﺳﺒﻊ ﻣﻴﺎﻩ ﻣﺎﺀ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺯﻝ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﻄﺮ ‏( ﻭﻣﺎﺀ ﺍﻟﺒﺤﺮ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻤﻠﺢ ‏( ﻭﻣﺎﺀ ﺍﻟﻨﻬﺮ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﺤﻠﻮ ‏( ﻭﻣﺎﺀ ﺍﻟﺒﺌﺮ ﻭﻣﺎﺀ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻭﻣﺎﺀ ﺍﻟﺜﻠﺞ ﻭﻣﺎﺀ ﺍﻟﺒﺮﺩ ‏) ﻭﻳﺠﻤﻊ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﺒﻌﺔ ﻗﻮﻟﻚ : ﻣﺎ ﻧﺰﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺃﻭ ﻧﺒﻊ ﻣﻦ ﺍﻷﺭﺽ ﻋﻠﻰ ﺃﻱ ﺻﻔﺔ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺨﻠﻘﺔ 

Kitab Hukum Bersuci 

Kitab menurut bahasa berarti mengumpulkan. Sedangkan menurut istilah adalah kumpulan dari beberapa hukum. Pengertian Thoharoh berasal dari kata annazhofat 
( ﺍﻟﻨﻈﺎﻓﺔ)
 yang berarti bersuci. Sedangkan menurut istilah artinya suatu perbuatan yang menjadikan sahnya shalat seperti wudhu, mandi, tayamum, dan menghilangkan najis.
 sedangkan tuharot
 (ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ)
 berarti alat untuk bersuci. Tujuh Macam Air Suci Air yang sah di gunakan untuk toharoh ada 7: Air langit(air yang turan dari langit/air hujan) Air laut(air asin) Air sungai (air tawar) Air mata air(air yang keluar dari bumi) Air salju/air es Air sumur Air embun Ketujuh air itu di katakan air yang turun dari langit dan keluar dari bumi dari beberapa sifat asal terciptanya air tersebut. 

‏(ﺛﻢ ﺍﻟﻤﻴﺎﻩ ‏) ﺗﻨﻘﺴﻢ ‏( ﻋﻠﻰ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ ‏) ﺃﺣﺪﻫﺎ ‏( ﻃﺎﻫﺮ ‏) ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ‏(ﻣﻄﻬﺮ ‏) ﻟﻐﻴﺮﻩ ‏(ﻏﻴﺮ ﻣﻜﺮﻭﻩ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ‏) ﻋﻦ ﻗﻴﺪ ﻻﺯﻡ ﻓﻼ ﻳﻀﺮ ﺍﻟﻘﻴﺪ ﺍﻟﻤﻨﻔﻚ، ﻛﻤﺎﺀ ﺍﻟﺒﺌﺮ ﻓﻲ ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎً ‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ‏(ﻃﺎﻫﺮ ﻣﻄﻬﺮ ﻣﻜﺮﻭﻩ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ‏) ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺪﻥ ﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻮﺏ‏( ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺸﻤﺲ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺴﺨﻦ ﺑﺘﺄﺛﻴﺮ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻓﻴﻪ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﻜﺮﻩ ﺷﺮﻋﺎً ﺑﻘﻄﺮ ﺣﺎﺭ ﻓﻲ ﺇﻧﺎﺀ ﻣﻨﻄﺒﻊ، ﺇﻻ ﺇﻧﺎﺀ ﺍﻟﻨﻘﺪ ﻟﺼﻔﺎﺀ ﺟﻮﻫﺮﻫﻤﺎ، ﻭﺇﺫﺍ ﺑﺮﺩ ﺯﺍﻟﺖ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ، ﻭﺍﺧﺘﺎﺭ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﻣﻄﻠﻘﺎً، ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺃﻳﻀﺎً ﺷﺪﻳﺪ ﺍﻟﺴﺨﻮﻧﺔ ﻭﺍﻟﺒﺮﻭﺩﺓ ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﻘﺴﻢ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ‏( ﻃﺎﻫﺮ ‏) ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ‏(ﻏﻴﺮ ﻣﻄﻬﺮ ‏) ﻟﻐﻴﺮﻩ ‏( ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﻤﻞ ‏) ﻓﻲ ﺭﻓﻊ ﺣﺪﺙ ﺃﻭ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﻧﺠﺲ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﻐﻴﺮ، ﻭﻟﻢ ﻳﺰﺩ ﻭﺯﻧﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻧﻔﺼﺎﻟﻪ ﻋﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺑﻌﺪ ﺍﻋﺘﺒﺎﺭ ﻣﺎ ﻳﺘﺸﺮّﺑﻪ ﺍﻟﻤﻐﺴﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺀ . ‏( ﻭﺍﻟﻤﺘﻐﻴﺮ ‏) ﺃﻱ ﻭﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﺴﻢ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺘﻐﻴﺮ ﺃﺣﺪ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ‏( ﺑﻤﺎ ‏) ﺃﻱ ﺑﺸﻲﺀ ‏( ﺧﺎﻟﻄﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺎﻫﺮﺍﺕ ‏) ﺗﻐﻴﺮﺍً ﻳﻤﻨﻊ ﺇﻃﻼﻕ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ، ﻓﺈﻧﻪ ﻃﺎﻫﺮ ﻏﻴﺮ ﻃﻬﻮﺭ ﺣﺴﻴّﺎً ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺘﻐﻴﺮ ﺃﻭ ﺗﻘﺪﻳﺮﻳﺎً، ﻛﺄﻥ ﺍﺧﺘﻠﻂ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﻣﺎ ﻳﻮﺍﻓﻘﻪ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﻛﻤﺎﺀ ﺍﻟﻮﺭﺩ ﺍﻟﻤﻨﻘﻄﻊ ﺍﻟﺮﺍﺋﺤﺔ، ﻭﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻤﻨﻊ ﺇﻃﻼﻕ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺄﻥ ﻛﺎﻥ ﺗﻐﻴﺮﻩ ﺑﺎﻟﻄﺎﻫﺮ ﻳﺴﻴﺮﺍً، ﺃﻭ ﺑﻤﺎ ﻳﻮﺍﻓﻖ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﻭﻗﺪﺭ ﻣﺨﺎﻟﻔﺎً، ﻭﻟﻢ ﻳﻐﻴﺮﻩ ﻓﻼ ﻳﺴﻠﺐ ﻃﻬﻮﺭﻳﺘﻪ، ﻓﻬﻮ ﻣﻄﻬﺮ ﻟﻐﻴﺮﻩ، ﻭﺍﺣﺘﺮﺯ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﺧﺎﻟﻄﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻄﺎﻫﺮ ﺍﻟﻤﺠﺎﻭﺭ ﻟﻪ، ﻓﺈﻧﻪ ﺑﺎﻕ ﻋﻠﻰ ﻃﻬﻮﺭﻳﺘﻪ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺘﻐﻴﺮ ﻛﺜﻴﺮﺍً ﻭﻛﺬﺍ ﺍﻟﻤﺘﻐﻴﺮ ﺑﻤﺨﺎﻟﻂ، ﻻ ﻳﺴﺘﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻨﻪ ﻛﻄﻴﻦ ﻭﻃﺤﻠﺐ، ﻭﻣﺎ ﻓﻲ ﻣﻘﺮﻩ ﻭﻣﻤﺮﻩ، ﻭﺍﻟﻤﺘﻐﻴﺮ ﺑﻄﻮﻝ ﺍﻟﻤﻜﺚ ﻓﺈﻧﻪ ﻃﻬﻮﺭ . ‏
Kemudian air dibagi menjadi 4 bagian: a. Air suci mensucikan yaitu air yang belum isti’mal (belum digunakan sesuci wajib) atau air mutlaq b. Air suci mensucikan tetapi makruh digunakan di badan tidak di pakaian yaitu air yang dipanaskan menggumakan wadah yang tidak terbuat dari emas atau perak. Tetapi apabila sudah dingin maka hilanglah sifat kemakruhanya, menurut imam Nawawi juga dimakruhkan menggunakan air yang sangat panas atau sangat dingin karna menjadikan tidak sempurnanya bersuci. c. Air suci tapi tidak mensucikan yaitu air musta’mal .air yang sudah digunakan untuk menghilangkan najis atau untuk bersuci.walaupun tidak berubah ukuran air tersebut. Seprti air mawar yang berbau. 

(ﻭ ‏) ﺍﻟﻘﺴﻢ ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ‏(ﻣﺎﺀ ﻧﺠﺲ ‏) ﺃﻱ ﻣﺘﻨﺠﺲ ﻭﻫﻮ ﻗﺴﻤﺎﻥ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻗﻠﻴﻞ ‏( ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺣﻠﺖ ﻓﻴﻪ ﻧﺠﺎﺳﺔ ‏) ﺗﻐﻴﺮ ﺃﻡ ﻻ ‏( ﻭﻫﻮ ‏) ﺃﻱ ﻭﺍﻟﺤﺎﻝ ﺃﻧﻪ ﻣﺎﺀ ‏(ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻠﺘﻴﻦ ‏) ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﺴﻢ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﺩﻡ ﻟﻬﺎ ﺳﺎﺋﻞ ﻋﻨﺪ ﻗﺘﻠﻬﺎ، ﺃﻭ ﺷﻖ ﻋﻀﻮ ﻣﻨﻬﺎ ﻛﺎﻟﺬﺑﺎﺏ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻄﺮﺡ ﻓﻴﻪ، ﻭﻟﻢ ﺗﻐﻴﺮﻩ، ﻭﻛﺬﺍ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﺪﺭﻛﻬﺎ ﺍﻟﻄﺮﻑ، ﻓﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻻ ﻳﻨﺠﺲ ﺍﻟﻤﺎﺋﻊ ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﺃﻳﻀﺎً ﺻﻮﺭ ﻣﺬﻛﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺒﺴﻮﻃﺎﺕ، ﻭﺃﺷﺎﺭ ﻟﻠﻘﺴﻢ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺴﻢ ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ‏(ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ‏) ﻛﺜﻴﺮﺍً ‏( ﻗﻠﺘﻴﻦ ‏) ﻓﺄﻛﺜﺮ ‏( ﻓﺘﻐﻴﺮ ‏) ﻳﺴﻴﺮﺍً ﺃﻭ ﻛﺜﻴﺮﺍً . ‏( ﻭﺍﻟﻘﻠﺘﺎﻥ ﺧﻤﺴﻤﺎﺋﺔ ﺭﻃﻞ ﺑﻐﺪﺍﺩﻱ ﺗﻘﺮﻳﺒﺎً ﻓﻲ ﺍﻷﺻﺢ ‏) ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻭﺍﻟﺮﻃﻞ ﺍﻟﺒﻐﺪﺍﺩﻱ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ ﺩﺭﻫﻤﺎً ﻭﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺳﺒﺎﻉ ﺩﺭﻫﻢ، ﻭﺗﺮﻙ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻗﺴﻤﺎً ﺧﺎﻣﺴﺎً ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﻄﻬﺮ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻛﺎﻟﻮﺿﻮﺀ ﺑﻤﺎﺀ ﻣﻐﺼﻮﺏ ﺃﻭ ﻣﺴﺒﻞ ﻟﻠﺸﺮﺏ .

 d. Air najis air yakni yang sudah terkena najis. Air najis ada dua bagian : (i) Air yang terkena najis walaupun tidak berubah yaitu air yang kurang dari dua qulah; (ii) Air yang lebih dari dua qullah tetapi berubah baik banyak maupun sedikit. Dua kolah menurut ukuran baghdat yaitu 500 kathi, sedangkan menurut imam nawawi adalah 180 dirham . menurut pengarang kitab ada air yang suci tapi haram digunakan atau diminum yaitu air yang di ghosab (air milik orang lain yang 

‏( ﻓﺼﻞ ‏) : ﻓﻲ ﺫﻛﺮ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻷﻋﻴﺎﻥ ﺍﻟﻤﺘﻨﺠﺴﺔ ﻭﻣﺎ ﻳﻄﻬﺮ ﻣﻨﻬﺎ ﺑﺎﻟﺪﺑﺎﻍ ﻭﻣﺎ ﻻ ﻳﻄﻬﺮ . ‏(ﻭﺟﻠﻮﺩ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ‏) ﻛﻠﻬﺎ ‏(ﺗﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﺪﺑﺎﻍ ‏) ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﻴﺘﺔ ﻣﺄﻛﻮﻝ ﺍﻟﻠﺤﻢ ﻭﻏﻴﺮﻩ . ﻭﻛﻴﻔﻴﺔ ﺍﻟﺪﺑﻎ ﺃﻥ ﻳﻨﺰﻉ ﻓﻀﻮﻝ ﺍﻟﺠﻠﺪ ﻣﻤﺎ ﻳﻌﻔﻨﻪ ﻣﻦ ﺩﻡ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﺑﺸﻲﺀ ﺣﺮﻳﻒ ﻛﻌﻔﺺ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺤﺮﻳﻒ ﻧﺠﺴﺎً ﻛﺬﺭﻕ ﺣﻤﺎﻡ ﻛﻔﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﺑﻎ ‏( ﺇﻻ ﺟﻠﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻭﺍﻟﺨﻨﺰﻳﺮ ﻭﻣﺎ ﺗﻮﻟﺪ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻭ ﻣﻦ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ‏) ﻣﻊ ﺣﻴﻮﺍﻥ ﻃﺎﻫﺮ ﻓﻼ ﻳﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﺪﺑﺎﻍ ‏( ﻭﻋﻈﻢ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻭﺷﻌﺮﻫﺎ ﻧﺠﺲ ‏) ﻭﻛﺬﺍ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﺃﻳﻀﺎً ﻧﺠﺴﺔ ﻭﺃﺭﻳﺪ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺰﺍﺋﻠﺔ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺑﻐﻴﺮ ﺫﻛﺎﺓ ﺷﺮﻋﻴﺔ، ﻓﻼ ﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺟﻨﻴﻦ ﺍﻟﻤﺬﻛﺎﺓ ﺇﺫﺍ ﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﺑﻄﻦ ﺃﻣﻪ ﻣﻴﺘﺎً، ﻷﻥ ﺫﻛﺎﺗﻪ ﻓﻲ ﺫﻛﺎﺓ ﺃﻣﻪ، ﻭﻛﺬﺍ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺘﺜﻨﻴﺎﺕ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺒﺴﻮﻃﺎﺕ، ﺛﻢ ﺍﺳﺘﺜﻨﻰ ﻣﻦ ﺷﻌﺮ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻗﻮﻟﻪ ‏( ﺇﻻ ﺍﻵﺩﻣﻲّ ‏) ﺃﻱ ﻓﺈﻥ ﺷﻌﺮﻩ ﻃﺎﻫﺮ ﻛﻤﻴﺘﺘﻪ .

 Fasal) menjelaskan tentang barang-barang najis, barang-barang najis yang bisa suci dengan cara di- samak dan yang tidak bisa suci (dengan cara di- samak). Kulit Bangkai Bisa Suci dengan Disamak Kulit bangkai semuanya bisa suci dengan cara di- samak. Dalam hal itu baik bangkai binatang yang halal dimakan dan yang tidak halal dimakan. Tata Cara Menyamak Tata cara menyamak adalah menghilangkan fudlulul (hal-hal yang melekat) kulit yang bisa membuat busuk yaitu berupa darah dan sesamanya, dengan menggunakan barang yang asam / pahit seperti tanaman afshin[1]. Jika barang pahit yang digunakan itu najis seperti kotoran burung dara, maka sudah dianggap cukup dalam penyamakan. Benda yang Tidak Bisa Suci Walau Disamak Kecuali kulit bangkai anjing, babi, keturunan keduanya, atau keturunan salah satu dari keduanya hasil perkawinan dengan binatang yang suci. Maka kulit binatang-binatang ini tidak bisa suci dengan cara di- samak. Tulang dan bulunya bangkai hukumnya adalah najis. Begitu juga bangkainya itu sendiri hukumnya juga najis. Yang dikehendaki dengan bangkai adalah binatang yang mati sebab selain sembelihan secara syar’i. Kalau demikian, maka tidak perlu dikecualikan janinnya binatang yang disembelih (secara syar’i) yang keluar dari perut induknya dalam keadaan mati. Begitu juga bentuk-bentuk pengecualian lain yang dijelaskan di dalam kitab-kitab yang luas keterangannya. Kemudian mushannaif mengecuali-kan dari bulu bangkai yaitu ungkapan beliau yang berbunyi, “kecuali anak Adam.” Maksudnya, maka sesungguhnya rambut dan bulu anak Adam hukumnya suci.[ Footnote [1]Afshin; Sejenis tanaman yang berbau wangi dan rasanya pahit. 

‏( ﻓﺼﻞ ‏) : ﻓﻲ ﺑﻴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﺤﺮﻡ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﻭﺍﻧﻲ ﻭﻣﺎ ﻳﺠﻮﺯ . ﻭﺑﺪﺃ ﺑﺎﻷﻭﻝ ﻓﻘﺎﻝ ‏( ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ‏) ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺿﺮﻭﺭﺓ ﻟﺮﺟﻞ ﺃﻭ ﺍﻣﺮﺃﺓ ‏(ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ‏) ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ‏( ﺃﻭﺍﻧﻲ ﺍﻟﺬﻫﺐ ﻭﺍﻟﻔﻀﺔ ‏) ﻻ ﻓﻲ ﺃﻛﻞ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺷﺮﺏ ﻭﻻ ﻏﻴﺮﻫﻤﺎ، ﻭﻛﻤﺎ ﻳﺤﺮﻡ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﻳﺤﺮﻡ ﺍﺗﺨﺎﺫﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﺢ، ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺃﻳﻀﺎً ﺍﻹﻧﺎﺀ ﺍﻟﻤﻄﻠﻲّ ﺑﺬﻫﺐ ﺃﻭ ﻓﻀﺔ ﺇﻥ ﺣﺼﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﻼﺀ ﺷﻲﺀ ﺑﻌﺮﺿﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺭ . ‏( ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ‏) ﺇﻧﺎﺀ ‏( ﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ‏) ﺃﻱ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺬﻫﺐ ﻭﺍﻟﻔﻀﺔ ‏( ﻣﻦ ﺍﻷﻭﺍﻧﻲ ‏) ﺍﻟﻨﻔﻴﺴﺔ ﻛﺈﻧﺎﺀ ﻳﺎﻗﻮﺕ، ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺍﻹﻧﺎﺀ ﺍﻟﻤﻀﺒﺐ ﺑﻀﺒﺔ ﻓﻀﺔ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻋﺮﻓﺎً ﻟﺰﻳﻨﺔ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻟﺤﺎﺟﺔ ﺟﺎﺯ ﻣﻊ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ، ﺃﻭ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻋﺮﻓﺎً ﻟﺰﻳﻨﺔ ﻛﺮﻫﺖ، ﺃﻭ ﻟﺤﺎﺟﺔ ﻓﻼ ﺗﻜﺮﻩ، ﺃﻣﺎ ﺿﺒﺔ ﺍﻟﺬﻫﺐ ﻓﺘﺤﺮﻡ ﻣﻄﻠﻘﺎً ﻛﻤﺎ ﺻﺤﺤﻪ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ .

 (Fasal) menjelaskan wadah-wadah yang haram dipergunakan dan yang boleh dipergunakan. Mushannif mengawali dengan yang pertama (yang haram dipergunakan). Beliau berkata, “selain keadaan darurat, tidak diperkenankan bagi laki-laki dan perempuan untuk menggunakan sesuatu dari wadah- wadah yang terbuat dari emas dan perak. Tidak untuk makan, minum dan selain keduanya.” Sebagaimana haram menggunakan barang-barang yang telah disebutkan di atas, begitu juga haram menyimpannya tanpa digunakan menurut pendapat al ashah. Penyepuhan Dan juga haram menggunakan wadah yang disepuh dengan emas atau perak, jika ada sepuhan yang terpisah seandainya dipanggang di atas api. Wadah Selain Emas Dan Perak Diperbolehkan menggunakan wadah yang terbuat dari selain keduanya, yaitu selain emas dan perak, yaitu wadah-wadah yang indah seperti wadah yang terbuat dari yaqut. Tambalan Emas Dan Perak Haram menggunakan wadah yang ditambal dengan tambalan perak yang berukuran besar menurut ‘urf dengan tujuan berhias. Jika tambalan perak itu berukuran besar karena ada hajat, maka diperbolehkan namun makruh. Atau berukuran kecil secara ‘urf karena tujuan berhias, maka dimakruhkan. Atau karena hajat, maka tidak dimakruhkan. Adapun tambalan yang terbuat dari emas, maka hukumnya haram secara mutlak, sebagaimana yang disyahkan oleh imam an Nawawi.

 ‏( ﻓﺼﻞ ‏) : ﻓﻲ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺁﻟﺔ ﺍﻟﺴﻮﺍﻙ .
 ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺳﻨﻦ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻭﻳﻄﻠﻖ ﺍﻟﺴﻮﺍﻙ ﺃﻳﻀﺎً ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺎﻙ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺃﺭﺍﻙ ﻭﻧﺤﻮﻩ . ‏(ﻭﺍﻟﺴﻮﺍﻙ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ ‏) ﻭﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﺗﻨﺰﻳﻬﺎً ‏( ﺇﻻ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺰﻭﺍﻝ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ ‏) ﻓﺮﺿﺎً ﺃﻭ ﻧﻔﻼً، ﻭﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﺑﻐﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ، ﻭﺍﺧﺘﺎﺭ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﻣﻄﻠﻘﺎً ‏(ﻭﻫﻮ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﺴﻮﺍﻙ ‏( ﻓﻲ ﺛﻼﺛﺔ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺃﺷﺪ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺑﺎً ‏) ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﺃﺣﺪﻫﺎ ‏(ﻋﻨﺪ ﺗﻐﻴﺮ ﺍﻟﻔﻢ ﻣﻦ ﺃﺯﻡ ‏) ﻗﻴﻞ ﻫﻮ ﺳﻜﻮﺕ ﻃﻮﻳﻞ . ﻭﻗﻴﻞ ﺗﺮﻙ ﺍﻷﻛﻞ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻗﺎﻝ ‏(ﻭﻏﻴﺮﻩ ‏) ﻟﻴﺸﻤﻞ ﺗﻐﻴﺮ ﺍﻟﻔﻢ ﺑﻐﻴﺮ ﺃﺯﻡ ﻛﺄﻛﻞ ﺫﻱ ﺭﻳﺢ ﻛﺮﻳﻪ ﻣﻦ ﺛﻮﻡ ﻭﺑﺼﻞ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ . ‏(ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ‏( ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ‏) ﺃﻱ ﺍﻻﺳﺘﻴﻘﺎﻅ ‏( ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ‏( ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ‏) ﻓﺮﺿﺎً ﺃﻭ ﻧﻔﻼً ﻭﻳﺘﺄﻛﺪ ﺃﻳﻀﺎً ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ ﻣﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﺬﻛﻮﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻄﻮﻻﺕ، ﻛﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﺻﻔﺮﺍﺭ ﺍﻷﺳﻨﺎﻥ، ﻭﻳﺴﻦ ﺃﻥ ﻳﻨﻮﻱ ﺑﺎﻟﺴﻮﺍﻙ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﺃﻥ ﻳﺴﺘﺎﻙ ﺑﻴﻤﻴﻨﻪ، ﻭﻳﺒﺪﺃ ﺑﺎﻟﺠﺎﻧﺐ ﺍﻷﻳﻤﻦ ﻣﻦ ﻓﻤﻪ، ﻭﺃﻥ ﻳﻤﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺳﻘﻒ ﺣﻠﻘﻪ ﺇﻣﺮﺍﺭﺍً ﻟﻄﻴﻔﺎً، ﻭﻋﻠﻰ ﻛﺮﺍﺳﻲ ﺃﺿﺮﺍﺳﻪ .

 Fasal) menjelaskan tentang menggunakan alat siwak. Bersiwak termasuk salah satu kesunnahan wudu’. Siwak juga diungkapan untuk barang yang digunakan bersiwak, yaitu kayu arak dan sesamanya. Hukum Bersiwak Siwak disunnahkan pada semua keadaan. Siwak tidak dimakruhkan tanzih kecuali setelah tergelincirnya matahari bagi orang yang berpuasa, baik puasa fardlu atau sunnah. Hukum makruh tersebut menjadi hilang dengan terbenamnya matahari. Namun imam an Nawawi lebih memilih hukum tidak makruh secara mutlak. Tempat-Tempat Yang Sangat Disunnahkan Untuk Bersiwak Siwak di dalam tiga tempat hukumnya lebih disunnahkan dari pada tempat yang lain. Salah satunya adalah ketika berubahnya keadaan mulut sebab azm. Ada yang mengatakan bahwa azm adalah diam terlalu lama. Dan ada yang mengatakan azm adalah tidak makan. Mushannif mengungkapkan “wa ghairuhu” (dan sebab selain azm), tidak lain agar mencakup perubahan keadaan mulut sebab selain azm, seperti memakan barang yang berbau kurang sedap yaitu bawang merah, bawang putih dan selainnya. Yang kedua adalah saat bangun tidur. Dan yang ketiga adalah saat hendak sholat, baik sholat fardlu atau sunnah. Juga sangat dianjurkan di selain tiga tempat yang sudah dijelaskan di atas, yaitu di tempat-tempat yang disebutkan di kitab-kitab yang penjang penjelasannya, seperti saat membaca Al Qur’an dan kuningnya gigi. Saat bersiwak disunnahkan untuk niat sunnah siwakan, bersiwak dengan tangan kanan, memulai dari mulut bagian kanan, dan menjalankan siwak secara lembut ke bagian langit-langit tenggorokan dan gigi- gigi geraham.


Selanjutnya klik disini

fathul qorib syarah bag 1

 ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ 
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺷﻤﺲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠّﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻗﺎﺳﻢ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲّ ﺗﻐﻤﺪﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺮﺣﻤﺘﻪ ﻭﺭﺿﻮﺍﻧﻪ ﺁﻣﻴﻦ : ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺗﺒﺮﻛﺎً ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻷﻧﻬﺎ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﻛﻞ ﺃﻣﺮٍ ﺫﻱ ﺑﺎﻝ، ﻭﺧﺎﺗﻤﺔ ﻛﻞ ﺩﻋﺎﺀ ﻣﺠﺎﺏ، ﻭﺁﺧﺮ ﺩﻋﻮﻯ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ، ﺃﺣﻤﺪﻩ ﺃﻥ ﻭﻓﻖ ﻣﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻟﻠﺘﻔﻘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﻭﻓﻖ ﻣﺮﺍﺩﻩ، ﻭﺃﺻﻠﻲ ﻭﺃﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻓﻀﻞ ﺧﻠﻘﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ، ﺍﻟﻘﺎﺋﻞ : 'ﻣَﻦْ ﻳُﺮِﺩِ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺑﻪِ ﺧَﻴْﺮﺍً ﻳُﻔَﻘِّﻬْﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ' ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻣﺪﺓ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺬّﺍﻛﺮﻳﻦ ﻭَﺳَﻬْﻮِ ﺍﻟﻐﺎﻓﻠﻴﻦ .


 . Syaikh Al Imam Al ‘Alim Al ‘Alamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qosim As Syafi’i -Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keridlhoannya amin- berkata : Seluruh pujian hanya hak Allah, memulainya dengan hamdalah karena berharap berkah, karena merupakan permulaan setiap urusan yang penting, penutup setiap puji yang diijabah, dan akhir ungkapan orang-orang mu’min di surga, kampung pahala. Aku memujiNya yang telah memberikan taufiq kepada setiap yang Dia kehendaki dari kalangan para hambanya, untuk tafaquh di dalam Agama sesuai dengan yang dikehendakiNya. Aku bersholawat dan memohonkan keselamatan bagi makhluk termulia, Muhammad penghulu para 
utusan, yang bersabda :

 ﻣَﻦْ ﻳُﺮِﺩِ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺑﻪِ ﺧَﻴْﺮﺍً ﻳُﻔَﻘِّﻬْﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ “

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya maka Dia Ta’ala akan memahamkannya pada agama” (HR. Bukhori[71], Muslim[1037]), demikian pula sholawat dan salam bagi seluruh pengikut dan sahabatnya, selama ada orang-orang yang berdzikir dan adanya orang-orang yang lalai.

 ‏( ﻭﺑﻌﺪ ‏) : ﻫﺬﺍ ﻛﺘﺎﺏ ﻓﻲ ﻏﺎﻳﺔ ﺍﻻﺧﺘﺼﺎﺭ ﻭﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ، ﻭﺿﻌﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ﺑﺎﻟﺘﻘﺮﻳﺐ ﻟﻴﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﺋﻴﻦ ﻟﻔﺮﻭﻉ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻭﺍﻟﺪﻳﻦ، ﻭﻟﻴﻜﻮﻥ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﻟﻨﺠﺎﺗﻲ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ، ﻭﻧﻔﻌﺎً ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺇﻧﻪ ﺳﻤﻴﻊ ﺩﻋﺎﺀ ﻋﺒﺎﺩﻩ، ﻭﻗﺮﻳﺐ ﻣﺠﻴﺐ، ﻭﻣﻦ ﻗﺼﺪﻩ ﻻ ﻳﺨﻴﺐ }ﻭَﺇﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌ{ ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : ﺍﻵﻳﺔ 186 ‏) . ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﻮﺟﺪ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻧﺴﺦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺧﻄﺒﺘﻪ ﺗﺴﻤﻴﺘﻪ ﺗﺎﺭﺓ ﺑﺎﻟﺘﻘﺮﻳﺐ، ﻭﺗﺎﺭﺓ ﺑﻐﺎﻳﺔ ﺍﻻﺧﺘﺼﺎﺭ، ﻓﻠﺬﻟﻚ ﺳﻤﻴﺘﻪ ﺑﺎﺳﻤﻴﻦ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ‏(ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻘﺮﻳﺐ ﺍﻟﻤﺠﻴﺐ ‏) ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺐ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ' ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﻏﺎﻳﺔ ﺍﻻﺧﺘﺼﺎﺭ .' ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻄﻴﺐ : ﻭﻳﺸﺘﻬﺮ ﺃﻳﻀﺎً ﺑﺄﺑﻲ ﺷﺠﺎﻉ ﺷﻬﺎﺏ ﺍﻟﻤﻠﺔ ﻭﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﻷﺻﻔﻬﺎﻧﻲ ﺳﻘﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺛﺮﺍﻩ ﺻﺒﻴﺐ ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﻭﺍﻟﺮﺿﻮﺍﻥ، ﻭﺃﺳﻜﻨﻪ ﺃﻋﻠﻰ ﻓﺮﺍﺩﻳﺲ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ .

Kemudian, kitab ini sangatlah ringkas dan runtut, kitab ini saya berinama At Taqrib, dengan harapan para pemula bisa mengambil manfa’at dalam masalah cabang syari’at dan agama, dan supaya menjadi media bagi kebahagiaanku pada hari pembalasan, serta bermanfa’at bagi para hambanya dari orang- orang Islam. Sesungguhnya Dia maha Mendengar permintaan hambanya, Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan, orang yang memaksudkanNya tidak akan sia-sia “Jika hambaku bertanya kepada mu, maka sesungguhnya Aku sangatlah Dekat”. (QS. Al Baqoroh : 186). Ketahuilah!, dalam sebagian naskah kitab pada muqoddimahnya terkadang penamaanya dengan At Taqrib dan terkadang pula dengan Ghoyatul Ikhtishor, oleh karena itu saya pun manamainya dengan dua nama, pertama Fathul Qorib Al Mujib Fi Syarhi Alfadzi At Taqrib , kedua Al Qaul Al Mukhtar Fi Syarhi Ghoyatil Ikhtishor. As Syaikh Al Imam Abu Thoyyib, dan terkenal pula dengan nama Abi Suja’ Syihabul millah wad dien Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Al Ashfahaniy – semoga Allah memperbanyak curahan rahmat dan keridlhoan kepadanya, dan menempatkannya di surga tertinggi– berkata: 

 ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠّﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ ‏) ﺃﺑﺘﺪﻯﺀ ﻛﺘﺎﺑﻲ ﻫﺬﺍ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﺳﻢٌ ﻟﻠﺬﺍﺕ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺍﻟﻮﺟﻮﺩ، ﻭﺍﻟﺮّﺣﻤﻦ ﺃﺑﻠﻎ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ . ‏( ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ‏) ﻫﻮ ﺍﻟﺜﻨﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺎﻟﺠﻤﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺟﻬﺔ ﺍﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ‏( ﺭﺏِّ ‏) ﺃﻱ ﻣﺎﻟﻚ ‏( ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ‏) ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﻼﻡ، ﻭﻫﻮ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺍﺳﻢ ﺟﻤﻊ ﺧﺎﺹّ ﺑﻤﻦ ﻳﻌﻘﻞ ﻻ ﺟﻤﻊ، ﻭﻣﻔﺮﺩﻩ ﻋﺎﻟﻢ ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﻼﻡ، ﻷﻧﻪ ﺍﺳﻢ ﻋﺎﻡ ﻟﻤﺎ ﺳﻮﻯ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﺍﻟﺠﻤﻊ ﺧﺎﺹّ ﺑﻤﻦ ﻳﻌﻘﻞ . ‏( ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ‏) ﻭﺳﻠﻢ ‏( ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲّ ‏) ﻫﻮ ﺑﺎﻟﻬﻤﺰ ﻭﺗﺮﻛﻪ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺃﻭﺣﻲَ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﺸﺮﻉ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻪ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺆﻣﺮ ﺑﺘﺒﻠﻴﻐﻪ ﻓﺈﻥ ﺃﻣﺮ ﺑﺘﺒﻠﻴﻐﻪ ﻓﻨﺒﻲّ ﻭﺭﺳﻮﻝ ﺃﻳﻀﺎً . ﻭﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻳﻨﺸﻰﺀ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻣﺤﻤﺪ ﻋﻠﻢ ﻣﻨﻘﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﺳﻢ ﻣﻔﻌﻮﻝ ﺍﻟﻤﻀﻌﻒ ﺍﻟﻌﻴﻦ، ﻭﺍﻟﻨﺒﻲّ ﺑﺪﻝ ﻣﻨﻪ ﺃﻭ ﻋﻄﻒ ﺑﻴﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ . ‏(ﻭ ‏) ﻋﻠﻰ ‏( ﺁﻟﻪ ﺍﻟﻄﺎﻫﺮﻳﻦ ‏) ﻫﻢ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻗﺎﺭﺑﻪ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ ﻣﻦ ﺑﻨﻲ ﻫﺎﺷﻢ، ﻭﺑﻨﻲ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ، ﻭﻗﻴﻞ ﻭﺍﺧﺘﺎﺭﻩ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ : ﺇﻧﻬﻢ ﻛﻞّ ﻣﺴﻠﻢ . ﻭﻟﻌﻞّ ﻗﻮﻟﻪ ﺍﻟﻄﺎﻫﺮﻳﻦ ﻣﻨﺘﺰﻉ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : } ﻭَﻳُﻄَﻬِّﺮُﻛُﻢْ ﺗَﻄْﻬِﻴﺮﺍً { ‏( ﻭ ‏) ﻋﻠﻰ ‏(ﺻﺤﺎﺑﺘﻪ ‏) ﺟﻤﻊ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻨﺒﻲّ  ﻭﻗﻮﻟﻪ ‏(ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ‏) ﺗﺄﻛﻴﺪ ﻟﺼﺤﺎﺑﺘﻪ

 [Bismillahirrohmaanirrohim] Aku memulai tulisan ini Allah merupakan nama bagi Dzat Yang Wajib Adanya ‘wajibul wujud’ Ar Rohman lebih menyampaikan daripada Ar Rohim. [Al Hamdu] merupakan pujian kepada Allah Ta’ala dengan keindahan/kebaikan disertai pengagungan. [Robbi] yaitu Yang Maha Menguasai. [Al ‘Aalamin] dengan difatahkan, ia sebagimana pendapat Ibnu Malik : Kata benda jamak yang khusus digunakan bagi yang berakal, bukan seluruhnya. Kata tunggalnya ‘aalam dengan difathahkan huruf lam, ia merupakan nama bagi selain Allah Ta’ala dan jamaknya khusus bagi yang berakal. [Dan sholawat Allah] serta salam [atas pengulu kita, Muhammad sang Nabi] ia dengan hamzah dan tidak dengan hamzah adalah manusia yang diberikan wahyu kepadanya dengan syari’at yang dia beramal dengannya walaupun tidak diperintahkan menyampaikannya, maka jika diperintahkan menyampaikan maka dia Nabi dan Rosul. Maknanya curahkanlah sholawat dan salam kepadanya. Muhammad adalah nama yang diambil dari isim maf’ul al mudlho’af al ‘ain. Dan Nabi merupakan badal dari nya atau ‘athof bayan. [Dan] bagi [keluarganya yang suci], mereka sebagaimana diungkapkan As Syafi’i : Keluarganya yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Al Mutholib, dikatakan dan An Nawawi memilihnya : Mereka adalah seluruh orang muslim. Mudah-mudahan perkataanya ath thohirin diambil dari firmanNya Ta’ala : “dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS. Al Ahzab : 33). [Dan] bagi [para sahabatnya], ia jamak dari shohibun nabi . Dan perkataanya [seluruhnya] merupakan takid ‘penegas’ dari Sahabat.

ﺛﻢ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺃﻧﻪ ﻣﺴﺆﻭﻝ ﻓﻲ ﺗﺼﻨﻴﻒ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺮ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ﺳﺄﻟﻨﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﺻﺪﻗﺎﺀ ‏) ﺟﻤﻊ ﺻﺪﻳﻖ . ﻭﻗﻮﻟﻪ : ‏(ﺣﻔﻈﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏) ﺟﻤﻠﺔ ﺩﻋﺎﺋﻴﺔ ‏(ﺃﻥ ﺃﻋﻤﻞ ﻣﺨﺘﺼﺮﺍً ‏) ﻫﻮ ﻣﺎ ﻗﻞ ﻟﻔﻈﻪ ﻭﻛﺜﺮ ﻣﻌﻨﺎﻩ ‏( ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ ‏) ﻫﻮ ﻟﻐﺔ ﺍﻟﻔﻬﻢ، ﻭﺍﺻﻄﻼﺣﺎً ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﺍﻟﻌﻤﻠﻴﺔ، ﺍﻟﻤﻜﺘﺴﺐ ﻣﻦ ﺃﺩﻟﺘﻬﺎ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻠﻴﺔ . ‏( ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ‏) ﺍﻷﻋﻈﻢ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪ ﻧﺎﺻﺮ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠّﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﺷﺎﻓﻊ . ‏(ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ‏) ﻭﻟﺪ ﺑﻐﺰﺓ ﺳﻨﺔ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﻭﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﺎﺕ ‏(ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺭﺿﻮﺍﻧﻪ ‏) ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺳﻠﺦ ﺭﺟﺐ ﺳﻨﺔ ﺃﺭﺑﻊ ﻭﻣﺎﺋﺘﻴﻦ، ﻭﻭﺻﻒ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻣﺨﺘﺼﺮﻩ ﺑﺄﻭﺻﺎﻑ ﻣﻨﻬﺎ ﺃﻧﻪ ‏( ﻓﻲ ﻏﺎﻳﺔ ﺍﻻﺧﺘﺼﺎﺭ ﻭﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻹﻳﺠﺎﺯ ‏) ﻭﺍﻟﻐﺎﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻣﺘﻘﺎﺭﺑﺎﻥ ﻭﻛﺬﺍ ﺍﻻﺧﺘﺼﺎﺭ ﻭﺍﻹﻳﺠﺎﺯ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺃﻧﻪ ‏( ﻳﻘﺮﺏ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺘﻌﻠﻢ ‏) ﻟﻔﺮﻭﻉ ﺍﻟﻔﻘﻪ ‏( ﺩﺭﺳﻪ ﻭﻳﺴﻬﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻯﺀ ﺣﻔﻈﻪ ‏) ﺃﻱ ﺍﺳﺘﺤﻀﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮ ﻗﻠﺐ ﻟﻤﻦ ﻳﺮﻏﺐ ﻓﻲ ﺣﻔﻆ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ .


 Kemudian penulis menyebutkan bahwa dia menulis ringkasan ini karena suatu permintaan, dalam perkataannya : [sebagian ‘al asdhiqo’ sahabat- sahabtku memintaku], ia jamak dari shodiiq. Dan perkataanya : [semoga Allah Ta’ala menjaga mereka], ia merupakan kalimat du’a. [supaya aku membuat suatu ringkasan], ia adalah sesuatu yang sedikit lafadznya dan banyak maknanya [dalam fiqih], ia secara bahasa bermakna pemahaman, adapun secara istilah adalah pengetahuan mengenai hukum-hukum syar’iyah ‘amaliyah yang diusahakan dari dalil-dailnya yang rinci. [Madzhab Al Imam] yang mulia, mujtahid, penolong sunnah dan agama, Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Al Abbas bin Utsman bin Syafi’i. [Asy Syafi’i] dilahirkan di Gaza tahun 150 H dan wafat [semoga kepadanya tercurah rahmat dan keridlhoanNya] hari Jum’at akhir bulan Rajab tahun 204 H. Penulis mensifati ringkasannya dengan ragam sifat, diantaranya [pada puncak ringkasan dan akhir rangkuman] dan kata-kata al ghoyah dan nihayah memiliki kedekatan makna, demikian pula al ikhtisor dan al ijaz, diantara sifatnya pula [mendekatkan pemahaman pada pelajar] kepada cabang fiqih [untuk mempelajarinya dan mempermudah para pemula untuk menghafalnya] yakni menghadirkannya dari hafalan bagi orang-orang yang berkeinginan menghafal ringkasan ilmu fiqih. 

 ‏(ﻭ ‏) ﺳﺄﻟﻨﻲ ﺃﻳﻀﺎً ﺑﻌﺾ ﺍﻷﺻﺪﻗﺎﺀ ‏(ﺃﻥ ﺃﻛﺜﺮ ﻓﻴﻪ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺮ ‏( ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻘﺴﻴﻤﺎﺕ ‏) ﻟﻸﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ‏(ﻭ ‏) ﻣﻦ ‏( ﺣﺼﺮ ‏) ﺃﻱ ﺿﺒﻂ ‏( ﺍﻟﺨﺼﺎﻝ ‏) ﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺔ ﻭﺍﻟﻤﻨﺪﻭﺑﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ‏( ﻓﺄﺟﺒﺘﻪ ﺇﻟﻰ ‏) ﺳﺆﺍﻟﻪ ﻓﻲ ‏( ﺫﻟﻚ ﻃﺎﻟﺒﺎً ﻟﻠﺜﻮﺍﺏ ‏) ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﺰﺍﺀ ﻋﻠﻰ ﺗﺼﻨﻴﻒ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺮ ‏( ﺭﺍﻏﺒﺎً ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ‏) ﻓﻲ ﺍﻹﻋﺎﻧﺔ ﻣﻦ ﻓﻀﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺗﻤﺎﻡ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺮ ﻭ ‏( ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻟﻠﺼﻮﺍﺏ ‏) ﻭﻫﻮ ﺿﺪ ﺍﻟﺨﻄﺄ ‏(ﺇﻧﻪ ‏) ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏( ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﺸﺎﺀ ‏) ﺃﻱ ﻳﺮﻳﺪ ‏( ﻗﺪﻳﺮ ‏) ﺃﻱ ﻗﺎﺩﺭ ‏( ﻭﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻟﻄﻴﻒ ﺧﺒﻴﺮ ‏) ﺑﺄﺣﻮﺍﻝ ﻋﺒﺎﺩﻩ، ﻭﺍﻷﻭﻝ ﻣﻘﺘﺒﺲ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : } ﺍﻟﻠّﻪُ ﻟَﻄِﻴﻒٌ ﺑِﻌِﺒَﺎﺩِﻩِ { ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ : ﺍﻵﻳﺔ 19 ‏) ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : } ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﺤﻜِﻴﻢُ ﺍﻟﺨﺒﻴﺮُ{ ‏(ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : ﺍﻵﻳﺔ 18 ‏) ﻭﺍﻟﻠﻄﻴﻒ ﻭﺍﻟﺨﺒﻴﺮ ﺍﺳﻤﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻭﻣﻌﻨﻰ ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺑﺪﻗﺎﺋﻖ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﻭﻣﺸﻜﻼﺗﻬﺎ، ﻭﻳﻄﻠﻖ ﺃﻳﻀﺎً ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﺮﻓﻴﻖ ﺑﻬﻢ، ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﺎﻟﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ، ﻭﺑﻤﻮﺍﺿﻊ ﺣﻮﺍﺋﺠﻬﻢ، ﺭﻓﻴﻖ ﺑﻬﻢ، ﻭﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﻦ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻷﻭﻝ، ﻭﻳﻘﺎﻝ ﺧﺒﺮﺕ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺃﺧﺒﺮﻩ ﻓﺄﻧﺎ ﺑﻪ ﺧﺒﻴﺮ، ﺃﻱ ﻋﻠﻴﻢ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .

[Dan] sebagian sahabat meminta pula supaya aku [memperbanyak didalamnya] yakni di dalam ringkasan tersebut [pembagian-pembagian] ahkam fiqhiyyah [dan] dari [membatasi] yakni seksama [dalam menentukan] yang wajib, mandzub dan selain keduanya. [Maka aku berkeinginan mengabulkan pada] permintaannya karena [mengharap pahala] dari Allah Ta’ala atas usaha menulis ringkasan ini. [Harapan hanya kepada Allah yang maha suci lagi maha tinggi] di dalam bantuan –dari keutamaanNya– untuk menuntaskan ringkasan ini, dan [harapan pula hanya kepada Allah, untuk mendafatkan taufiq pada kebenaran], ia merupakan lawan dari salah. [SesungguhNya] Ta’ala [atas segala sesuatu yang dikehendakiNya yakni diinginkannya [Maha Mampu] yakni Maha Sanggup [dan Dia kepada para hambanya Maha Lembut lagi Maha Mengetahui] keadaan para hambanya. Yang pertama diambil dari firmanNya Ta’ala “Allah Maha Lembut kepada para hambanya” (QS. Asy Syuro : 19), yang kedua diambil dari firmanNya Ta’ala “Dan Dia Maha Bijaksana lgi Maha Mengetahui” (QS. Al An’am : 18), al lathif dan al Khobir merupakan dua nama diantara nama-nama Allah Ta’ala. Makna yang pertama ‘al lathif’ yang mengetahui segala sesuatu secara detil dan permasalahan-permasalahannya, ia kadang dimutlakan pula pada makna Maha lembut kepada mereka, maka Allah Maha Mengetahui tentang para hambanya dan tempat-tempat kebutuhan/kehendak/keinginan mereka lagi Maha lembut kepada mereka. Makna yang kedua memiliki kedekatan makna dengan yang pertama, dikatakan : khobartu asysyaia akhbarohu fa anaa bihi ke, yakni mengetahui.

Selanjutnya klik disini