Senin, 20 Mei 2019

Sittin pembahasan haji



(Haji itu hukumnya wajib) seumur hidup satu kali (bagi orang yang mampu terhadapnya menempuhnya) hukum-hukum haji) yakni haji (diketahui didalam kitab-kitab Fiqih) bagi orang yang bertanya tentang hukum-hukum haji dan mau mempelajarinya, dan semisal haji pada apa yang telah disebutkan ialah umroh. Syarat wajib keduanya ialah: islam, mukalaf, merdeka, kuasa. Kuasa itu ada dua macam, salah satunya ialah kuasa melakukannya, dan hal itu ada beberapa syarat: 1. Adanya bekal yang dibutuhkan bagi pelaksana haji diperjalanannya dalam pemberangkatan dan kepulangannya. 2. Adanya kendaraan bagi orang yang antara tempat dia dan mekah berjarak dua marhalah, dan bagi orang yang lemah untuk jalan kaki [walau jaraknya kurang dari 2 marhalah] apabila dia menemui kepayahan yang sangat ketika mengendarai kendaraan [seperti unta, bigol, himar, motor] maka disyaratkan adanya sekdop [bagasi unta] dikendaraannya yang mana ia duduk disitu dan temannya disebelahnya. 3. Jalannya aman dengan sangkaan yang kuat dengan sekiranya apa yang layak untuk bepergian, wajib menaiki kapal laut bila mendominasi ( kemungkinan besar adanya ) keselamatan, disyaratkan adanya air dan bekal ditempat yang lumrah membawanya dari tempat itu dengan harga pasaran, yaitu kadar yang layak baginya diwaktu dan tempat itu, disyaratkan bagi perempuan ketika berangkat haji agar didampingi suaminya atau mahramnya atau bersama wanita-wanita yang dipercaya atau budaknya yang dipercaya, wajib memberi upah pada mahram apabila ia tidak mau menemani kalau tidak diberi upah. 4. Ketika berada dikendaraan tidak merasa sangat payah, bagi orang buta ketika haji, mesti ada yang menuntun dan orang buta itu harus memberi upah /imbalan bila orang yang nuntun itu tidak bersedia tanpa upah, dan disyaratkan adanya upah itu lebihan dari utangnya dan lebihan dari biaya orang yang wajib ia biayai dari masa pergi dan pulangnya. dan lebihan dari (biaya untuk) rumahnya, dan biaya budak yang ia perlukan untuk membantunya. Disyaratkan untuk haji pula, yaitu memungkinkannya berjalan, ialah berjalan menuju haji dengan berjalan yang umum dikenal. Macam kedua ialah kuasa berhasilnya haji dengan orang lain, barangsiapa mati sedangkan dalam tanggungan dia ada haji dan umroh maka haji itu wajib dikerjakan untuk nya dari harta peninggalannya. Barangsiapa tidak mampu dari haji atau umroh oleh dirinya dan ia dapat memberi upah ke orang yang akan berhaji untuk nya, maka haji itu wajib padanya. dan disyaratkan adanya upah itu ialah lebihan dari apa yang telah dulu disebut, selain biaya orang yang wajib ia biayai dimasa pergi dan pulangnya.

Syarat sah keduanya (haji dan umroh) ialah islam, syarat sah melangsungkan keduanya: islam, pintar (orang atau bocah yang sudah bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk). Syarat berlakunya keduanya dari haji islam dan umrohnya yang melakukannya ialah orang mukalaf yang merdeka (bukan budak). Rukun-rukun haji ada lima [ada enam, yang keenamanya tartib rukun yang besar, ket khasyiah] 1 ihram serta niat, 2 wuquf. 3. Thawaf, 4. Sa'i,  5. Bercukur. Rukun-rukun umroh ialah: ihram, thawaf, sa'i,  dan bercukur. [Rukun lainya tartib ]. Sebagian wajib-wajib haji ialah ihrom dari miqot, lempar jumrah-jumrah, bermalam dimuzdalifah, bermalam dimina pada malam-malam tasyriq, dan thawaf wada'. Sebagian dari sunah-sunah haji ialah thowaf qudum, bacaan talbiyah diselama ihromnya selain dithowaf qudum, selain sa'i setelah thowaf qudum, thowaf ifadloh, dan wada', lafadznya talbiyah ialah: 

ﻟَﺒَّﻴْﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻟَﺒَّﻴْﻚَ، ﻟَﺒَّﻴْﻚَ  ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻚَ ﻟَﺒَّﻴْﻚَ، ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻭَﺍﻟﻨِّﻌْﻤَﺔَ ﻟَﻚَ ﻭَﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻚَ

LABBAIKAOLLOHUMMA LABBAIK, LABBAIKA LA SYARIIKALAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WANNI'MATA LAKA WALMULKA LAA SYARIIKA LAK

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.” 

Bila dia (orang yang bertalbiyah) melihat apa yang ia merasa takjub maka ia berkata 

لَبَّيْكَ اِنَّ الْعَيْشَ عَيْشَ الْاٰخِرَةِ

LABBAIK INNAL 'AISYA 'AISYAL AAKHIROH 

saya memenuhi panggilan mu, sesungguhnya kehidupan yang senatiasa senang ialah kehidupan di desa ahirat (dalam surga) 

Apabila ia selesai dari bacaan talbiyah maka ia baca solawat atas nabi SAW, dan mencari perlindunga kepada Allah dari neraka, meminta padanya akan surga dan keridloannya.

Kami meminta padamu yaAllah agar engkau memberi perlindungan pada kami dari neraka dan memasukkan kami kesurga darul qoror dan engkau rido pada kami dengan rahmat darimu wahai tuhan yang maha perkasa maha pengampun, bahagiakanlah kami dengan melihat dzat mu yang mulia beserta para kekasihmu yang bersih-bersih yang pilihan-pilihan. Semoga Allah mencurahkan rahmatnya kepada baginda kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya dan Allah mecurahkan keselamatan. 


Jumat 16 Oktober 2020 M

Sittin pembahasan zakat


(Zakat itu wajib pada apa yang wajib didalamnya) kewajiban zakat dari hewan ialah: unta, sapi dan kambing. Dari buah-buahan ialah: kurma dan anggur. Dari biji-bijian ialah: gandum, biji gandum/jagung, kacang ful, padi dan selainnya dari bahan makanan pokok, makanan bukan dalam keadaan darurat. Dari perhiasan ialah: Emas dan perak. Dan dari harta benda selain emas perak ialah: barang-barang dagangan. Syarat wajib zakat ada 5 perkara: Islam, merdeka, hak milik penuh, sudah setahun dimiliki, kecuali pertambangan emas perak dan harta karun digembalakan/ diumbar setahun dalam unta, sapi dan kambing. (Dengan nisobnya zakat) yakni zakat (yang diketahui) dalam kitab-kitab fiqih bagi yang meminta/bertanya akan keterangan nisob zakat dan mempelajarinya,
Awalnya nisob pada unta ialah 5 ekor unta, dalam 5 ekor unta tersebut zakatnya domba jad'ah yaitu domba atau biri-biri yang sudah berumur satu tahun, atau dua kambing berumur 2 tahun. Pada sepuluh unta zakatnya dua domba. Pada 15 unta zakatnya 3 domba. Pada 20 unta zakatnya 4 domba. Pada 25 unta zakatnya satu unta binta makhod [ unta sudah berumur setahun]. Pada 36 unta zakatnya satu unta binta labun [unta sudah berumur 2 tahun]. Pada 46 unta zakatnya satu unta hiqqoh [unta sudah berumur 3 tahun]. Pada 61 unta zakatnya satu unta jad'ah [unta sudah berumur 4 tahun]. Pada 76 unta zakatnya dua unta binta labun. Pada 91 unta zakatnya dua unta hiqqoh. Pada 121 unta zakatnya tiga unta binta labun, kemudian pada tiap 40- an adalah unta binta labun, dan pada tiap 50-an adalah unta hiqqoh. Unta bintu makhod ialah unta berumur setahun, unta binta labun ialah unta berumur dua tahun, unta hiqqoh berumur tiga tahun, unta zad'ah berumur empat tahun. Awalnya nisob pada sapi adalah 30, dan pada 30 itu zakatnya adalah sapi tabi', sapi berumur setahun, kemudian pada tiap 30-an adalah sapi tabi' dan pada tiap 40-an sapi masinnah, sapi yang berumur dua tahun. Awal nisob pada kambing ialah 40, pada 40 kambing tersebut zakatnya satu ekor kambing, pada 121 zakatnya dua kambing, pada 201 zakatnya tiga kambing, pada 400 zakatnya empat kambing, kemudian pada tiap seratusan zakatnya satu kambing. Awal nisob pada buah-buahan dan biji-bijian yang keduanya telah lalu ialah 5 wasaq (sekitar 12 kwintal padi ada juga yang mengatakan  1.323,132 kg padi / 652,8 kg beras, ada juga yang bilang 720 kg beras), yaitu 1600 kati baghdad, satu kati baghdad ialah 128 dan empat pertujuh (4/7) dirham, kira-kira (nisob) itu dengan takaran mesir ialah enam dan seperempat takaran mesir, yang jadi hitungan nisob pada kurma dan anggur ialah bila kurma telah jadi kurma kering anggur telah jadi anggur kering, bila belum seperti itu maka kurma setengah matang atau anggur basah, buah atau bijian yang disimpan bersama kulitnya seperti padi dan gandum maka nisobnya 10 wasaq, kemudian bila tanaman buah atau bijian itu diairi dengan penyiraman manual, kincir angin, timba katrol, kincir air, atau dengan air yang dapat beli, atau pemberian orang, atau air hasil rampasan, maka wajib zakat padanya separuh perpuluh  (5%), bila pengairannya dengan semisal irigasi, atau dari hujan maka wajib zakat padanya seperpuluh [1/10] , (10%).

Awalnya nisob pada Emas ialah 20 mitsqol (sekitar 85 gram pendapat lain 96 gram, / 77 gram ) nisob pada perak 200 dirham dengan timbangan mekah (672 gram, pendapat lain 543 gram . Wajib pada kedua nya zakatnya seperempat perpuluh (2,5%), wajib pada seperempat perpuluh itu pada yang diharamkan dan dimakruhkan dari perhiasan dan lainnya, sebagian dari yang diharamkan terhadap laki-laki dan perempuan ialah ( menggunakan) bejana terbuat dari emas atau perak, sebagian yang diharamkan ialah perhiasan wanita dipakai oleh laki-laki, haram terhadap laki-laki memakai perhiasan dari emas kecuali hiasan hidung, jari tangan, dan gigi, halal bagi laki-laki perhiasan dari perak berupa cincin, perhiasan alat perang seperti pedang kecuali untuk menghambur- hamburkan saja, dan halal perhiasan untuk mushaf, haram terhadap wanita menghiasi alat perangnya (dengan emas atau perak), berlebih-lebihan dalam perhiasan seperti pada gelang kaki yang beratnya 200 dinar. Sebagian dari apa yang wajib padanya seperempat perpuluh adalah pertambangan emas, yaitu emas perak yang dikeluarkan dari pertambangan dari tanah yang mubah, atau tanah milik sendiri orang yang menggalinya. Wajib pada Rikaz (harta terpendam) seperlima (1/5) rikaz ialah emas perak / harta yang ada dari buatan orang jahiliyah ( zaman sebelum islam) terdapat dalam tanah milik sendiri yang digarap atau tanah mati (tanah yang tidak ada pemiliknya) atau penggali kubur yang melampau batas atau kuburan jahiliyah atau rumah kosongnya orang jahiliyah. Wajib seperempat perpuluh pada barang/harta benda yang tercampur dengan niat dagang dengan usahanya dengan penukaran seperti pembelian atau khulu' nisob nya itu dihitung dengan ahir tahun. Wajib zakat fitrah dengan sebab mendapati bagian ahir dari bulan romadon beserta bagian awal dari bulan syawal terhadap orang memiliki apa yang lebih dari bahan makanan dia dan bahan pakan orang yang wajib menafkahinya pada malam hari raya  dan siang harinya, dan apa yang lebih dari selengkap pakaiannya dan bagi orang yang wajib menafkahinya dan apa yang lebih dari rumahnya dan pembantu yang layak baginya dan ia butuh pada pembantu itu, bukan dari hutang.

Zakat fitrah itu ialah satu sho' bahan utama makanan pokok negara orang yang mengeluarkan zakat darinya, barangsiapa  wajib padanya zakat fitrah dirinya maka ia wajib menzakati fitrah orang yang wajib ia nafkahi, tatapi orang islam tidak wajib memfitrahi orang kafir yang wajib ia nafkahi, dan seorang anak tidak wajib memfitrahi istri bapaknya (ibu tiri) dan yang dilahirkan oleh istri bapaknya itu, tidak wajib fitrah terhadap budak dan tidak pula terhadap orang kafir, kecuali memfitrahi pada orang islam yang nafkahnya kewajiban orang kafir, dan budak muba'ad yang sebagian darinya merdeka/bukan budak, wajib padanya memfitrahi kira-kira apa yang merdeka pada nya bilamana tidak ada antara dia dan tuannya suatu giliran, bila ada giliran maka zakat fitrahnya wajib terhadap orang yang terkena masa wajib pada gilirannya. Bagi orang yang menafkahi orang banyak sedangkan ia tidak dapat memenuhi zakat untuk semuanya maka ia mendahulukan fitrah untuk dirinya kemudian istrinya kemudian anaknya yang kecil kemudian ayah lalu ibu bila mereka berdua membutuhkannya kemudian anaknya yang besar.


Selanjutnya bahas puasa klik disini

Sabtu, 04 Mei 2019

Fathul muin bab puasa

ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺼﻮﻡ
ﻭﻫﻮ ﻟﻐﺔ : ﺍﻻﻣﺴﺎﻙ . ﻭﺷﺮﻋﺎ : ﺇﻣﺴﺎﻙ ﻋﻦ ﻣﻔﻄﺮ ﺑﺸﺮﻭﻃﻪ ﺍﻵﺗﻴﺔ . ﻭﻓﺮﺽ ﻓﻲ ﺷﻌﺒﺎﻥ، ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻬﺠﺮﺓ . ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺧﺼﺎﺋﺼﻨﺎ، ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﻠﻮﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺑﺎﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ‏( ﻳﺠﺐ ﺻﻮﻡ ‏) ﺷﻬﺮ ‏( ﺭﻣﻀﺎﻥ‏) ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ، ﺑﻜﻤﺎﻝ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ، ﺃﻭ ﺭﺅﻳﺔ ﻋﺪﻝ ﻭﺍﺣﺪ، ﻭﻟﻮ ﻣﺴﺘﻮﺭﺍ ﻫﻼﻟﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻐﺮﻭﺏ، ﺇﺫﺍ ﺷﻬﺪ ﺑﻬﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ، ﻭﻟﻮ ﻣﻊ ﺇﻃﺒﺎﻕ ﻏﻴﻢ، ﺑﻠﻔﻆ : ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻧﻲ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﻬﻼﻝ، ﺃﻭ ﺃﻧﻪ ﻫﻞ . ﻭﻻ ﻳﻜﻔﻲ : ﻗﻮﻟﻪ : ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻏﺪﺍ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ. ﻭﻻ ﻳﻘﺒﻞ ﻋﻠﻰ ﺷﻬﺎﺩﺗﻪ ﺇﻻ ﺑﺸﻬﺎﺩﺓ ﻋﺪﻟﻴﻦ، ﻭﺑﺜﺒﻮﺕ ﺭﺅﻳﺔ ﻫﻼﻝ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺑﺸﻬﺎﺩﺓ ﻋﺪﻝ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ - ﻛﻤﺎ ﻣﺮ - ﻭﻣﻊ ﻗﻮﻟﻪ ﺛﺒﺖ ﻋﻨﺪﻱ : ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﻤﺮﺋﻲ ﻓﻴﻪ،
Puasa menurut bahasa ialah menahan diri dan menurut syara agama ialah menahan diri dari yang membatalkan dengan syarat-syarat yang akan datang nanti. puasa difardhukan di bulan Sya'ban di tahun kedua setelah hijrahnya nabi, Puasa merupakan bagian dari keistimewaan kita umat Islam dan bagian dari yang diketahui dari agama dengan keharusan. wajib puasa bulan Romadhon secara ijma' dengan sebab sempurnanya bulan Sya'ban 30 hari atau dengan satu orang adil melihat Hilal, walaupun keadilan orang itu tertutup melihat Hilal setelah terbenamnya matahari apabila ia bersaksi atas melihat Hilal di hadapan kadi /pemutus hukum walau serta mendung menutupi Hilal, dengan kata-kata: Aku bersaksi Sesungguhnya aku telah melihat Hilal atau ia berkata sesungguhnya bulan itu sudah tanggal 1 dan tidak cukup perkataan dia dengan ucapan: Aku bersaksi sesungguhnya besok itu bagian dari bulan Romadhon dan tidak diterima persaksian orang Adil yang melihat Hilal itu kecuali dengan saksi 2 orang adil dan ditetapkan melihat Hilal itu dihadapan kodi dengan orang adil seperti apa yang sudah lewat dan beserta perkataan kodi: "ditetapkan Hilal padaku" maka wajiblah puasa atas seluruh ahli daerah penglihat Hilal di daerah itu,

ﻭﻛﺎﻟﺜﺒﻮﺕ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ : ﺍﻟﺨﺒﺮ ﺍﻟﻤﺘﻮﺍﺗﺮ ﺑﺮﺅﻳﺘﻪ، ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﻛﻔﺎﺭ، ﻻﻓﺎﺩﺗﻪ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﻱ، ﻭﻇﻦ ﺩﺧﻮﻟﻪ ﺑﺎﻻﻣﺎﺭﺓ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﺗﺘﺨﻠﻒ ﻋﺎﺩﺓ: - ﻛﺮﺅﻳﺔ ﺍﻟﻘﻨﺎﺩﻳﻞ ﺍﻟﻤﻌﻠﻘﺔ ﺑﺎﻟﻤﻨﺎﺋﺮ - ﻭﻳﻠﺰﻡ ﺍﻟﻔﺎﺳﻖ ﻭﺍﻟﻌﺒﺪ ﻭﺍﻻﻧﺜﻰ : ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﺮﺅﻳﺔ ﻧﻔﺴﻪ، ﻭﻛﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻋﺘﻘﺪ ﺻﺪﻕ ﻧﺤﻮ ﻓﺎﺳﻖ ﻭﻣﺮﺍﻫﻖ ﻓﻲ ﺃﺧﺒﺎﺭﻩ ﺑﺮﺅﻳﺔ ﻧﻔﺴﻪ، ﺃﻭ ﺛﺒﻮﺗﻬﺎ ﻓﻲ ﺑﻠﺪ ﻣﺘﺤﺪ ﻣﻄﻠﻌﻪ : - ﺳﻮﺍﺀ ﺃﻭﻝ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺻﺢ ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ : ﺃﻥ ﻟﻪ - ﺑﻞ ﻋﻠﻴﻪ - ﺍﻋﺘﻤﺎﺩ ﺍﻟﻌﻼﻣﺎﺕ ﺑﺪﺧﻮﻝ ﺷﻮﺍﻝ، ﺇﺫﺍ ﺣﺼﻞ ﻟﻪ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺟﺎﺯﻡ ﺑﺼﺪﻗﻬﺎ  ﻛﻤﺎ ﺃﻓﺘﻰ ﺑﻪ ﺷﻴﺨﺎﻧﺎ : ﺍﺑﻦ ﺯﻳﺎﺩ ﻭﺣﺠﺮ، ﻛﺠﻤﻊ ﻣﺤﻘﻘﻴﻦ ﻭﺇﺫﺍ ﺻﺎﻣﻮﺍ - ﻭﻟﻮ ﺑﺮﺅﻳﺔ ﻋﺪﻝ - ﺃﻓﻄﺮﻭﺍ ﺑﻌﺪ ﺛﻼﺛﻴﻦ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﻭﺍ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻏﻴﻢ، ﻟﻜﻤﺎﻝ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﺑﺤﺠﺔ ﺷﺮﻋﻴﺔ . ﻭﻟﻮ ﺻﺎﻡ ﺑﻘﻮﻝ ﻣﻦ ﻳﺜﻖ، ﺛﻢ ﻟﻢ ﻳﺮ ﺍﻟﻬﻼﻝ ﺑﻌﺪ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺤﻮ : ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﻟﻪ ﺍﻟﻔﻄﺮ،

Kamis, 07 Maret 2019

Pembahasan solat syarah sittin



(Adapun solat maka syarat-sarat wajibnya ada empat) yang pertama (islam) maka solat itu tidak wajib terhadap orang kafir asli, kewajiban untuk solat yang dituntut didunia, karena solat tidak sah dari orang kafir, tetapi dia akan disiksa diakhirat atas dasar tidak solat. Adapun orang murtad maka tidak gugur baginya kewajiban solat dengan sebab murtad, maka wajib baginya apabila ia kembali pada islam meng-Qodo apa yang sudah berlalu baginya pada waktu murtad, memang benar ia harus meng-Qodo solat atau kewajiban lainya diwaktu murtad tetapi wanita yang murtad tidak mesti meng-Qodo solatnya diwaktu haid atau nifas pada saat murtad.
Kedua syarat syarat wajibnya solat ialah (balig) maka tidak wajib solat bagi yang belum balig  tetapi wajib bagi pengurus anak yang belum balig untuk memerintahkan solat bila anak itu sudah berumur tujuh tahun dengan syarat tamyiz /sudah pintar [sudah bisa makan sendiri minum sendiri cebok sendiri] dan memukulnya [ dengan pukulan yang tidak membahayakan] bila meninggalkan solat ketika sudah berumur sepuluh tahun.
Ketiga dari 4 syarat wajib solat ialah (berakal) maka tidak wajib solat terhadap orang yang hilang akalnya sebab gila, atau ayan/epilepsi, atau sebagainya. Karena berdasarkan hadits nabi:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ
عَنِ الصَّبي حتى يبلغ وعن النائم حتى يستيقظ وعن المجنون حتى يفيق
Diangkat pena (catatan amal) dari tiga orang, dari anak kecil hingga ia balig, dari orang tidur hingga ia bangun, dari orang gila hingga ia sembuh dari gilanya.
Memang benar orang yang hilang akalnya itu tidak wajib solat tetapi siapa saja orang yang hilang akalnya dengan sebab disengaja-sengaja seperti meminum minuman yang memabukkan atau makan obat yang dapat menghilangkan akal sedang dia tahu perbuatannya dapat menghilangkan akal dan atas keinginan sendiri tanpa paksaan, maka dia wajib meng-Qodo apa yang terlewat dimasa itu, tetapi wanita tidak meng-Qodo dimasa haid dan nipas dimasa itu [ masa hilangnya akal karena sengaja ].
Keempatnya ialah(suci dari haid dan nifas) maka solat tidak wajib terhadap orang yang haid dan orang yang nifas karena tidak sahnya solat dari mereka. Syarat wajib solat disebagian Nusakh gugur / tidak tersebut.
(Syarat-syarat sahnya solat ada delapan) awalnya ialah (Tamyiz/pintar) tamyiz ialah anak yang sudah bisa memahami bila diajak bicara dan menjawabi, maka tidak sah solatnya orang yang belum tamyiz.
Kedua syarat sahnya solat ialah (mengetahui kefarduan solat) yakni solat yang difardukan, maka tidak sah solatnya orang yang tidak mengetahui kefarduan solat.
Ketiga syarat sahnya solat ialah (bisa membedakan fardunya solat dari sunah-sunahnya solat) maka kalau tidak bisa membedakan rukun dari sunah-sunahnya solat maka tidak sah solatnya kecuali ia meyakini bahwa sumua perbuatan dalam solat adalah fardu, atau orang bodoh yang beranggapan sebagian perbuatan dalam solat itu fardu dan sebagian yang lain itu adalah sunah dengan syarat tidak beranggapan terhadap yang sunah adalah fardu.
Ke-empatnya ialah (mengetahui masuknya waktu secara yakin, atau dugaan yang kuat) yaitu tahu masuknya waktu atau menduga dengan dugaan yang kuat telah masuk waktu, maka barang siapa solat tanpa itu semua maka tidak sah ibadahnya walaupun berlangsung diwaktunya.
Kelimanya ialah (menutup aurat) dengan apa yang dapat menghalangi terlihatnya warna kulit walaupun orang yang solat itu ditempat sepi dalam gelap. Maka bila tidak menutup aurat padahal mampu untuk menutup aurat maka tidak sah solatnya, (aurat laki-laki) yakni pria (dan Amat) yakni perempuan yang menjadi budak/ sahaya (ialah apa yang diantara pusar dan dengkul) karena berdasarkan hadits nabi:
اذا زوج احدكم امته عبده او اجيره فلا ينظر الى عورته والعورة ما بين السرة والركبة
apabila salah seorang dari kamu mengawinkan budak perempuannya kepada budak laki-lakinya atau kepada pembantunya maka janganlah kamu melihat auratnya dan aurat itu adalah apa yang diantara pusar dan dengkul.
Amat disamakan dengan laki-laki [dalam hukum aurat] perkataan kiyai musonif memberlakukan bahwa pusar dan dengkul bukan bagian dari aurat demikian pula hukumnya [tapi keduanya wajib ditutupi].
(Aurat perempuan merdeka [bukan budak] ialah seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua tapak tangannya ) luar dan dalamnya /depanbelakang sampai pergelangan tangan karena berdasarkan firman Allah:
وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا 
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. (Annur : 31)
Berkata Ibnu Abbas dan Ibnu Umar dan Aisyah semoga Allah meridloi mereka : apa yang nampak itu wajah dan tapak tangan.
Ke-enamnya syarat sahnya solat ialah (menghadap kiblat) yakni ka'bah dengan dada maka bila seseorang yang kuasa, meninggalkan menghadap kiblat maka tidak sah solatnya (kecuali pada solat syiddatul khauf/ solat dalam perang) maka tidak disyaratkan menghadap kiblat di solat tersebut. (Dan solat sunah safar/bepergian) yang mubah ketujuan yang di ketahui, maka tidak di syarat kan menghadap kiblat pada solat sunah safar kecuali pada takbiratul ihram orang yang bepergiannya jalan kaki, pada ruku' dan sujudnya juga, dan kecuali pada orang yang solat dalam sekedop [tempat tidur yang ada dipunggung unta atau kendaraan] dan kecuali pada takbiratul ihromnya orang yang mengendarai selain apa yang disebutkan, kalau mudah menghadap kiblat disitu bila mampu. Dua perkara pengecualian ini disebagian nusakh gugur/tidak ada.
Ketujuhnya ialah (suci) badan,  (pakaian dan tempat solatnya) dari najis yang tidak dimaafkan 
Maka tidak sah solat beserta najis tersebut yang berada di salah satu dari 3 tersebut [badan,pakaian dan tempat] adapun najis yang dimaafkan maka sah solat besertanya seperti darah tumbila /bangsat/tatinggi, tahi/ kotoran lalat, darah bisul, darah luka/koreng, nanah dan shodid [lendir campur darah]. Ketahuilah sesungguhnya islam itu syarat bagi setiap ibadah yang membutuhkan niat seperti solat dan lainya hingga bila seseorang murtad dipertengahan solatnya maka batal lah solatnya, kiyai musonif tidak menyebut islam disyarat solat ini, karena islam tidak dikhususkan pada solat dan karena jelasnya islam. (Fardu-fardu solat) yakni rukun-rukun solat (ada delapan belas) yang pertama (adalah niat) karena berdasarkan hadits nabi:
اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ
Sesungguhnya sahnya amal itu dengan niat.
Wajib seseorang untuk niat dalam solat fardu akan tiga perkara, 1. Niat mengerjakan solat. 2. Niat menyatakan solat seperti subuh dan lainnya. dan 3. Niat kefarduan solat.
Yang kedua rukun solat ialah (takbiratul ihrom) yaitu ucapan Allahu akbar dan tidak apa-apa ada tambahan yang tidak mencegah nama takbir seperti lapadz Allahuljalilu akbar. Wajib membarengkan niat dengan awal Takbiratul Ihram dan terus-menerus hingga akhir Takbiratul Ihram. ketiganya ialah (berdiri bagi yang mampu) dalam salat fardu karena berdasarkan perkataan nabi SAW kepada Imron Husein dan keadaan Imron mengidap penyakit bawasir ambien, nabi berkata shalatlah kamu sambil berdiri, bila tidak mampu maka sambil duduk, bila tidak mampu juga maka sambil tiduran miring, bila tidak mampu maka tiduran terlentang, Allah tidak memberi tanggungan kepada diri seseorang kecuali semampunya. keluar dari yang mampu berdiri / kuasa berdiri yaitu orang yang tidak mampu berdiri, maka ia salat semampu sekira kira keadaannya, maka dia salat sambil duduk bila tidak mampu maka sambil tiduran miring bila tidak mampu maka sambil tiduran terlentang bila tidak mampu maka dengan isyarah pakai kedipan matanya bila tidak mampu maka ia menjalankan semua perbuatan salatnya dengan hatinya, seseorang tidaklah meninggalkan shalat selagi akalnya / kesadarannya masih ada, dan termasuk dalam pengertian tidak mampu yaitu orang yang mendapati kepayahan yang nyata dengan berdiri seperti pusingnya kepala bagi yang mengendarai perahu. Adapun salat Sunnah maka dibolehkan seseorang solat sambil duduk atau tiduran miring.
Yang ke-empat rukun solat ialah (bacaan fatihah) dalam berdiri ditiap-tiap rakaat kecuali rakaat makmum masbuk [orang yang tidak mendapati masa yang memuat untuk membaca fatihah bersama imam] dan wajib tartibnya fatihah dan mualatnya fatihah.
Yang kelima ialah (ruku') paling sedikitnya ruku' ialah membungkuk sekiranya kedua tapak tangan sampai dilututnya dengan membungkuk bukan dengan inhinas/ ngadengkeng [ leher kebelakang dada maju kedepan].
Ke-enamnya ialah ( tuma'ninah ruku') yakni ruku' dengan rupa diamnya /tenangnya anggota badanya sebelum mengangkat berdiri.
Ketujuh dan kedelapannya ialah ( i'tidal dan tuma'ninahnya) walau dalam solat sunah. Kesembilannya ialah (sujud) paling sedikit sujud ialah menempelkan sabagian dahi ke tempat sujud dengan keadaan tidak ada penghalang pada dahinya, benar tidak sah sujud kalau ada penghalang didahi/kening, tetapi bila dahinya orang solat diperban karena karena luka atau sakit dan terasa payah apabila perban itu dilepas maka cukup/tetap sah sujud dalam keadaan dahi diperban. Kesepuluhnya ialah (tuma'ninah sujud) yakni sujud, wajib menekankan seberat kepala orang yang sujud ditempat sujudnya dengan dekira-kira bila diperkirakan dibawah tempat sujud itu ada rumput atau kapas maka akan terbentuk cekungan dan jelas bekasnya ditangan bila tangan diperkirakan ada dibawah kapas itu. Wajib pula dalam sujud mengangkat bagian bawahnya orang yang solat [bokongnya] lebih tinggi bagian atasnya orang yang solat [kepala dan pundaknya] dan meletakkan/menempelkan [kesajadah atau lantai saat sujud] kedua tapak tangannya, kedua dengkulnya dan kedua tapak kakinya [telapaknya jari-jari kedua kakinya]. Kesebelas dan kedua belasnya ialah (duduk antara dua sujud dan tuma'ninahnya) yakni tuma'ninah duduk, walau dalam solat sunah. Ketiga belas, keempat belas dan kelima belasnya ialah (duduk untuk tasyahud, tasyahud/tahiyat dalam duduk itu dan baca solawat atas nabi SAW). Ketujuh belasnya ialah (tartib) terhadap rukun-rukun solat seperti apa yang telah kami sebutkan dalam hitungannya, apabila seseorang meninggalkan tartib secara sengaja dengan artian dia mendahulukan rukun fi'liy /rukun perbuatan atas tempatnya rukun fi'liy, seperti bahwasanya ia sujud sebelum ia ruku' secara sengaja maka batal solatnya, atau karena lupa, maka ia mengerjakan rukun yang tertinggal itu kalau ia sudah mengingatnya sebelum ia mengerjakan rukun yang serupa dengan yang tertinggal itu, apabila tidak ingat hingga mengerjakan rukun yang serupa dengan yang tertinggal itu, maka sempurna rakaatnya dengan sebab yang dikerjakannya dan sia-sia apa antara  rukun yang tertinggal {matruk} dan rukun yang dikerjakan {maful} dan ia mesti menyusul rukun yang masih tersisa.
Ketujuh belasnya ialah (mualat) yang dimaksud dengan mualat seperti apa yang disebut imam Rafi'i karena ikut pada imam ialah tidak memanjangkan rukun yang pendek yakni i'tidal dan duduk antara dua sujud, apabila orang yang solat memanjangkan rukun yang pendek secara sengaja dengan diam atau dengan dzikir yang tidak disyariatkan /tidak diperintahkan padanya maka batal solatnya. Ibnu sholah menggambarkan terhadap meninggalkan mualat dengan apa yang bilamana seseorang melakukan uluk salam dalam keadaan lupa dan panjangnya/lamanya pisah {karena lupa} maka sesungguhnya solatnya batal karena ada pemisah karena sesungguhnya orang itu bukan orang yang solat sebenarnya, sebagian ulama yang lain menggambarkan terhadap meninggalkan mualat dengan apa yang bilamana seseorang ragu-ragu/bimbang pada niat solatnya dan ia belum melewatkan/melakukan suatu rukun tetapi ia melamakan masa bimbang maka sesungguhnya solatnya batal karena sesungguhnya yang tersebut itu membatalkan mualat.
Kedelapan belasnya ialah (uluk salam pertama) paling sedikit bacaan salam ialah "ASSALAMU 'ALAIKUM"
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُم
Adapun niat keluar dari solat maka itu bukan bagian dari rukun-rukun solat menurut qaul ashoh [perkataan/pendapat yang kuat].
(Lafad-lafad tasyahud) kiyai musonif memaksudkan dengan tasyahud disini ialah apa yang mencakup terhadap Sholawat nabi SAW (ada lima kalimat) awal dari lima ialah:
اَلتَّحِيَّاتُ لِلّٰه
(ATTAHIYYATU LILLAH )
Segala kehormatan bagi Alloh.
Ke-duanya ialah:
سَلَامٌ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
(SALAAMUN 'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WAROHMATULLOHI WABAROKAATUH)
Keselamatan {semoga tercurah} atasmu wahai nabi dan rahmat Allah dan berkah Allah. Ketiganya ialah
سَلَامٌ عَلْيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِيْنَ.
(SALAAMUN 'ALAINA WA'ALAA 'IBAADILLAAHIS SHOOLIHIIN)
Keselamatan {semoga tercurah} atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh.
Keempatnya ialah:
اَشْهَدُ اَن الَّا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ
(ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLOH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR ROSULULLOH.)
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya nabi Muhammad utusan Allah.
Kelimanya ialah:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ
(ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA MUHAMMAD)
YaAllah limpahilah rahmat kepada nabi Muhammad
(Itulah)yakni apa yang kiyai musonif sebutkan dari lafad-lafad tasyahud (yang wajib) sebagian dari apa yang dapat mencukupi/sah pula ialah lafadz: وان محمدا رسول الله WA ANNA MUHAMMADAR ROSUULULLOH atau lafadz: وان محمدا عبده ورسوله WA ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHU WAROSUULUHU dengan menggugurkan /menghilangkan lafadz اشهد ASYHADU pada keduanya, dan sebagian dari apa yang mencukupi pula pada solawat atas nabi SAW ialah bacaan :
صلى الله على محمد
SOLLALLOHU 'ALA MUHAMMAD atau صلى الله على رسوله SOLLALLOHU 'ALA ROSUULIH, atau:  صلى الله على النبي SOLLALLOHU 'ALAN NABIYY, dan dijumpai disebagian nusakh lafadz السلام ASSALAAMU secara m'arifat {adanya alif lam dan tidak ditanwin } pada dua tempat dan tidaklah assalamu secara ma'rifat itu wajib dan sesungguhnya itu lah yang paling utama .
(dan lafadz: آله ALIHI ) dan keluarganya yakni keluarga Muhammad (dan apa yang setelahnya) yaitu dari lafad-lafad tasyahud yakni sesungguhnya apa yang selain lafad-lafad yang lima tadi (adalah dari sunah-sunah) yang paling sempurna lafad-lafad tasyahud [wajib dan sunah] adalah :
ﺍَﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ ﺍﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ِﻟﻠﻪِ، ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ، ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻋِﺒَﺎﺩِﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ، ﺃَﺷْﻬَﺪُ
ﺍَﻥْ ﻵ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪُ، ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ # ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ  ﺍِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ  ﺍِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻭَﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ بَارَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺍِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺍِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَﺠِﻴْﺪٌ
ATTAHIYYATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWATUTH THOYYIBATU LILLAH ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH ASSALAAMU 'ALAINA WA 'ALAA 'IBADILLAHISH SHOLIHIIN , ASYHAHU ALLAA ILAAHA ILLALLOOH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR ROSUULULLOOH ALLOOHUMMA SHOLLI 'ALAA MUHAMMAD, WA 'ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAIYTA 'ALAA IBROOHIIM, WA'ALAA AALI IBROOHIIM, WABAARIK 'ALAA MUHAMMADIIN WA'ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA BAAROKTA 'ALAA IBROOHIIMA WA'ALAA AALI IBROOHIIM FIL 'AALAMIINA INNAKA HAMIIDUM MAJIID,
Segala kehormatan, keberkahan, kebaikan bagi Allah, salam, rahmat dan berkahnya kupanjatkan kepadamu wahai nabi (Muhammad) salam (keselamatan) semoga tetap untuk kami dan seluruh hamba yang soleh-soleh, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya nabi Muhammad itu utusqn Allah, ya Allah limpahilah rahmat kepada nabi  Muhammad, dan keluarga nabi  Muhammad sebagaimana telah engkau beri rahmat kepada nabi ibrohim dan keluarga nabi ibrohim, dan limpahilah berkah atas nabi Muhammad dan keluarga nabi Muhammad sebagaimana telah engkau beri berkah kepada nabi ibrohim dan keluarga nabi ibrohim, diseluruh alam semesta engkau lah yang terpuji dan maha mulia.
(Fardu-fardu solat) terbagi atas tiga bagian (sebagian dari fardu solat yang tiga) ialah apa yang disebut (fardu golongan hati) sebagai dari fardu solat yang tiga) ialah apa yang disebut fardu golongan lisan/ perkataan/bacaan) sebagian dari fardu solat yang tiga ialah apa yang disebut fardu golongan badan/ perbuatan, bagian fardu yang awal) yakni golongan hati ialah (niat) karena sesungguhnya tempatnya niat ialah hati, berkata dengan bacaan niat sesungguhnya itu adalah sunah. (Yang kedua)yakni golongan lisan / bacaan (ialah takbiratul Ihram, baca fatihah, bacaan tasyahud/ attahiyat pada duduk terakhir, bacaan Sholawat atas nabi SAW pada duduk terakhir, dengan salam yang pertama, yang ketiga) yakni rukun golongan badan/ gerakan (ialah sisa fardu-fardu solat) yang 18 perkataan kiyai musonif lafad "WAFURUDUS SHOLAATI 'ALA TSALATSATI AQSAMI hingga akhir" gugur dari sebagin nusakh.
(Sunah-sunah solat itu Ab'ad dan Haiat ) sunah ab'ad ada enam, ( pertamanya ialah doa qunut) pada i'tidal yang kedua solat subuh dan i'tidal rakaat terakhir solat witir separuh terahir bulan romadlon. Yang keduanya ialah (bacaan tasyahud awal) yang dimaksud tasyahud awal ialah lafad yang wajib dalam tasyahud akhir seperti apa yang disebutkan oleh muhibut thobari apa yang disebutkan itu menghendaki / menunjukan mengedepankannya imam Rafi'i untuk baca Sholawat atas nabi SAW. Keempatnya ialah (duduk pada tasyahud) yakni pada tasyahud awal. Kelimannya ialah ( baca Sholawat atas nabi SAW dalam tasyahud) yakni tasyahud awal. Ke-enamnya ialah baca Sholawat (atas keluarganya ) nabi SAW (pada tasyahud akhir), jama'ah ulama menambahkan terhadap enam ini menjadi tujuh yaitu baca Sholawat atas nabi SAW pada doa qunut terdahulu, dinamakan sunah-sunah ini dengan sunah ab'ad karena dekatnya sunah ini dengan ditambal dengan sujud sahwi, dekat dari ab'ad hakiki yakni rukun.
Lafad-lafad doa qunut ialah:
اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرِّمَا قََضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ , وَصَلَّى اللهُ عَلَى  النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
“Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah Engkau tunjukkan. Dan
berilah kesehatan kepadaku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau telah berikan kesehatan. Dan peliharalah diriku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan. Dan berilah keberkahan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau kurniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukumi dan engkau tidak terkena hukum. Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau sayangi. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha berkahlah Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat atas Nabi yang Ummiy Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan semoga Allah mencurahkan salam.
Disunahkan mengangkat kedua tangan pada doa qunut, dan tidak disunahkan mengusap wajah setelah selesai doa qunut, dan imam menggunakan lafad jama', doa qunut disunahkan bagi imam, orang yang solat sendirian (munfarid), makmum yang tidak bisa mendengar doa qunutnya imam, bila ia dapat mendengar maka makmum meng-Amininya, dan membacakan pujian, permulaan pujian ialah lafadz "fainnaka taqdi".
Sunah ab'ad yang enam yang lalu dan semisalnya ialah tujuh yang lalu itu bila tertinggal atau satu saja yang tertinggal maka sunah sujud sahwi, karena nabi SAW langsung berdiri dari dua rakaat solat dhohor dan beliau tidak duduk tasyahud awal, kemudian beliau sujud pada akhir solat dengan dua sujud sebelum salam, dan dijadikan ukuran hadits ini terhadap sunah Ab'ad lainnya, dan hukum ini berjalan pada imam, munfarid, adapun ketika ia lupa maka imamnyalah yang menanggungnya imam yang tidak berhadats,
Seperti halnya lupanya imam mendapati imam. Sujud sahwi ialah dua sujud seperti sujud solat. Dua sujud itu dilakukan setelah tasyahud, sebelum salam. Apabila mosholli(orang yang solat) tidak mengerjakan sujud sahwi maka tidak ada sesuatu baginya (yang membatalkan) dan solatnya berlalu dalam keadaan sah. Sujud sahwi waktunya terlewat dengan salam yang sengaja begitupula salam yang lupa dengan syarat lamanya pisah / tenggang.
Sunah haiat tidak ada sujud sahwi karenanya, bila sunah itu tidak dikerjakan, karena tidak ada perintah yang warid padanya. Sunah haiat itu ada banyak, diantaranya ialah menganggat kedua tangan ketika permulaan takbiratul ihram secara membetuli/sejajar [ dengan dzal yang bertitik, yaitu membetuli/mensejajari] kedua pundak [ tatsniyahnya lafad mankib, ialah tempat berkumpulnya (sendi) tulang tangan dan tulang belikat. Dengan rupa ujung jari jari kedua tangan dan bagian atas telinga sejajar tingginya kedua jempol sejajar dengan yang lunaknya telinga, kedua tapak tangan sejajar dengan kedua pundak. sebagian dari sunnah haiat ialah meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dengan pilihan antara meletakkan tangan kanan pada lebar pergelangan tangan. Dan menghamparkan tangan kanan di hasta tangan kiri, meletakannya dibawah dada diatas pusar. Sebagian dari sunah haiat ialah memandang kearah tempat sujud disepanjang solatnya kecuali ketika baca tasyahud maka sesungguhnya sunahnya ialah pandangan (saat tasyahud) tidak melewati jari telunjuk. Sebagian dari sunah haiat ialah doa iftitah secara sir (dibaca tidak nyaring) setelah takbiratul Ihram, bacaan doa iftitah yang ringkas ialah:
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ِﻟﻠﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً .
ALLAHU AKBAR KABIIRO WALHAMDULILLAAHI KATSIIRO WASUBHAANALLOHI BUKROTAW WA-ASHIILA ,
Allah maha besar yang maha agung, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, mahasuci Allah dipagi dan sore.
Sempurna nya doa iftitah ialah:
ﻭَﺟَّﻬْﺖُ ﻭَﺟْﻬِﻲَ ﻟِﻠَّﺬِﻱْ ﻓَﻄَﺮَﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺽَ ﺣَﻨِﻴْﻔًﺎ ﻣُﺴْﻠِﻤًﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴْﻦَ . ﺇِﻥَّ ﺻَﻼَﺗِﻲْ ﻭَﻧُﺴُﻜِﻲْ ﻭَﻣَﺤْﻴَﺎﻱَ ﻭَﻣَﻤَﺎﺗِﻲْ ِﻟﻠﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ . ﻻَﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺑِﺬﻟِﻚَ ﺃُﻣِﺮْﺕُ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ .
Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah termasuk dari orang yang  berserah diri (islam).
Apa yang disebutkan kiyai musonif bahwa sunah (doa iftitah) dapat berhasil dengan lafadz Allahu akbar kabiiro sampai ahir (wa-ashiila) adalah sahih maka sungguh imam an-nawawi telah berkata dalam kitab syarah muhadzab setelah imam an-nawawi menyebut "wajjahtu" dan seterusnya, telah warid/datang dalam beberapa hadits shahih (doa iftitah) dzikir yang lain yang dapat menghasilkan sunah dengan tiap salahsatu darinya, walaupun apa yang telah kami sebutkan ialah yang lebih utama dari dzikir-dzikir yang lain tersebut, apa yang kami sebutkan itu ialah
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ِﻟﻠﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً .
Sebagian dari sunah ab'ad yang banyak itu ialah selain itu tersebut, yakni sunah-sunah yang masyhur, semisal ta-awwudz (اعوذ بالله من الشيطان الرجيم ) dibaca tidak nyaring dalam tiap-tiap rakaat sebelum bacaan fatihah, bacaan amin setelah Fatihah.
Membaca surat atau sebagiannya setelah Fatihah bagi Imam, orang yang salat sendirian,dan makmum yang tidak mendengar bacaan surat Imam pada 2 rakaat awal, dan pada rakaat ketiga dan keempat bagi selain orang yang didahului oleh Imam dengan dua rakaat awal [karena rakaat ketiga dan keempat itu adalah dua rakaat awal bagi dia, pen ]
Membaca nyaring ketika baca al-fatihah (dan surat) pada salat subuh, Jumat, 2salat hari raya, gerhana bulan, dan 2 rakaat awal dari magrib dan Isya. membaca samar pada apa yang selain itu tadi. membaca surat Alif Lam Mim Tanzilu (surat Sajadah) pada rakaat pertama dari subuh Jumat dan surat hal Ata (Al Insan) pada rokaat kedua. dan Uluk salam kedua.

Selanjutnya klik disini

1 | 2 |  3   | 4

Sabtu, 08 Desember 2018

Alfiyah ibnu malik

بسم الله الرحمن الرحيم
قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي  اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ
Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.
مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ¤ وَآلِـــهِ  الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا
Dengan bersholawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kemulyaan.
وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ ¤ مَقَاصِدُ  الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ
Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu..
تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ
Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat.
وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً  أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي
Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thi..
وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ
Beliau lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau behak atas sanjunganku yang indah..
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ  فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ
Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat..
الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ

BAB KALAM DAN SESUATU YANG KALAM TERSUSUN DARINYA
PENGERTIAN KALAM, KALIM, KALIMAT, QOUL
كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ  وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ
Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim.
وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ
Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam.

BENTUK KALIMAT-KALIMAT DAN CIRI-CIRINYA
بِالجَرِّ وَالتّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ ¤ وَمُسْنَدٍ لِلإسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ
Dengan sebab Jar, Tanwin, Nida’, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimat Isim menjadi berhasil.
بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي ¤ وَنُوْنِ  أَقْبِلَنَّ فِعْـــلٌ يَنْجَلِي
Dengan tanda Ta’ pada lafadz Fa’alta dan lafadz Atat, dan Ya’ pada lafadz If’ali, dan Nun pada Lafadz Aqbilanna, Kalimat Fi’il menjadi jelas.
سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ ¤فِعْـــلٌ مُـضَــارِعٌ يَلِي لَمْ كَـيَشمْ
Selain keduanya (ciri Kalimah Isim dan ciri Kalimah Fi’il) dinamaan Kalimah Huruf, seperti lafadz Hal, Fi, dan Lam. Ciri Fi’il Mudhori’ adalah dapat mengiringi Lam, seperti lafadz Lam Yasyam.
وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ ¤بِالنُّـــوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ
Dan untuk ciri Fi’il Madhi, bedakanlah olehmu! dengan tanda Ta’. Dan namakanlah! Fi’il Amar dengan tanda Nun Tauqid (sebagi cirinya) apabila Kalimah itu difahami sebagai kata perintah.
وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنّوْنِ مَحَلْ ¤ فِيْهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ
Kata perintah jika tidak dapat menerima tempat untuk Nun Taukid, maka kata perintah tersebut dikategorikan Isim, seperti Shah! dan Hayyahal!
الْمُعْرَبُ وَالْمَبْنِي

BAB MU’RAB DAN MABNI
KALIMAH-KALIMAH YANG MU’RAB DAN YANG MABNIY
وَالاسْمُ مِنْهُ مُعْرَبٌ وَمَبْنِي ¤ لِشَبَـــهٍ مِنَ الْحُــرُوْفِ مُدْنِي
Diantara Kalimat Isim ada yang Mu’rab, dan ada juga yang Mabni karena keserupaan dengan kalimah Huruf secara mendekati
كَالْشَّبَهِ الْوَضْعِيِّ فِي اسْمَيْ جِئْتَنَا ¤ وَالْمَعْـنَـــوِيِّ فِي مَتَى وَفِي هُـــــــنَا
Seperti keserupaan bangsa wadh’iy didalam contoh dua Isimnya lafadz Ji’tana. Dan keserupaan bangsa Ma’nawiy di dalam contoh Mata, dan Huna.
وَكَنِيَابَةٍ عَنِ الْفِعْلِ بِلاَ ¤ تَأَثُّــــرٍ وَكَافْــتِقَارٍ أُصِّلا
Dan keserupaan bangsa Niyabah (pengganti) dari Fi’il tanpa pembekasan I’rob (Isim Fi’il). Dan keserupaan bangsa Iftiqor/kebutuhan yang dimustikan (yakni, isim maushul musti membutuhkan shilah).
وَمُعْرَبُ الأَسْمَاءِ مَا قَدْ سَلِمَا ¤ مِنْ شَبَهِ الْحَرْفِ كَأَرْضٍ وَسَمَا
Adapun Mu’rabnya Kalimah-kalimah Isim, adalah Kalimah yang selamat dari keserupaan dengan Kalimah Huruf, seperti contoh Ardhin dan Sumaa.
وَفِـــعْلُ أَمْرٍ وَمُضِيٍّ بُنِـيَا ¤  وَأَعْرَبُوا  مُضَارِعَاً إنْ عَرِيَا
Fi’il Amar dan Fi’il Madhi, keduanya dihukumi Mabni. Dan mereka Ulama Nahwu sama menghukumi Mu’rab terhadap Fi’il Mudhori’ jika sepi…..
مِنْ نُوْنِ تَوْكِيْدٍ مُبَاشِرٍ وَمِنْ ¤ نُوْنِ إنَــاثٍ كَيَرُعْنَ مَنْ فُـــتِنْ
Dari Nun Taukid yang mubasyaroh (bertemu langsung) dan Nun Ta’nits, seperti lafadz: Yaru’na Man Futin.
وَكُلُّ حَـرْفٍ مُسْتَــحِقٌّ لِلْبِنَا ¤ وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنَا
Semua Kalimah Huruf menghaki terhadap Mabni.   Asal didalam Kemabnian adalah dihukumi Sukun.
وَمِنْهُ ذُو فَتْحٍ وَذُو كَسْرٍ وَضَمُّ ¤ كَأَيْنَ أَمْسِ حَيْثُ وَالْسَّــــاكِنُ كَمْ
Diantara hukum Mabni adalah Mabni Fathah, Mabni Kasroh dan Mabni Dhommah. Seperti lafadz: Aina, Amsi, Haitsu, dan Mabni Sukun seperti Lafadz Kam.

MACAM-MACAM I’RAB
وَالْرَّفْعَ وَالْنَّصْبَ اجْعَلَنْ إعْرَابَا  ¤لاسْــمٍ وَفِــعْــلٍ نَحْـوُ لَنْ أَهَـــــابَا
Jadikanlah Rofa’ dan Nashab sebagai I’rab (sama bisa) untuk Isim dan Fi’il, seperti lafadz Lan Ahaba.
وَالاسْمُ قَدْ خُصِّصَ بِالْجَرِّ كَمَا ¤ قَــدْ خُصِّصَ الْفِعْـلُ بِأَنْ يَنْـجَزِمَا
Kalimah Isim dikhususi dengan I’rab Jarr, sebagaimana juga Fi’il dikhususi dengan dii’rab Jazm.

TANDA ASAL I’RAB
فَارْفَعْ بِضَمَ وَانْصِبَنْ فَتْحَاً وَجُرْ ¤ كَسْــــــرَاً كَــذِكْرُ اللَّهِ عَبْــدَهُ يَسُـرْ
Rofa’kanlah olehmu dengan tanda Dhommah, Nashabkanlah! Dengan tanda Fathah, Jarrkanlah! Dengan tanda Kasrah. Seperti lafadz Dzikrullahi ‘Abdahu Yasur.
وَاجْزِمْ بِتَسْكِيْنٍ وَغَيْرُ مَا ذُكِرْ  ¤يَنُــوْبُ نَحْوُ جَا أَخْــو بَنِي نَمِــرْ
Dan Jazmkanlah! Dengan tanda Sukun. Selain tanda-tanda yang telah disebut, merupakan penggantinya. Seperti lafadz: Jaa Akhu Bani Namir.

TANDA I’RAB ASMAUS SITTAH
وَارْفَعْ بِــوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالأَلِفْ  ¤وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأَسْمَا أَصِفْ
Rofa’kanlah dengan Wau, Nashabkanlah dengan Alif, dan Jarrkanlah dengan Ya’, untuk Isim-Isim yang akan aku sifati sebagai berikut (Asmaus Sittah):
مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا ¤ وَالْفَــــــمُ حَيْثُ الْمِيْمُ مِنْهُ بَانَا
Diantara Isim-Isim itu (Asmaus Sittah) adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib (yg memiliki), dan Famu sekiranya Huruf mim dihilangkan darinya.
أَبٌ آخٌ حَـــمٌ كَـــذَاكَ وَهَـــنُ  ¤وَالْنَّقْصُ فِي هذَا الأَخِيْرِ أَحْسَنُ
Juga Abun, Akhun, Hamun, demikian juga Hanu. Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik.
وَفِي أَبٍ وَتَـالِيَيْهِ يَنْـــدُرُ ¤ وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ
Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.
وَشَرْطُ ذَا الإعْرَابِ أَنْ يُضَفْنَ لاَ ¤ لِلْيَــا كَــجَا أَخْــو أَبِيْـــكَ ذَا اعْـــتِلاَ
Syarat I’rab ini (Rafa’ dg wau, Nasha dg Alif, dan Jarr dg Ya’ pada Asmaus Sittah) harus Mudhaf kepada selain Ya’ Mutakallim. Seperti: Jaa Akhu Abiika Dza-’tilaa.

TANDA I’RAB ISIM TATSNIYAH DAN MULHAQNYA
بِالأَلِفِ ارْفَع الْمُثَنَّى وَكِلاَ ¤ إذَا بِمُـــضْمَرٍ مُضَــافَاً وُصِلاَ
Rafa’kanlah! dengan Alif terhadap Isim Mutsanna, juga lafadz Kilaa apabila tersambung langsung dengan Dhomir, dengan menjadi Mudhof.
كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ وَاثْنَتَانِ ¤ كَابْنَــيْنِ وَابْنَتَيْــنِ يَجْــرِيَانِ
Juga (Rofa’ dg Alif) lafadz Kiltaa, begitupun juga lafadz Itsnaani dan Itsnataani sama (I’rabnya) dengan lafadz Ibnaini dan Ibnataini keduanya contoh yang dijarrkan.
وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيْعِهَا الأَلِفْ  ¤جَــــرًّا وَنَصْـــبَاً بَعْدَ فَتْـــحٍ قَدْ أُلِفْ
Ya’ menggantikan Alif (tanda Rofa’) pada semua lafadz tsb (Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya) ketika Jarr dan Nashabnya, terletak setelah harkat Fathah yang tetap dipertahankan.

TANDA I’RAB JAMAK MUDZAKKAR SALIM  DAN MULHAQNYA
وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا اجْرُرْ وَانْصِبِ  ¤سَــــــــالِمَ جَمْعِ عَــــــــامِرٍ وَمُذْنِبِ
Rofa’kanlah dengan Wau!, Jarrkan dan Nashabkanlah dengan Ya’! terhadap Jamak Mudzakkar Salim dari lafadz “‘Aamir” dan “Mudznib”
وَشِبْهِ ذَيْنِ وَبِهِ عِشْرُوْنَا ¤  وَبَابُـــهُ  أُلْحِــقَ وَالأَهْــــلُوْنَا
….dan yang serupa dengan keduanya ini (“Aamir” dan “Mudznib”, pada bait sebelumnya). Dan lafadz “‘Isyruuna dan babnya”, dimulhaqkan kepadanya (I’rab Jamak Mudzakkar Salim). Juga lafadz “Ahluuna”
أوْلُو وَعَالَمُوْنَ عِلِّيّونَا  ¤وَأَرْضُـــوْنَ شَذَّ وَالْسِّـنُوْنَا
Juga lafadz “Uluu, ‘Aalamuuna, ‘Illiyyuuna dan lafazh Aradhuuna adalah contoh yang syadz (paling jauh dari definisi Jamak Mudzakkar Salim). Juga Lafadz “sinuuna….
وَبَابُهُ وَمِثْلَ حِيْنٍ قَـدْ يَرِدْ ¤ ذَا الْبَابُ وَهْوَ عِنْدَ قَوْمٍ يَطَّرِدْ
…dan babnya”. Terkadang Bab ini (bab sinuuna) ditemukan dii’rab semisal lafadz “Hiina” (dii’rab harkat, dengan tetapnya ya’ dan nun) demikian ini ditemukan pada suatu kaum (dari Ahli Nawu atau orang Arab)
وَنُوْنَ مَجْمُوْعٍ وَمَا بِهِ الْتَحَقْ  ¤فَافْــتَحْ وَقَــلَّ مَنْ بِكَــسْرِهِ نَطَــقْ
Fathahkanlah! harakah “Nun”nya Kalimat yang dijamak Mudzakkar Salim dan Mulhaqnya. Ada segelintir orang bercakap-cakap dengan mengkasrahkannya.
وَنُوْنُ مَا ثُنِّيَ وَالْمُلْحَقِ بِهْ  ¤بِعَـــكْسِ ذَاكَ اسْتَعْمَلُوْهُ فَانْتَبِهْ
Adapun “Nun”nya Kalimat yang ditatsniyahkan dan Mulhaqnya, adalah terbalik (Harakah Nun dikasrahkan). Semuanya mengamalkan demikian, maka perhatikanlah!

TANDA I’RAB JAMAK MU’ANNATS SALIM  DAN MULHAQNYA
وَمَا بِتَـــا وَأَلِــفٍ قَــدْ جُمِــعَا ¤ يُكْسَرُ فِي الْجَرِّ وَفِي النَّصْبِ مَعَا
Setiap Kalimah yang dijamak dengan tambahan Alif dan Ta’ (Jamak Muannats Salim) tanda Jarr dan Nashabnya sama dikasrohkan.
كَذَا أُوْلاَتُ وَالَّذِي اسْمَاً قَدْ جُعِلْ  ¤كَــــأَذْرِعَــاتٍ فِــيْهِ ذَا أَيْــضَاً قُــبِلْ
Begitu juga (Dii’rab seperti Jamak Muannats Salim) yaitu lafadz “Ulaatu”. Dan Kalimah yang sungguh dijadikan sebuah nama seperti lafadz “Adri’aatin” (nama tempat di Syam) yang demikian ini juga diberlakukan I’rab seperti Jamak Mu’annats Salim.

TANDA I’RAB ISIM YANG TIDAK MUNSHORIF
وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لاَ يَنْصَرِفْ ¤ مَا لَمْ يُضَفْ أَوْ يَكُ بَعْدَ أَلْ رَدِفْ
Setiap Isim yang tidak Munshorif dijarrkan dengan Harakah Fathah, selama tidak Mudhof atau tidak jatuh sesudah AL.



TANDA I’RAB AF’ALUL KHOMSAH
وَاجْعَلْ لِنَحْوِ يَفْعَلاَنِ الْنُّوْنَا ¤ رَفْـــعَاً وَتَدْعِــيْنَ وَتَسْـــــأَلُونَا
Jadikanlah! Nun sebagai tanda Rofa’ untuk contoh Kalimah-kalimah yang seperti lafadz يفعلان (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Alif Tatsniyah) dan lafadz  تدعين (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Ya’ Mu’annats Mukhatabah) dan lafadz تسألون (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Wau Jamak).
وَحَذْفُهَا لِلْجَزْمِ وَالْنَّصْبِ سِمَهْ  ¤كَــلَمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ
Sedangkan tanda Jazm dan Nashabnya, yaitu dengan membuang Nun. seperti contoh َلمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

TANDA I’RAB ISIM MU’TAL (ISIM MAQSHUR DAN ISIM MANQUSH)
وَسَمِّ مُعْتَلاًّ مِنَ الأَسْمَاءِ مَا  ¤كَالْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَقَي مَكَارِمَا
Namailah! Isim Mu’tal, terhadap Isim-Isim yang seperti lafadz الْمُصْطَفَى (Isim yang berakhiran huruf Alif) dan seperti lafadz الْمُرْتَقَي مَكَارِمَا (Isim yang berakhiran huruf Ya’).
فَالأَوَّلُ الإِعْرَابُ فِيْهِ قُدِّرَا ¤ جَمِيْـعُهُ وَهْوَ الَّذِي قَدْ قُصِرَا
Contoh lafadz yang pertama (الْمُصْطَفَى) Semua tanda I’rabnya dikira-kira, itulah yang disebut Isim Maqshur.
وَالْثَّانِ مَنْقُوصٌ وَنَصْبُهُ ظَهَرْ  ¤وَرَفْـعُهُ يُنْــوَى كَذَا أيْضَــــاً يُجَرْ
Contoh lafadz yang kedua (الْمُرْتَقَي) dinamakan Isim Manqush, tanda Nashabnya Zhohir. Tanda Rofa’ dan juga Jarrnya sama dikira-kira.
TANDA I’RAB FI’IL MU’TAL
وَأَيُّ فِعْــلٍ آخِرٌ مِنْهُ أَلِفْ ¤ أوْ وَاوٌ أوْ يَاءٌ فَمُعْتَلاًّ عُرِفْ
Setiap Kalimah Fi’il yang akhirnya huruf illat Alif , Wau atau Ya’, maka dinamakan Fi’il Mu’tal.
فَالأَلِفَ انْوِ فِيْهِ غَيْرَ الْجَزْمِ ¤ وَأَبْـــدِ نَصْبَ مَا كَيَدْعُو يَرْمِي
Kira-kirakanlah! I’rab untuk Kalimah Fi’il yang berakhiran Alif pada selain Jazmnya. Dan Zhohirkanlah! tanda nashab untuk Kalimah Fi’il yang seperti يَدْعُو (Berakhiran huruf Wau) dan يَرْمِي (Berakhiran huruf Ya’)…
والرَّفعَ فيهما انْوِ واحذِفْ جازِمَا  ¤ثــلاثَـــهُنَّ تَقــــضِ حُكمَــا لازِمَــــا
dan kira-kirakanlah! tanda Rofa’ untuk kedua lafadz (يَدْعُو dan يَرْمِي ). Buanglah (huruf-huruf illat itu) jika engkau sebagai orang yang menjazmkan ketiga Kalimah Fi’il Mu’tal tsb, maka berarti engkau memutuskan dengan Hukum yang benar.
۞ Nakirah Dan Ma'rifat ۞
الْنَّكِرَةُ وَالْمَعْرِفَةُ
Bab Nakiroh dan Makrifat
PENGERTIAN NAKIROH DAN MA’RIFAT
نَكِرَةٌ قَـــــابِلُ أَلْ مُؤثِّــــرَاً ¤ أَوْ وَاقِعٌ  مَوْقِعَ مَا قَدْ ذُكِرَا
Nakirah adalah Isim yang dapat menerima AL pemberi bekas ma’rifat, atau Isim yang menempati tempatnya Isim tersebut (dapat menerima AL Ma’rifat).
وَغَيْــرُهُ مَعْرِفَـةٌ كَــهُمْ وَذِي ¤ وَهِنْـدَ  وَابْنـيِ وَالْغُلاَمِ وَالَّذِي
Selain tersebut (pengertian Isim Nakirah) dinamaka Ma’rifat, yaitu seperti هم (Isim Dhomir), ذي (Isim Isyaroh), هند (Isim Alam), ابني (Isim Mudhof), الغلام (Isim yg ada AL ma’rifatnya) dan الذي (Isim Maushul).
ISIM DHOMIR / KATA GANTI (BAGIAN ISIM MA’RIFAT YG PERTAMA)
فَمَا لِذِي غَيْبَةٍ أوْ حُضُورِ ¤ كَأَنْـتَ  وَهْـوَ سَمِّ بِالضَّمِيْرِ
Setiap Isim yang menunjukkan arti ghaib dan hadir seperti contoh: انت dan هم , maka namakanlah! Isim Dhomir.
ISIM DHAMIR MUTTASHIL
وَذُو اتِّصَالٍ مِنْهُ مَا لاَ يُبْتَدَا ¤ وَلاَ يَلِي إلاَّ اخْتِيَــــارَاً أبَــدَا
Dhomir yg berstatus Muttashil adalah Isim Dhomir yang tidak bisa dijadikan permulaan dan tidak boleh mengiringi إلا selama masih bisa memilih demikian.
كَالْيَاءِ وَالْكَافِ مِنِ ابْني أكْرَمَكْ ¤وَالْيَــاءِ وَالْهَا مِنْ سَلِيْهِ مَا مَلَكْ
Seperti Ya’ dan Kaf dari contoh lafadz: ابْني أكْرَمَكْ (Ya’ Mutakallim dan Kaf Mukhothob), dan seperti Ya’ dan Ha’ dari contoh lafadz: سَلِيْهِ مَا مَلَكْ (Ya’ Mukhotobah dan Ha’ Ghoib)
وَكُـلُّ مُضْمَرٍ لَـهُ الْبِنَا يَجِبْ ¤ وَلَفْظُ مَا جُرَّ كَلَفْظِ مَا نُصِبْ
Semua Dhomir wajib Mabni. Lafadz Dhomir yang dijarrkan, sama bentuknya dengan lafadz Dhomir yang dinashobkan.
لِلرَّفْعِ وَالْنَّصْبِ وَجَرَ نا صَلَحْ ¤ كَاعْـرِفْ بِنَا فَـإِنَّنَا نِلْـنَا الْمِـنَحْ
Dhomir Muttashil نا mencocoki semua bentuknya dalam mahal Rofa’, Nashob, dan Jarrnya. Seperti contoh lafadz: اعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْمِنَحْ ( ket. بنا = Mahal Jarr, فَإِنَّنَا = Mahal nashab, نِلْنَا = Mahal rofa’)
وَأَلِفٌ وَالْــوَاوُ وَالْنُّوْنُّ لِمَا ¤ غَابَ وَغَيْرِهِ كَقَامَا وَاعْلَمَا
Alif, Wau dan Nun, termasuk Dhomir Muttashil untuk Ghoib juga Hadhir. Seperti contoh: قَامَا (Alif Dhomir Muttashil Ghoibain, artinya: “mereka berdua telah berdiri”) dan contoh: اعْلَمَا (Alif Dhomir Muttashil Mukhothobain, artinya: “ketahuilah kalian berdua!”).
ISIM DOMIR YANG MUSTATIR
وَمِنْ ضَمِيْرِ الْرَّفْعِ مَا يَسْتَتِرُ ¤ كَافْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ
Dhomir yang harus disimpan (Dhomir Mustatir) ada pada sebagian dhomir Rofa’, seperti pada contoh: افْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ (ket: افْعَلْ = Fi’il ‘Amar untuk satu mukhotob, taqdirannya انت . dan  أوَافِقْ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mutakallim, taqdirannya انا. dan نَغتَبِطْ = Fi’il Mudhori’ untuk Mutakallim Ma’al Ghair, taqdirannya نحن . dan تُشْكرُ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mukhotob, taqdirannya انت.)
ISIM DHOMIR MUNFASHIL
وَذُو ارْتِفَاعٍ وَانْفِصَالٍ أَنَا هُوْ ¤وَأَنْــتَ وَالْفُـــرُوْعُ لاَ تَشْــتَبِهُ
Dhomir Rofa’ dan Munfashil, yaitu أَنَا, هُوْ, أَنْتَ dan cabang-cabangnya yg tidak ada kemiripan.
وَذُو انْتِصَابٍ فِي انْفِصَالٍ جُعِلاَ ¤إيَّايَ وَالْتَّـــفْرِيْعُ لَيْسَ مُشْـــكِلاَ
Dhomir Nashob yang dibuat untuk Munfashil, yaitu إيَّايَ dan cabang-cabangnya yg jelas tidak ada keisykalan.
PENGGUNAAN BENTUK DHOMIR
وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيء الْمُنْفَصِلْ ¤إذَا تَــــأَتَّى أنْ يَجِيء الْمُتَّــصِلْ
Dalam keadaan bisa memilih, tidak boleh mendatangkan Dhomir Munfashil jika masih memungkinkan untuk mendatangkan Dhomir Muttashil.
وَصِلْ أَوِ افْصِلْ هَاء سَلْنِيْهِ وَمَا ¤أَشْبَهَـهُ فِي كُنْـتُهُ الْخُــلْفُ انْتَمَى
Muttashil-kanlah atau Munfashil-kanlah..! (boleh memilih) untuk Dhomir Ha’ pada contoh lafadz سَلْنِيْهِ dan lafadz yang serupanya. Adapun perbedaan Ulama bernisbatkan kepada lafadz كُنْتُهُ.
كَـــذَاكَ خِلْتَنِيْــهِ وَاتِّصَــــــالاَ ¤أَخْتَأارُ غَيْرِي اخْتَارَ الانْفِصَالاَ
Seperti itu juga, yaitu lafadz خِلْتَنِيْهِ , aku memilih menggunakan Dhomir Muttashil, selainku memilih menggunakan Dhomir Munfashil.
وَقَــــدِّمِ الأَخَصَّ فِي اتِّصَالِ ¤وَقَدِّمَنْ مَا شِئْتَ فِي انْفِصَالِ
Dahulukanlah! Dhomir yang lebih khusus, di dalam penggunaan Dhomir Muttashil. Dan dahulukanlah Dhomir mana saja terserah kamu suka, di dalam penggunaan Dhomir Munfashil.
وَفِي اتِّحَادِ الرُّتْبَةِ الْزَمْ فَصْلاَ ¤ وَقَدْ يُبِيْحُ الْغَــيْبُ فِيْهِ وَصْـــلاَ
Gunakanlah! Dhomir Munfashil untuk perkumpulan Dhomir-Dhomir yg setingkat. Dan terkadang diperbolehkan penggunaan Dhamir Muttashil untuk perkumpulan Dhomir-Dhomir ghoib yg setingkat.
NUN WIQOYAH PEMISAH DHOMIR YA’ MUTAKALLIM dg KALIMAT FI’IL
وَقَبْلَ يَا الْنَّفْسِ مَعَ الْفِعْلِ الْتُزِمْ ¤نُـــوْنُ وِقَــايَةٍ وَلَيْسِي قَدْ نُظِـــمْ
Sebelum Ya’ Mutakallim yang menyertai Kalimat Fi’il, ditetapkan (untuk dipasang) Nun Wiqoyah (nun pelindung). Sedangkan لَيْسِي sungguh ada yang menadzomkan seperti itu.
NUN WIQOYAH PEMISAH DHOMIR YA’ MUTAKALLIM dg KALIMAT HURUF
وَلــيْتَنيِ فَشَا وَلَيْتي نَـــدَرَا ¤وَمَعْ لَعَلَّ اعْكِسْ وَكُنْ مُخَيَّراً
Contoh Lafadz seperti ليْتَنيِ (dgn Nun Wiqoyah) Sering dipakai, sedangkan Lafadz لَيْتي (tanpa Nun Wiqoyah) jarang digunakan. Dan perbalikkanlah Hukunya untuk lafadz yang menyertai لَعَلَّ. Dan jadilah kamu orang yang disuruh memilih!……
فِي الْبَاقِيَاتِ وَاضْطِرَارَاً خَفَّفَا ¤مِنِّي وَعَنِّي بَعْـضُ مَنْ قَدْ سَلَفَا
…untuk sisa Kalimat Huruf lainnya (saudara لَيْت dan لَعَلَّ ). Dan karena alasan Darurat syi’ir, sebagian orang-orang dulu mentakhfifkan (tanpa tasydid/Nun wiqoyah) pada lafadz مِنِّي dan عَنِّي .
وَفِــي لَدُنِّــي لَدُنِــي قَـــلَّ وَفِـــي ¤قَدْنِي وَقَطْنِي الْحَذْفُ أَيْضَاً قَدْ يَفِي
Untuk lafadz لَدُنِّي (dgn Nun Wiqoyah), jarang menggunakan lafadz لَدُنِي (tanpa Nun Wiqoyah). Dan untuk Lafadz قَدْنِي dan قَطْنِي dengan membuang (Nun Wiqoyah) terkadang terpenuhi.
۞ Isim Alam ۞
الْعَلَمُ
ISIM ALAM
DEFINISI ISIM ALAM
اسْمٌ يُعَيِّنُ الْمُسَمَّى مُطْلَقَا ¤ عَلَمُـــهُ كَجَعْـــفَرٍ وَخِـرْنِقَا
Nama yang secara mutlaq menunjukkan kepada sesuatu yang diberi nama, itulah “Isim Alam” seperti lafadz “Ja’far” (Nama Pria) dan “Khirniqa” (Nama Wanita)
وَقَــرَنٍ وَعَـدَنٍ وَلاَحِقٍ ¤ وَشَذْقَمٍ وَهَيْلَةٍ وَوَاشِقِ
juga seperti lafadz “Qaran” (Nama Kabilah), ” ‘Adan” (Nama Tempat), “Lahiq” (Nama Kuda), “Syadzqom” (Nama Unta), “Hailah” (Nama Kambing) dan “Wasyiq” (Nama Anjing).
ALAMI ISIM, ALAMI KUN-YAH, ALAMI LAQOB
وَاسْمَـاً أَتَى وَكُنْـيَةً وَلَـقَبَا ¤ وَأَخِّرَنْ ذَا إِنْ سِوَاهُ صَحِبَا
Isim Alam datang dengan sebutan  “Alami Isim” (Nama Asli). Juga “Alami Kun-yah” (Nama Kemargaan) dan “Alami Laqob” (Nama Julukan) akhirkanlah! untuk “Alami Laqob” ini, jika selainnya menyertainya.
وَإِنْ يَكُوْنَا مُفْرَدَيْنِ فَأَضِفْ ¤ حَتْمَـاً وَإِلاَّ أَتْبِعِ الذي رَدِفْ
jika keduanya  sama-sama Kalimah Mufrad (satu kata) maka Mudhofkanlah! dengan wajib. Tapi jika tidak, maka Tabi’kanlah! Kalimah yang terbelakang.
MANQUL, MURTAJAL, JUMLAH, TARKIB MAZJI
وَمِنْهُ مَنْقُولٌ كَفَضْلٍ وَأَسَدْ ¤ وَذُو ارْتِجَال كَسُعَــــادَ وَأُدَدْ
Juga diantara Isim ‘Alam, yaitu ada sebutan “Alami Manqul” (Nama dari pindahan perkataan lain) seperti contoh “Fadhol” (Nama pindahan, diambil dari isim Masdar artinya: utama) dan “Asad” ( Nama pindahan, diambil dari jenis hewan artinya: Harimau). Dan juga sebutan “Alami Murtajal” (Nama yg sebelumnya tidak pernah dipakai untuk yg lain kecuali khusus untuk sebuah Nama) contoh “Su’ad” dan “Udad”.
وَجُمْلَةٌ وَمَـا بِمَزْجٍ رُكِّبَا ¤ ذَا إنْ بِغَيْرِ وَيْهِ تَمَّ أُعْرِبَا
Diantara Isim Alam juga, yaitu susunan Jumlah dan  susunan Tarkib Mazji (campuran dua kalimah menjadi satu). Susunan Isim Alam yg demikian ini,  jika susunan akhirnya bukan kata “Waihi” maka dihukumi mu’rob.
وَشَاعَ فِي الأَعْلاَمِ ذُو الإِضَافَهْ ¤ كَعَــــــبْدِ شَمْــسٍ وَأَبِي قُحَـــافَهْ
Didalam Isim Alam juga banyak penggunaan susunan Idhofah, contoh “Abd Syamsi” dan “Abu Quhafah”
ALAMI JINSI
وَوَضَعُوَا لِبَعْضِ الأجْنَاسِ عَلَمْ ¤ كَعَلَم الأَشْخَـاصِ لَفْــظَاً وَهْوَ عَمْ
Dan mereka orang Arab,  juga menjadikan sebagian Isim Jenis sebagai Isim Alam (Alami Jenis), secara lafazh ia dihukumi seperti Alami Syakhsh (Nama Individu) secara makna ia tetap umum.
مِنْ ذَاكَ أمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ ¤ وَهكَـــذَا ثُعَـــــالَةٌ لِلْثَّعْــــلَبِ
Diantara Alami Jenis itu, yaitu seperti “Ummu ‘Iryath” alami jenis untuk Kalajengking, demikian juga “Tsu’alah” alami jenis untuk Musang.
وَمِثْلُـــهُ بَرَّةُ لِلْمَبَرَّهْ ¤ كَذَا فَجَارِ عَلَمٌ لِلْفَجرَهْ
seperti itu juga “Barroh” alami jenis untuk Tabi’at Baik, demikian juga “Fajari” alami jenis untuk Tabi’at Buruk.
اسْمُ الإِشَارَةِ
Isim Isyaroh (Kata Tunjuk)
Isim Isyarah Mufrad (tunggal) mudzakkar dan mu’annats
بِذَا لِمُفْــــــرَدٍ مُذَكَّــــــرٍ أَشِـــــــرْ ¤ بِذِي وَذِهْ تِي تَا عَلَى الأنْثَى اقْتَصِرْ
Menunjuklah kamu! dengan menggunakan ذَا untuk kata tunjuk mufrad mudzakkar. Dan ambil cukupkanlah! dengan menggunakan ذي – ذه – تي – dan تا untuk kata tunjuk mufrad mu’annats.
Isim Isyarah Mutsanna (dual) mudzakkar dan mu’annats
وَذَانِ تَــــانِ لِلْمُثَنَّى الْمُرْتَفِعْ ¤ وَفِي سِوَاهُ ذَيْنِ تَيْنِ اذْكُرْ تُطِعْ
Adapun ذَانِ (male) dan تَــــانِ (female) digunakan untuk kata tunjuk Mutsanna (dual) yang mahal rofa’. Dan yg selain mahal rofa’ (mahal nashab dan jar-nya), sebutkanlah! ذَيْنِ (male) dan تَيْنِ (female), maka kamu termasuk orang yg taat.
Isim Isyarah Jamak mudzakkar dan mu’annats
وَبِأُوْلَى أَشِرْ لَجِمْعٍ مُطْلَقَـــاً ¤ وَالْمَدُّ أَوْلَى وَلَدَى الْبُعْدِ انْطِقَا
Menunjuklah kamu! dengan menggunakan أُوْلَى untuk kata tunjuk jamak secara mutlak (untuk male atau female) adapun memanjangkannya adalah lebih utama (menjadi: أُوْلآءِ ). Dan ucapkanlah olehmu! untuk kata tunjuk jauh ……
Penggunaan Kata Tunjuk Jauh
بِالْكَافِ حَرْفَاً دُوْنَ لاَمٍ أَوْ مَعَهْ ¤ وَالَّلامُ إنْ قَدَّمْـــتَ هَـا مُمْتَنِـــعَهْ
… dengan menambah huruf Kaf dengan tanpa Lam atau menyertainya (menjadi داك atau ذالك). Penggunaan tambahan Lam itu dicegah apabila kamu mendahulukan dengan huruf Tanbih هَا (menjadi: هَذَاكَ, tidak boleh هَذَالِكَ ).
Isim Isyarah Makan (Kata tunjuk tempat) Dekat
وَبِهُنَـا أَوْ ههُنَـا أَشِـــرْ إلَى ¤ دَانِي الْمَكَانِ وَبِهِ الْكَافَ صِلاَ
Menunjuklah kamu! kepada tempat yang dekat dengan menggunakan هُنَـا atau ههُنَـا. Dan sambungkanlah! dengan Kaf pada Isim Isyarah tempat tsb, untuk ….
Isim Isyarah Makan (Kata tunjuk tempat) Jauh
فِي الْبُعْدِ أَوْ بِثَمَّ فُهْ أَوْ هَنَّا ¤ أَوْ بِهُنَــالِكَ انْــطِقَنْ أَوْ هِنَّــا
… tempat yang berada jauh, atau ucapkan! dengan memilih menggunakan ثَمَّ atau هَنَّا, ataupun ucapkanlah dengan menggunakan هُنَــالِكَ atau هِنَّــا.
۞ Isim Maushul ۞
الْمَوْصُوْلُ
MAUSHUL
BENTUK ISIM MAUSHUL MUFRAD (TUNGGAL) DAN MUTSANNA (DUAL)
مَوْصُولُ الاسْمَاءِ الَّذِي الأُنْثَى الَّتِي ¤ وَالْيَـــــا إذَا مَا ثُنِّيَــــا لاَ تُثْــــــبِتِ
Adapun Isim Mausul yaitu الَّذِي (jenis laki) dan untuk jenis perempuan yaitu الَّتِي. Jika keduanya di tatsniyahkan (dual), maka huruf Ya’nya jangan ditetapkan/dibuang…
بَلْ مَــا تَلِيْـهِ أَوْلِهِ الْعَلاَمَـــهْ ¤ وَالنُّوْنُ إنْ تُشْدَدْ فَلاَ مَلاَمَهْ
Akan tetapi, terhadap huruf yang tadinya diiringi oleh Ya’ yang dibuang tsb, sekarang iringilah! dengan (memasang) tanda Alamah I’rob (menjadi: الذان dan التان ketika mahal Rofa’. dan menjadi: الذَيْن dan التَين ketika mahal Nashab dan Jarr). adapun Nunnya jika ditasydidkan, maka tidak ada celaan untuk itu.
وَالْنّوْنُ مِنْ ذَيْنِ وَتَيْنِ شُدِّدَا ¤ أَيْضَاً وَتَعْوِيضٌ بِذَاكَ قُصِدَا
Demikian juga boleh ditasydidkan, yaitu Nunnya dari (isim isyarah dual) ذَيْنِ dan تَيْنِ. Pentasydidan tersebut, dimaksudkan sebagai Penggantian (dari huruf yg dibuang yaitu Ya’nya Isim Maushul dan Isim Isyaroh ketika dibentuk tatsniyah (dual))
BENTUK ISIM MAUSHUL JAMA’ (JAMAK)
جَمْعُ الَّذِي الألَى الَّذِيْنَ مُطْلَقَا ¤ وَبَعْضُهُمْ بِالْوَاوِ رَفْعَاً نَطَقَا
Jamaknya lafadz الَّذِي (Isim Maushul tunggal male) adalah الألَى atau الَّذِيْنَ secara muthlaq (baik untuk mahal Rofa’, Nashab dan Jarr). Ada sebagian dialek orang Arab berbicara dengan menggunakan Wau ketika mahal Rofa’ (menjadi: اَلَّذُوْنَ )
بِاللاَّتِ وَاللاَّءِ الَّتِي قَدْ جُمِعَا ¤ وَالَلاَّءِ كَالَّذِيْنَ نَزْرَاً وَقَعَا
Lafadz الَّتِي (Isim Maushul tunggal female) sungguh dijamakkan dengan menjadi اللاَّتِ atau اللاَّءِ . Ditemukan juga اللاَّءِ  dihukumi seperti الَّذِيْنَ (isim maushul jamak untuk male) tapi jarang.
BENTUK ISIM MAUSHUL MUTHLAQ (UMUM)
وَمَنْ وَمَا وَأَلْ تُسَاوِي مَا ذُكِرْ ¤ وَهكَذَا ذُو عِنْدَ طَيِّىء شُهِرْ
Adapun Isim Maushul مَنْ, مَا, dan أَلْ adalah menyamakan hukumnya dengan Isim Maushul yg telah disebut sebelunnya. (artinya: bisa digunakan untuk Male, Female, tunggal, dual, atau Jamak). Seperti itu juga hukumnya, yaitu Isim maushul berupa ذُو terkenal penggunaannya dikalangan dialek kaum Thayyi’.
BENTUK ISIM MAUSHUL QAUM THAYYI’
وَكَالَّتِي أيضـــا لَدَيْـهِمْ ذَاتُ ¤ وَمَوْضِعَ اللَّاتِي أَتَى ذَوَاتُ
Demikian juga ditemukan di kalangan kaum Thayyi’, penggunaan ذَاتُ seperti kedudukan الَّتِيْ (Isim mausul jenis female tunggal), juga penggunaan ذَوَاتُ menempati kedudukan اللآتِيْ (Isim mausul untuk  jenis female jamak).
BENTUK ISIM MAUSHUL THE (ذَا)
وَمِثْلُ مَا ذَا بَعْدَ مَا اسْتِفْهَـامِ ¤ أَوْمَنْ إذَا لَمْ تُلْغَ فِي الْكَلاَمِ
Isim Maushul ذَا statusnya sama dengan isim Maushul مَا (dipakai untuk tunggal, dual, jamak, male dan female), dengan ketentuan ذَا jatuh sesudah ما Istifham atau من Istifham, syaratnya ذَا tidak dibatalkan didalam Kalam (maksudnya: ذَا dan ما/من tsb, tidak dijadikan satu kata Istifham (kata tanya)).
BENTUK SHILAH ISIM MAUSHUL
وَكُلُّهَــا يَلْـزَمُ بَعَــدَهُ صِلَـهْ ¤ عَلَى ضَمِيْرٍ لاَئِقٍ مُشْتَمِلَهْ
Setiap Isim-Isim Maushul ditetapkan ada Shilah (jumlah/kalimat keterangan) setelahnya,  yang mencakupi atas Dhomir yang sesuai (ada Dhamir/’Aid yg  kembali kepada Isim Maushul).
وَجُمْلَةٌ أوْ شِبْهُهَا الَّذِي وُصِلْ ¤ بِهِ كَمَنْ عِنْدِي الَّذِي ابْنُهُ كُفِلْ
Shilah yang tersambung oleh Isim Maushul, biasanya terdiri dari Jumlah atau Shibhul Jumlah (serupa jumlah). seperti contoh: مَنْ عِنْدِي الَّذِي ابْنُهُ كُفِلْ
وَصــفَةٌ صَرِيْحَةٌ صِــلَةُ أَلْ ¤ وَكَوْنُهَا بِمُعْرَبِ الأَفْعَالِ قَلْ
<
Bentuk Sifat Sharihah (Isim Fai’l/Isim Maf’ul/Sifat Musyabbah) merupakan Shilah untuk Isim Mausul ال “AL”,  sedangkan Shilah-nya yang berupa Fi’il Mu’rob (Fi’il Mudhori’) jarang adanya.
ISIM MAUSHUL AYYUN (أَيٌّ) DAN BENTUK SHILAHNYA
أَيُّ كَمَا وَأُعْرِبَتْ مَا لَمْ تُضَفْ ¤ وَصَدْرُ وَصْلِهَا ضَمِيْرٌ انْحَذَفْ
Isim Mausul أيّ “Ayyun” dihukumi seperti Isim Maushul “Ma” (bisa untuk Mudzakkar, Muannats, Mufrod, Mutsanna juga Jama’) selagi tidak Mudhaf dan Shadar Silah-nya (‘A-id yg menjadi permulaan Shilah) adalah berupa Dhamir yang terbuang.
وَبَعْضُهُمْ أَعْرَبَ مُطْلَقَاً وَفِي ¤ ذَا الْحَذْفِ أَيًّا غَيْرُ أَيٍّ يَقْتَفِي
Sebagian Ulama Nahwu menghukumi Mu’rab Isim Mausul أيّ “Ayyun” secara Muthlaq (sekalipun أيّ Mudhaf dan Shodar Shilahnya dibuang). Sedangkan didalam hal pembuangan Shadar Shilah ini, Isim Maushul yg selain  أيّ juga mengikuti jejak أيّ … dengan syarat….→
PEMBUANGAN SHADAR SHILAH (‘A-ID MARFU’)
إِنْ يُسْتَطَلْ وَصْلٌ وَإِنْ لَمْ يُسْتَطَلْ ¤ فَالْحَذْفُ نَــــزْرٌ وَأَبَــوْا أَنْ يُخْتَزَلْ
…apabila Shilahnya dipanjangkan. Dan apabila tidak dipanjangkan, maka pembuangan Shadar Shilah jarang ditemukan. Juga Mereka (Ulama Nahwu) melarang terhadap pengurangan Shilah (dari sebab pembuangan Shadarnya)…→
إنْ صَلُحَ الْبَاقِي لِوَصْلٍ مُكْمِلِ ¤ وَالْحَذْفُ عِنْدَهُمْ كَثِيْـرٌ مُنْجَلِي
…apabila sisa Shilah itu (setelah pembuangan Shodarnya) masih cocok menjadi Shilah yang sempuna (berakibat menjadi Shilah dg lain pengertian dari asal sebelum dibuang). Adapun pembuangan ‘A-id Shilah oleh mereka (Ulama Nahwu/orang Arab), banyak digunakan dan jelas … →
PEMBUANGAN ‘A-ID MANSHUB
فِي عَــــائِدٍ مُتَّصِــلٍ إِنِ انْــتَصَبْ ¤ بِفِعْلٍ أوْ وَصْفٍ كَمَنْ نَرْجُو يَهَبْ
…didalam ‘A-id yang Muttashil (Aid Shilah Maushul yang berupa Dhomir Muttashi Manshub) bilamana dinashabkan oleh Fi’il atau Sifat. Seperti contoh مَنْ نَرْجُو يَهَبْ. (takdirannya: مَنْ نَرْجُوهُ يَهَبْ)
PEMBUANGAN ‘A-ID MAJRUR
كَذَاكَ حَذْفُ مَا بِوَصْفٍ خُفِضَا ¤ كَأَنْتَ قَاضٍ بَعْدَ أَمْـرٍ مِنْ قَضَى
Seperti itu juga (banyak digunakan dan jelas) yaitu pembuangan ‘Aid yang dikhofadkan/dijarkan oleh kata sifat. Seperti lafadz أَنْتَ قَاضٍ (takdirannya: أَنْتَ قَاضِيْه ) setelah Fi’il Amarnya lafadz قَضَى (dari Firman Allah QS 20:72. فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ )
كَذَا الَّذِي جُرَّ بِمَا الْمَوْصُوْلَ جَرْ ¤ كَمُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ فَهْــوَ بــَــرْ
Demikian juga (sering membuang Aid pada Shilah Maushul) yaitu Aid yang dijarkan oleh Huruf yg menjarkan Isim Maushulnya (dg Amil yg seragam). Sebagaimana contoh: مُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ فَهْــوَ بــَــرْ (takdirannya: مُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ بِهِ) ♥
۞ Ma'rifat Dengan Alat Ta'rif ۞
الْمُعَرَّفُ بِأَدَاةِ الْتَّعْرِيْفِ
Isim yang di ma’rifah-kan (yang ditentukan) oleh perangkat ma’rifat
AL MA’RIFAT
أَلْ حَرْفُ تَعْرِيْفٍ أَوِ الَّلامُ فَقَطْ ¤ فَنَمَـــطٌ عَرَّفْتَ قُـلْ فِيْـهِ النَّمَطْ
أل (AL atau Alif dan Lam) adalah Huruf pe-ma’rifat, atau  cukup katakan Lam-nya saja. Maka lafazh نمط yang kamu ma’rifatkan, ucapkanlah! dalam lafazh tersebut menjadi النمط.
PENGGUNAAN AL ZAIDAH LAZIM
وَقَـدْ تُزَادُ لاَزِمَاً كَالَّلاتِ ¤ وَالآنَ وَالَّذِيْنَ ثُمَّ الَّلاتِ
Terkadang أل (AL) ditambahi sebagai AL  Zaidah yang Lazim (AL tambahan yang pasti/pembawaan, dinamakan AL zaidah karena tidak berfungsi mema’rifatkan) seperti lafazh الَّلاتِ (Isim Alam/nama berhala di Makkah), الآنَ (Zharaf Zaman/masa waktu), الَّذِيْنَ dan الَّلاتِ(semua Isim Maushul yang berawalan أل/AL).
PENGGUNAAN AL ZAIDAH GHAIR LAZIM DARURAH
وَلاضْــــطِرَارٍ كَبَنَـــــاتِ الأوْبَــــرِ ¤ كَذَا وَطِبْتَ الْنَّفْسَ يَا قَيْسُ الْسَّرِي
Dan terkadang أل (AL) ditambahi karena Darurat Syi’ir (termasuk AL  Zaidah bukan Lazim) seperti lafazh بَنَاتِ الأوْبَرِ dan lafazh طِبْتَ الْنَّفْسَ يَا قَيْسُ الْسَّرِي
PENGGUNAAN AL ZAIDAH GHAIR LAZIM MELIRIK MA’NA ASAL
وَبَعَضُ الأعْلاَمِ عَلَيْهِ دَخَلا ¤ لِلَمْحِ مَـا قَدْ كَانَ عَنْهُ نُقِلاَ
Sebagian isim-isim Alam juga dimasuki oleh أل (termasuk AL  Zaidah bukan Lazim) untuk melirik pada makna asal, yang mana Isim Alam tsb sungguh telah dinukil darinya (yakni: makna lafazh asal sebelum dijadikan isim Alam/Alami Manqul).
كَالْفَضْلِ وَالْحَارِثِ وَالْنُّعْمَانِ ¤ فَــذِكْـرُ ذَا وَحَذْفُــــهُ سِيَّـانِ
Seperti contoh  الفَضْلُ (Alami Manqul dari Isim Masdar), الحَارِثَ (Alami Manqul dari Isim Sifat) dan النُعْمَانُ (Alami Manqul dari Isim Jenis). Maka penyebutan AL ini, atau membuangnya sama saja (tidak mempengaruhi kema’rifatan Isim Alam)
PENGGUNAAN AL LIL GHALABAH DAN MUDHAF LIL GHALABAH
وَقَدْ يَصِيْـــرُ عَلَـمـــاً بِالْـغَـلَبَــــهْ ¤ مُضَاف أوْ مَصْحُوْبُ أَلْ كَالْعَقَبَهْ
Dan terkadang menjadi Alami bil Ghalabah (khusus nama tertentu karena mengalahkan nama-nama lain yg serupa) yaitu Isim Mudhaf (Mudhaf lil Ghalabah, contoh Ibnu Abbas tertentu kepada Abdullah bin Abbas paman Rosulullah) dan Isim yang diberi AL (AL lil Ghalabah) seperti contoh Al-‘Aqabah (menjadi khusus nama jalan digunung Mina)
وَحَذْفَ أَلْ ذِي إنَ تُنَادِ أَوْ تُضِفْ ¤ أوْجِبْ وَفِي غَيْرِهِمَـا قَدْ تَنْحَذِفْ
Dan wajiblah bagimu membuang Al Ghalabah ini, apabila kamu menjadikan ia (Alami bil Ghalabah) munada atau mudhaf. Terkadang juga Al Ghalabah ini dibuang pada selain keduanya (munada atau mudhaf)
۞ Ibtada’ ۞
الابْتِدَاءُ
Bab Ibtida’
DASAR-DASAR KALIMAT SUSUNAN JUMLAH ISMIYAH
Mubtada’ dan Khabar
مُبْتَـدَأ زَيْدٌ وَعَـــاذِرٌ خَبَـــــرْ ¤ إِنْ قُلْتَ زَيْدٌ عَاذِرٌ مَنِ اعْتَذَرْ
Adalah Mubtada’ yaitu lafadz زيد ,  dan lafazh عاذر adalah Khabar, apabila kamu mengucapkan kalimat: زيد عاذر من اعتذر. “Zaid adalah penerima alasan bagi orang yang mengemukakan alasan”
Mubtada’ dan Fa’il
وَأَوَّلٌ مُبْـــتَدَأ وَالْثَّـــــانِي ¤ فَاعِلٌ اغْنَى فِي أَسَارٍ ذَانِ
Kalimah yang pertama adalah Mubtada’, dan kalimah yang kedua adalah Fa’il yang mencukupi (tanpa Khabar), didalam contoh kalimat: أ سار ذان “apakah yang berjalan malam, keduanya ini?” (أ = Huruf Istifham, سار = Isim Sifat sebagai Mubtada’, ذان = sebagai Fa’il yg menempati posisi Khabar)
وَقِسْ وَكَاسْتِفْهَامٍ النَّفْيُ وَقَدْ ¤ يَجُوْزُ نَحْوُ فَائِزٌ أولُو الرَّشَدْ
Dan kiaskanlah! (untuk contoh lain serupa أ سار ذان = yakni, Mubtada’ dari Isim sifat (isim fa’il/isim maf’ul/isim musyabbah) yang diawali Istifham/kata tanya ( أ – هَلْ – كَيْفَ – مَنْ – مَا ) dan Fa’ilnya bisa isim Zhahir atau isim Dhamir). Juga seperti Istifham yaitu Nafi ( semua nafi yang pantas masuk pada isim ( مَا – لاَ – إِنْ – غَيْرُ – لَيْسَ ) dan terkadang boleh (tanpa awalan Istifham atau Nafi tapi jarang) seperti contoh lafazh: فَائِزٌ أُولُو الرَّشَدْ “Yang beruntung mereka yg mendapat petunjuk”
وَالْثَّانِ مُبْتَدَا وَذَا الْـوَصْفُ خَــبَرْ ¤ إِنْ فِي سِوَى الإِفْرَادِ طِبْقاً اسْتَقَرْ
Kalimah yg kedua adalah mubtada’ (menjadi Mubtada’ muakhkhar). Dan Isim Sifatnya ini (kalimah yg pertama) adalah Khabar (menjadi Khabar Muqaddam), apabila pada selain bentuk mufradnya ia menetapi kecocokan (yakni, sama-sama berbentuk Mutsanna atau jama’ misal: أ ساران ذان).
I’RAB MUBTADA’ DAN KHABAR
وَرَفَعُـــوا مُبْتَدَأ بالابْــتَدِا¤ كَذَاكَ رَفْعُ خَبَرٍ باْلمُبْتَدَأ
Mereka (orang arab) me-rofa’kan Mubtada’ karena sebab Ibtida’ (‘Amil secara Ma’nawi, yakni menjadikan isim sebagai Pokok/Subjek kalimat, dikedepankan sebagai sandaran bagi kalimah lain sekalipun secara Lafzhi ada di belakang (mubtada’ muakhkhar)). Demikian juga rofa’-nya Khobar disebabkan oleh Mubtada’.
KHABAR DAN BENTUK-BENTUKNYA
Pengertian Khabar
وَالْخَبَرُ الْجُزْء الْمُتِمُّ الْفَائِدَهْ ¤ كَاللَّه بَرُّ وَالأَيَـادِي شَـاهِدَهْ
Pengertian Khabar adalah juz/bagian penyempurna faidah, yang seperti kalimat: اللهُ بَرٌّ وَالأَيَادِي شَاهِدَةٌ “Allah adalah maha pemberi kabajikan. Dan kejadian-kejadian besar adalah sebagai saksi”.
Khabar Jumlah
وَمُفْــرَدَاً يَأتِي وَيَأتِـي جُــمْلَهْ ¤ حَاوِيَةً مَعْنَى الَّذِي سِيْقَتْ لَهْ
Khabar ada yang datang berbentuk Mufrad (Khabar Mufrad, tidak terdiri dari susunan kata). Dan ada yang datang berbentuk Jumlah (Khabar Jumlah, tersusun dari beberapa kata) yg mencakup ada makna mubtada’(ada Robit/pengikat antara Mubtada’ dan Khabar jumlahnya), dimana Jumlah tsb telah terhubung (sebagai khobar) bagi Mubtada’nya.
وَإِنْ تَكُـنْ إيَّـاهُ مَعْنَى اكْتَـــفَى ¤ بِهَا كَنُطْقِي اللَّهُ حَسْبِي وَكَفَى
Dan apabilah Jumlah tsb sudah berupa makna mubtada’, maka menjadi cukuplah Khabar dengannya (tanpa Robit) seperti contoh : نُطْقِى اللهُ حَسْبِي وَكَفَى “adapun ucapanku: “Allah memadai dan cukup bagiku””
Khabar Mufrad
وَالْمُفْــرَدُ الْجَــامِدُ فَارِغٌ وَإِنْ ¤ يُشْتَقَّ فَهْوَ ذُو ضَمِيْرٍ مُسْتَكِنّ
Adapun khabar mufrad yang terbuat dari isim jamid (isim yang tidak bisa ditashrif ishtilahi) adalah kosong (dari dhamir) dan apabila terdiri dari isim yang di-musytaq-kan (isim musytaq hasil pecahan dari tashrif istilahi) maka ia mengandung dhamir yang tersembunyi (ada dhamir mustatir kembali kepada mubtada’/sebagai robit).
وَأَبْرِزَنْهُ مُطْلَقَـاً حَيْثُ تَلاَ ¤ مَا لَيْسَ مَعْنَاهُ لَهُ مُحَصَّلاَ
Dan sungguh Bariz-kanlah! (gunakan Dhamir Bariz, bukan Mustatir) pada khabar mufrad musytaq tsb secara mutlak (baik Dhamirnya jelas tanpa kemiripan, apalagi tidak), ini sekiranya khabar tsb mengiringi mubtada’ yang mana makna khabar tidak dihasilkan untuk mubtada’ (khabar bukan makna mubtada’).
Khabar dari Zharaf dan Jar-Majrur
وَأَخْبَرُوَا بِظَرْفٍ أوْ بِحَرْفِ جَرّ ¤ نَاوِيْنَ مَعْنَى كَائِنٍ أَوِ اسْتَقَــرْ
Mereka (ahli Nuhat dan orang Arab) menggunakan Khabar dengan Zharaf atau Jar-Majrur, dengan niatan menyimpan makna كَائِنٍ atau اسْتَقَرْ.
وَلاَ يَكُوْنُ اسْـمُ زَمَانٍ خَبَرَا ¤ عَنْ جُثَّةٍ وَإِنْ يُفِدْ فَأَخْبِرَا
Tidak boleh ada Isim Zaman (Zharaf Zaman) dibuat Khabar untuk Mubtada’ dari Isim dzat. Dan apabila terdapat faidah, maka sungguh jadikan ia Khabar…!.
SYARAT KEBOLEHAN MUBTADA’ DARI ISIM NAKIRAH
وَلاَ يَجُوْزُ الابْتِدَا بِالْنَّكِرَهْ ¤ مَا لَمْ تُفِدْ كَعِنْدَ زَيْدٍ نَمِرَهْ
Tidak boleh menggunakan mubtada’ dengan isim Nakirah selama itu tidak ada faidah, (yakni, boleh dengan persyaratan ada faidah) seperti contoh: عِنْدَ زَيْدٍ نَمِرَةُ“adalah disisi Zaid pakaian Namirah (jenis pakaian bergaris-garis yg biasa dipakai oleh orang A’rab Badwi)” (khabarnya terdiri dari zharaf atau jar-majrur yg dikedepankan dari mubtada’nya).
وَهَلْ فَتَىً فِيْكُمْ فَمَا خِلٌّ لَنَا ¤ وَرَجُــلٌ مِنَ الْكِـرَامِ عِنْدَنَا
(dan disyaratkan juga: ) seperti contoh هَلْ فَتَىً فِيكُم “adakah seorang pemuda diantara kalian?” (diawali dengan Istifham/kata tanya), dan contoh: مَا خِلٌّ لَنَا “tidak ada teman yang menemani kami” (diawali dengan Nafi), dan contoh: رَجُلٌ مِنَ  الكِرَامِ عِنْدَنَا “seorang lelaki yg mulia ada disisi kami” (disifati)
وَرَغْبَةٌ فِي الْخَيْر خَيْرٌ وَعَمَلْ ¤ بِرَ يَزِيْنُ وَلْيُقَسْ مَا لَمْ يُقَـلْ
dan contoh: رَغْبَةٌ فِي الخَيْرِ خَيْرٌ “gemar dalam kebaikan adalah baik” (mengamal), dan contoh: عَمَلُ بِرٍّ يَزِينُ“berbuat kebajikan menghiasi (hidupnya)” (mudhaf). Dan dikiaskan saja! contoh lain yang belum disebut.
PERIHAL KEBOLEHAN MENDAHULUKAN KHABAR DARI MUBTADA’
وَالأَصْلُ فِي الأَخْبَارِ أَنْ تُؤخَّرَا¤ وَجَـوَّزُوَا الْتَّقْــدِيْمَ إِذْ لاَ ضَــرَرَا
Asal penyebutan Khabar tentunya harus di-akhirkan (setelah penyebutan mubtada’), dan mereka (orang arab/ahli nahwu)  memperbolehkan mendahulukan khabar bilamana tidak ada kemudharatan (aman dari ketidakjelasan antara khabar dan mubtada’nya).
PELARANGAN MENDAHULUKAN KHABAR DARI MUBTADA’NYA
Sama Nakirah atau Ma’rifat
فَامْنَعْهُ حِيْنَ يَسْتَوِى الْجُزْءآنِ ¤ عُرْفَــــاً وَنُكْـــرَاً عَــادِمَيْ بَيَـــانِ
Maka cegahlah mendahulukan Khabar…!  ketika  kedua juz (khabar & mubtada’) serupa ma’rifah-nya atau nakirah-nya, dalam situasi keduanya tidak ada kejelasan. (karena dalam hal ini, pendengar atau pembaca tetap menganggap khabarlah yang dibelakang)
Khabar dari kalimah Fi’il atau Khabar yg di-mahshur
كَذَا إذَا مَا الْفِعْلُ كَانَ الْخَبَرَا ¤ أَوْ قُــصِدَ اسْتِعَمَــالُهُ مُنْحَصِرَا
Demikian juga dilarang khabar didahulukan, bilamana ia berupa kalimah Fi’il sebagai khabarnya (karena akan merubah susunan kalimat menjadi jumlah Fi’liyah/fi’il dan fa’il). Atau dilarang juga (menjadikan Khabar muqaddam) yaitu penggunaan khabar dengan maksud dimahshur/dipatoki (dengan اِنَّمَا atau اِلاَّ).(karena fungsi me-mahshur-kan khabar adalah untuk meng-akhirkannya).
Khabar bagi Mubtada’ yg ber-Lam Ibtida’ atau Mubtada’ dari Isim Shadar Kalam
أَوْ كَانَ مُسْنَدَاً لِذِي لاَمِ ابْتِدَا ¤ أَوْ لاَزِم الْصَّدْرِ كَمَنْ لِي مُنْجِدَا
Atau dilarang juga (khabar didahukukan) yaitu menjadikan Khabar disandarkan pada Mubtada’ yg mempunyai lam ibtida’ (karena kedudukan Lam Ibtida’ adalah sebagai Shadar Kalam/permulaan kalimat). Atau disandarkan kepada mubtada’ yang semestinya berada di awal kalimat seperti contoh: مَنْ لِي مُنْجِدَا “siapakah sang penolong untuk ku?” (mubtada’ dari isim istifham).
KHABAR WAJIB DIDAHULUKAN DARI MUBTADA’NYA (KHABAR MUQADDAM & MUBTADA’ MUAKHKHAR)
وَنَحْوُ عِنْدِي دِرْهَمٌ وَلِي وَطَرْ ¤ مُلتـــزَمٌ فِيـــــهِ تَقَــــدُّمُ الخَـــبَرْ
Contoh seperti عِنْدِي دِرْهَمٌ “aku punya dirham” (yakni, khabarnya terdiri dari Zharaf dan Mubtada’nya terdiri dari isim Nakirah) dan لِي وَطَرْ  “aku ada keperluan” (yakni, khabarnya terdiri dari Jar-majrur dan Mubtada’nya terdiri dari isim Nakirah) adalah diwajibkan pada contoh ini mendahulukan Khabar.
كَذَا إِذَا عَادَ عَلَيْهِ مُضْمَرُ ¤ مِمَّــا بِهِ عَنْهُ مُبِينــاً يُخْــبَرُ
Seperti itu juga wajib mendahulukan khabar, bilamana ada Dhamir yang tertuju kepada Khabar, tepatnya dhamir yang ada pada Mubtada’ yang  dikhabari oleh Khobanya, sebagai penjelasan baginya (contoh: فِي الدَّارِ صَاحِبُهَا  “penghuni rumah ada di dalam rumah”)
كَذَا إِذَا يَسْتَوْجِبُ التَّصْديرا ¤ كَـأَيْــنَ مَـنْ عَـلِمْــتَهُ نَصِــيرَا
Demikian juga wajib khabar didahulukan dari mubtada’, bilamana khabar tsb sepantasnya ditashdirkan/dijadikan pembuka kalimat. Seperti contoh: أَيْــنَ مَـنْ عَـلِمْــتَهُ نَصِــيرَا “dimanakah ia yang kamu yakini sebagai penolong?” (khabarnya terdiri dari Isim Istifham).
وَخَبَرَ الْمَحْصُورِ قَدِّمْ أبَدَا ¤ كَمَالَنَـــا إلاَّ اتِّبَـــاعُ أحْمَــدَا
Dahulukanlah…! Selamanya terhadap Khabar yang dimahshur (dengan انما atau الا ) contoh: مَالَنَا إلاَّ اتِّبَاعُ أحْمَدَا  “tidaklah kami mengikuti kecuali ikut kepada Ahmad”
PERIHAL KEBOLEHAN MEMBUANG KHABAR ATAU MUBTADA
contoh boleh membuang Khabar
وَحَذفُ مَا يُعْلَمُ جَائِزٌ كَمَا ¤ تَقُوْلُ زَيْدٌ بَعْدَ مَنْ عِنْدَكُمَا
Membuang suatu yang sudah dimaklumi adalah boleh,  sebagaimana kamu menjawab: زَيْدٌ “Zaid” setelah pertanyaan: مَنْ عِنْدَكُمَا “Siapakah yg bersama kalian?“
contoh boleh membuang mubtada’
وَفِي جَوَابِ كَيْفَ زَيْدٌ قُلْ دَنِفْ ¤ فَــزَيْدٌ اسْتُغْــنِيَ عَـنْهُ إِذْ عُـرِفْ
juga didalam jawaban pertanyaan contoh: كَيْفَ زَيْدٌ “Bagaimana Zaid?”, jawab saja! دَنِفْ “Sakit“. maka dicukupkan tanpa perkataan zaid, karena sudah diketahui.
KHABAR YANG WAJIB DIBUANG
وَبَعْدَ لَوْلاَ غَالِبَاً حَذْفُ الْخَبَرْ ¤ حَتْمٌ وَفِي نَصِّ يَمِيْنٍ ذَا اسْتَقَرْ
Lazimnya setelah lafazh LAULAA, membuang khabar adalah wajib (contohnya: لولا زيدٌ لأتيتُكَ “andaikata tidak ada Zaid, sungguh aku telah mendatangimu“). Juga didalam penggunaan Mubtada’ nash sumpah, demikian ini (hukum wajib membuang khabar) tetap berlaku (contohnya: لَعَمْرُكَ لأفْعَلَنَّ “demi hidupmu… sungguh akan kukerjakan“).
وَبَعْدَ وَاوٍ عَيَّنَتْ مَفْهُوْمَ مَعْ ¤ كَمِثْلِ كُلُّ صَــانِعٍ وَمَــا صَنَــعْ
juga (tetap berlaku wajib membuang khabar) yaitu setelah Wawu yang menentukan mafhum makna Ma’a “beserta“.  sebagaimana contoh: كُلُّ صَــانِعٍ وَمَــا صَنَــعْ “Setiap yang berbuat beserta perbuatannya”.
وَقَبْلَ حَالٍ لاَ يَكُوْنُ خَبَرَا ¤ عَنِ الَّذِي خَـبَرُهُ قَدْ أُضْمِرَا
juga (tetap berlaku wajib membuang khabar) yaitu sebelum haal yang tidak bisa menjadi khobar (tapi sebagai sadda masaddal-khobar/menempati kedudukan khobar) dari mubtada’ yang khobarnya benar-benar disamarkan
كَضَرْبِيَ الْعَبْدَ مُسِيْئاً وَأَتَـمّ ¤ تَبْيِيني الْحَــقَّ مَنُـوْطَاً بِالْحِـكَمْ
Seperti contoh : “Dhorbiyal ‘Abda Masii-an” = pukulanku pada hamba bilamana ia berbuat tidak baik (yakni, mubtada’ dari isim masdar dan sesudahnya ada haal menempati kedudukan khobar) dan contoh “Atammu Tabyiiniy al-haqqa manuuthon bil-hikam” = paling finalnya penjelasanku bilamana sudah manut/sesuai dengan hukum.
KEBOLEHAN MENJADIKAN BANYAK KHOBAR DENGAN SATU MUBTADA
وَأَخْبَرُوا بِاثْنَيْنِ أَوْ بِأَكْثَرَا ¤ عَنْ وَاحِدٍ كَهُـمْ سَرَاةٌ شُعَـرَا
Mereka (ulama nuhat/orang arab) menggunakan khabar dengan dua khobar atau lebih dari satu mubtada’, contoh “Hum Saraatun Syu’aroo-un” =  mereka adalah orang-orang luhur para penyair.
۞ Kana dan Saudara-saudaranya ۞
كَان وَأَخَوَاتُهَا
KAANA DAN SAUDARA-SAUDARANYA

PENGAMALAN KANA DAN SAUDARA-SAUDARANYA
تَرْفَعُ كَانَ الْمُبْتَدَا اسْمَاً وَالْخَبَرْ تَنْصِبُهُ كَكَانَ سَيِّدَاً عُمَرْ
Kaana merofa’kan pada Mubtada’ sebagai isimnya, dan kepada Khabar yakni menashabkannya, demikian ini seperti contoh: Kaana sayyidan ‘Umaru (adalah seorang tuan siapa Umar)
LAFAZH-LAFAZH SAUDARA KANA
كَكَانَ ظَلَّ بَاتَ أَضْحَى أَصْبَحا أَمْسَى وَصَارَ لَيْسَ زَالَ بَرِحَا
Adalah seperti Kaana (merofa’kan pada Mubtada’ sebagai isimnya dan menashobkan khobarnya) yaitu lafazh: Zholla (menjadi di siang hari), Baata (menjadi di malam hari), Adh-ha (menjadi diwaktu dhuha), Amsaa (menjadi diwaktu sore), Shooro (menjadi), Laisa (tidak). Zaala (senantiasa), Bariha (senantiasa)
فَتىء وَانْفَكَّ وَهذِي الأَرْبَعَهْ لِشِبْهِ نَفْي أوْ لِنَفْي مُتْبَعَهْ
Fati-a (senantiasa) Infakka (senantiasa). Adapun yang empat ini (Zaala Bariha Fati-a Infakka) harus diikutkan pada nafi atau serupa nafi
وَمِثْلُ كَانَ دَامَ مَسْبُوْقَاً بِمَا كَأَعْطِ مَا دُمْتَ مُصِيْبَاً دِرْهَمَاً
Dan semisal Kaana (merofa’kan pada Mubtada’ sebagai isimnya dan menashobkan khobar sebagai khobarnya) yaitu lafazh: Daama yg didahului dengan Maa mashdariyyah-zharfiyyah, seperti contoh: A’thi..! maa dumtu mushiiban dirhaman (berikan ia uang selama kamu punya)
وَغَيْرُ مَاضٍ مِثْلَهُ قَدْ عَمِلاَ إِنْ كَانَ غَيْرُ الْمَاضِ مِنْهُ اسْتُعْمِلاَ
Selain bentuk fi’il madhi (kaana dan sdr-nya) jelas beramal semisal fi’il madhinya, apabila selain bentuk fi’il madhinya dipergunakan.
KHOBAR KANA DALAM PELETAKANNYA
وَفِي جَمِيْعهَا تَوَسُّطَ الْخَبَرْ أَجِزْ وَكُلٌّ سَبْقَهُ دَامَ حَظَرْ
Perbolehkanlah..! menengahi khobar (antara amil dan isimnya) pada semua kanaa dan saudara-saudaranya. Dan setiap mereka (nuhat/arabiy) melarang mendahulukannya khobar pada Daama.
كَذَاكَ سَبْقُ خَبَرٍ مَا الْنَّافِيَهْ فَجِيء بِهَا مَتْلُوَّةً لاَ تَالِيَهْ
Demikian juga dilarang mendahukan khobar pada maa nafi, maka jadikanlah ia (maa nafi) sebagai yang di-ikuti bukannya yang mengikuti
وَمَنْعُ سَبْقِ خَبَرٍ لَيْسَ اصْطُفِي وَذُو تَمَامٍ مَا بِرَفْعٍ يَكْتَفِي
Pelarangan mendahulukan khobar pada “Laisa” adalah hukum yang dipilih. Saudara-saudara Kaana yang Tam, yaitu setiap yang cukup dengan marfu’nya saja (isimnya)
FI’IL NAQISH DAN FI’IL TAM
وَمَا سِوَاهُ نَاقِصٌ وَالْنَّقْصُ في فَتِىءَ لَيْسَ زَالَ دَائِمَاً قُفِي
Dan saudara kaana selain yg Tam, disebut Naqish. Sedangkan Naqish untuk lafazh “Fati-a”, “Laisa” dan “Zaala” selamanya diikuti/ditetapkan sebagai Naqish
PERIHAL MA’MUL KHOBAR DIDAHULUKAN
وَلاَ يَلِي العَامِلَ مَعْمُولَ الخَبَرْ إِلَّا إِذَا ظَرْفاً أَتَى أَوْ حَرْفَ جَرّ
Ma’mulnya khobar tidak boleh mengiringi amil … kecuali bilamana ma’mul tsb berupa zhorof atau jar-majrur
وَمُضْمَرَ الْشانِ اسْمَاً انْوِ إنْ وَقَع مُوْهِمُ مَا اسْتَبَانَ أَنَّهُ امْتَنَعْ
mengiralah dhomir syaen sebagai isimnya kaana dan saudaranya, apabila terdapat anggapan benar dari kalam arab yang nyata-nyata dilarang (ma’mul khobar mengiringi kaana cs, pada bait sebelumnya).
KAANA ZAIDAH
وَقَدْ تُزَادُ كَانَ فِي حَشْوٍ كَمَا كَانَ أَصَحَّ عِلْمَ مَنْ تَقَدَّمَا
terkadang kaana ditambahi (hanya zaidah) diantara dua kalimah (yg mutalazim) contoh: MAA KAANA ASHOHHA ILMA MAN TAQODDAMAA “alangkah shahnya ilmunya orang-orang terdahulu.
KAANA DIBUANG
وَيَحْذِفُوْنَهَا وَيُبْقُوْنَ الْخَبَر وَبَعْدَ إِنْ وَلَوْ كَثِيْرَاً ذَا اشْتَهَرْ
Mereka (ulama nuhat, orang arab) membuang kaana (berikut isimnya) dan menyisakan khobarnya. Demikian ini sering terjadi dan banyak, ketika kaana berada setelah “in syarthiyah” atau “lau syarthiyah”.
MAA MENGGANTIKAN KAANA
وَبَعْدَ أَنْ تَعْوِيْضُ مَا عَنْهَا ارْتُكِبْ كَمِثْلِ أَمَّا أَنْتَ بَرًّا فَاقْتَرِبْ
Sesudah huruf “AN masdariyah” menggantikannya Maa dari Kaana diberlakukan, semisal contoh: AMMA ANTA BARRAN FAQTARIB “jadilah dirimu orang baik kemudian mendekatlah (pd-Nya) ”
PEMBUANGAN KAF PADA LAFAZH YAKUN
وَمِنْ مُضَارِعٍ لِكَانَ مُنْجَزِمْ تُحُذَفُ نُوْنٌ وَهْوَ حَذْفٌ مَا الْتُزِمْ
Dari fi’il mudhari’nya kaana yg dijazmkan (YAKUN) huruf Nun-nya dibuang, pembuangan ini tidaklah musti (boleh).
۞ Maa, Laa, Laata, dan In yang beramal Laisa ۞
فَصْلٌ فِي مَا وَلاَ وَلاَتَ وَإِنْ الْمُشَبَّهَاتِ بِلَيْسَ
BAB MAA, LAA, LAATA DAN IN YG BERAMAL SERTI LAISA
PEMGAMALAN “MAA NAFI” DAN SYARAT-SYARATNYA
إِعْمَالَ لَيْسَ أُعْمِلَتْ مَا دُوْنَ إِنْ مَعَ بَقَا الْنَّفْي وَتَرْتِيْبٍ زُكِنْ
Diamalkan seperti amal laisa (merofa’kan isimnya dan menashobkan khobarnya) yaitu MAA NAFI tanpa IN, beserta tetapnya nafi (tanpa illa) dan susunan tertib yg dimaklumi (mubtada di depan khobar di belakang).
KEBOLEHAM MA’MUL KHOBAR MAA NAFI DIKEDEPANKAN
وَسَبْقَ حَرْفِ جَرَ أوْ ظَرْفٍ كَمَا بِي أَنْتَ مَعْنِيًّا أَجَازَ الْعُلَمَا
Mendahulukan harf jar atau zharaf, seperti halnya contoh: MAA BIY ANTA MA’NIYYAN (kamu tidaklah perhatian padaku), Ulama membolehkannya.
MA’THUF DG LAAKIN/BAL PADA KHOBAR MAA NAFI , WAJIB ROFA’
وَرَفْعَ مَعْطُوْفٍ بِلكِنْ أَوْ بِبَلْ مِنْ بَعْدِ مَنْصُوْبٍ بِمَا الْزَمْ حَيْثُ حَل
Merofa’kan isim yg diathafkan dg huruf LAAKIN atau BAL setelah isim yg dinashabkan oleh MAA, hukumilah wajib (wajib rofa’) bagimu sekiranya ini terjadi (contoh: MAA ZAIDUN QOOIMAN LAAKIN JAALISUN)
TAMBAHAN BA’ HURUF JAR, PADA KHOBARNYA MAA/LAISA.
وبَعْدَ مَا وَلَيْسَ جَرَّ الْبَا الْخَبَرْ وَبعَدْ لا ونَفْي كَانَ قَد يجر
Setelah MAA dan LAISA sering ada huruf BA men-jarkan khobarnya, sedangkan setelah LAA dan NAFINYA KAANA jarang ada BA men-jarkan khobarnya (contoh: A LAISA-ALLAHU BI AHKAMIL HAAKIMIIN
WA MAA ROBBUKA BI ZHOLLAAMIN-LIL ‘ABIID)
PENGAMALAN  LAA, LAATA DAN IN
في النَّكِرَاتِ أعْمِلَنْ كَلَيْسَ لا وَقَدْ تَلِي لَاتَ وَإِنْ ذَا العَمَلَا
“LAA” diamalkan seperti “LAISA” (merofa’kan isim & menashabkan khobarnya) pada isim-isim nakirah. Terkadang “LAATA” dan “IN” juga mengikuti pengamalan ini.
وَمَا لِلاَتَ فِي سِوَى حِيْنٍ عَمَلْ وَحَذْف ذِي الْرَّفْعِ فَشَا وَالْعَكْسُ قَل
Dan tidaklah bagi “LAATA” itu beramal pada yg selain HIINA (isim zaman), membuang isimnya sering terjadi, sebaliknya membungan khobarnya jarang.
۞ Af’aalul Muqorabah ۞
أَفْعَالُ الْمُقَارَبَةِ
AF’AALUL MUQOROBAH (KATA KERJA MAKNA HAMPIR SAJA)
كَكَانَ كَادَ وَعَسَى لكِنْ نَدَرْ غَيْرُ مُضَارِعٍ لِهذَيْنِ خَبَرْ
Beramal semisal KAANA (merofa’kan mubtada’ sebagai isimnya dan menashabkan khobarnya) yaitu KAADA dan ‘ASAA, akan tetapi khobar untuk keduanya ini jarang selain bentuk fi’il mudhari’.
Contoh:
KAADA ATS-TSAMARU YATHIIBU
Buah itu hampir matang
‘ASAA AL-AMNU AN YADUUMA
Mudah-mudahan ketentraman ini untuk selamanya
وَكَوْنُهُ بِدُونِ أَنْ بَعْدَ عَسَى نَزْرٌ وَكَادَ الأَمْرُ فِيْهِ عُكِسَا
Adanya khabar tanpa AN setelah ‘ASAA adalah jarang (khobar ‘ASAA sering dengan AN) sedangkan KAADA, perkara yang ada padanya terbalik (khobar KAADA sering tanpa AN)
Contoh:
1. ‘ASAA ZAIDUN “AN YAQUUMA” (sering dg AN)
smoga saja zaid berdiri
2. MAA KAADA ZAIDUN “YAQUUMU” (sering tnp AN)
hampir saja zaid tidak berdiri
وَكَعَسَى حَرَى وَلكِنْ جُعِلاَ خَبَرُهَا حَتْمَاً بِأَنْ مُتَّصِلاَ
HAROO seperti ‘ASAA (sama-sama bermakna semoga saja/af’aalur-roja) akan tetapi khabarnya dijadikan bersambung dengan AN secara wajib.
Contoh:
1. HAROO ZAIDUN AN YAQUUMA (wajib dg AN)
Semoga saja zaid berdiri
وَأَلْزَمُوا اخْلَوْلَقَ أَنْ مِثْلَ حَرَى وَبَعْدَ أَوْشَكَ انْتِفَا أَنْ نَزُرَا
Mereka (nuhat/arab) mewajibkan IHLAULAQO dengan AN sebagaimana HAROO, sedangkan khobar setelah AUSYAKKA tanpa AN adalah jarang.
Contoh:
1. IHLAULAQO ZAIDUN AN YAQUUMA (wajib dg AN)
Semoga saja zaid berdiri
2. AUSYAKKA ZAIDUN AN YAQUUMA (sering dg AN)
Hampir saja zaid berdiri
وَمِثْلُ كَادَ في الأَصَحِّ كَرَبَ أوِ تَرْكُ أَنْ مَعْ ذِي الْشُّرُوع وَجَبَا
“KAROBA” seperti hukum KAADA (sering khobarnya tanpa AN, dan sama bermakna hampir) demikian menurut kaul yang lebih shahih. Atau wajib tanpa AN sebagai Af’aalus-Syuruu’ (kata kerja bermakna memulai).
كَأَنْشَأَ الْسَّائِقُ يَحْدُو وَطَفِقْ كَذَا جَعَلْتُ وَأَخَذْتُ وَعَلِقْ
Contoh (Af’aalus-Syuruu’) “ANSYA-As-saa-iqu yahdzuu”, “THOFAQO” demikian juga “JA’ALA”, “AKHODZA” dan “‘ALIQO”
Contoh:
KAROBA ZAIDUN YAQUUMU
Zaid hampir berdiri
ANSYA’A ASSAA’IQU YAHDZUU
Kusir itu mulai menggiring/memacu
THOFAQO ZAIDUN YAD’UU
Zaid mulai berdoa
JA’ALA ZAIDUN YATAKALLAMU
Zaid mulai berbicara
AKHODZA ZAIDUN YANZHIMU
Zaid mulai menyusun
‘ALIQO ZAIDUN YAF’ALU
Zaid mulai bekerja
وَاسْتَعْمَلُوا مُضَارِعَاً لأَوْشَكَا وَكَادَ لاَ غَيْرُ وَزَادُوا مُوْشِكَا
Mereka (nuhat/orang arab) mempergunakan juga bentuk fi’il mudhari’ (dalam bab af’aalul muqorobah ini) untuk lafazh AUSYAKKA dan KAADA, dan tidak untuk lafazh yg lainnya, ditambah juga bentuk isim faa’l contoh MUUSYIKUN.
Contoh:
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ
YAKAADUL-BARQU YAKHTHOFU ABSHOOROHUM
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka… (QS. Al-Baqoroh :20)
يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسُرَ عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ
YUUSYIKU AL-FUROOTU AN YAHSURO ‘AN KANZIN MIN DZAHABIN
Hampir-hampir sungai Furot itu merasa letih karena emas yg dikandungnya … (HR. Bukhari Muslim)
فَمُوشِكَةٌ أَرْضُنَا أَنْ تَعُودَ خِلاَ فَ الأنِيسِ وَحُوشاً يَبَابَا
FA MUUSYIKUN ARDHUNAA AN TA’UUDA KHILAAFAL-ANIISI WAHUUSYAN YABAAYAA
Hampir-hampir bumi kami setelah dihuni kembali menjadi tanah liar dan mati. (Syahid Syair oleh Abu Sahm Al-Hudzaliy)
بَعْدَ عَسَى اخْلَوْلَقَ أَوْشَكَ قَدْ يَرِدْ غِنًى بِأَنْ يَفْعَلَ عَنْ ثَانٍ فُقِدْ
Setelah ASAA, IKHLAULAQO dan AWSYAKKA, sungguh ditemukan cukup dengan AN YAF’ALA (jumlah AN dan Fiil Mudhari cukup sebagai isimnya tanpa Khobar, ya’ni ketiga Af’alul Muqorobah tsb diberlakukan sebagai Fi’il Tam) tanpa kata kedua (khobarnya) yang dihilangkan.
Contoh:
‘ASAA AN YAQUUMA = mudah-mudahan dia berdiri
IKHLAWLAQO AN YA’TII = mudah-mudahan dia datang
AWSYAKKA AN YA’MALU = hampir lagi dia mengerjakannya
وَجَرِّدَنْ عَسَى أَوْ ارْفَعْ مُضْمَرَا بِهَا إذَا اسْمٌ قَبْلَهَا قَدْ ذُكِرَا
1- Kosongkan! lafazh ‘ASAA, atau (pilih) 2- Rofa’kan dhamir mustatir yg ada pada ‘ASAA. Apabila terdapat isim yang disebut sebelumnya.
Contoh: ZAIDUN ‘ASAA AN YABROA “semoga zaid sembuh”
1. Asaa menjadi Fi’il Tam, kosong tanpa dhamir, dan faa’ilnya adalah ta’wil masdar “AN YABROA”
2. Asaa ,menjadi Fi’il Naqis, mengandung dhamir mustatir sebagai isimnya, dan khobarnya adalah ta’wil masdar “AN YABROA”
وَالْفَتْحَ وَالْكَسْر أَجِزْ فِي الْسِّيْنِ مِنْ نَحْوِ عَسَيْتُ وَانْتِقَا الْفَتْحِزُكِنْ
Perkenankanlah! mengharkati fathah atau kasrah untuk Sin dari contoh ‘ASAITU (‘asaa yg bersambung dengan dhamir rofa’ mutaharrik). Memilih harakat fathah adalah yg umum.
Contoh:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi..?
۞ Inna dan Saudara-saudaranya ۞
إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا
INNA DAN SAUDARA SAUDARANYA
لإِنَّ أَنَّ لَيْتَ لكِنَّ لَعَلَّ كَأَنَّ عَكْسٌ مَا لِكَانَ مِنْ عَمَلْ
Pengamalan untuk Inna, Anna, Laita, Lakinna dan Ka-anna, kebalikan dari pengamalan untuk Kaana. (yakni, Inna dss. Beramal menashabkan isimnya dan merofa’kan khobarnya)
كَإِنَّ زَيْدَاً عَالِمٌ بِأَنِّي كُفءٌ وَلكِنَّ ابْنَهُ ذُو ضِغْنِ
Seperti contoh: INNA zaidan ‘aalimun bi ANNIY kuf-un wa LAAKINNA ibnahuu dzuu dhighni (sesungguhnya Zaid tahu bahwa saya sepadan akan tetapi putranya masih punya dendam)
ISIM & KHOBAR INNA HARUS TARTIB
وَرَاعِ ذَا الْتَّرْتِيْبَ إلاَّ فِي الَّذِي كَلَيْتَ فِيْهَا أَوْ هُنَا غَيْرَ البَذِي
Pertimbangkanlah olehmu! akan tartib (isimnya dulu baru khobarnya) kecuali yang seperti contoh: “LAITA FIIHAA AW HUNAA GHAIROL BADZI” Smoga saja didalamnya atau disini tidak ada perkataan yg kotor (khobarnya dari jar-majrur atau zhorof, maka boleh dikedepankan dari isimnya)
HAMZAH INNA WAJIB DIHARAKATI FATHAH
وَهَمْزَ إِنَّ افْتَحْ لِسَدِّ مَصْدَرِ مَسَدَّهَا وَفِي سِوَى ذَاكَ اكْسِرِ
Fathahkanlah hamzahnya Inna (menjadi ANNA) karena posisi mashdar menempatinya (ditakwil mashdar). Selain itu, kasrahkanlah..!
Contoh:
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran)?
HAMZAH INNA WAJIB KASRAH
فَاكْسِرْ فِي الابْتِدَا وَفِي بَدْءِ صِلَهْ وَحَيْثُ إِنَّ لِيَمِينٍ مُكْمِلَهْ
Kasrahkanlah (terhadap hamzahnya INNA): (1) berada dipermulaan kalam, (2) berada di permulaan jumlah shilah (shilah mausul) (3) sekiranya Inna dipandang sempurna sebagai jawab bagi kata sumpah (menjadi jawab qosam baik khobarnya ada lam ibtida’ atau tidak)
أَوْ حُكِيَتْ بِالْقَوْلِ أَوْ حَلَّتْ مَحَلَّ حَالٍ كَزُرْتُهُ وَإِنِّي ذُو أَمَلْ
Atau (4) diceritakan dengan qaul (menjadi jumlah mahkiyah dari kata qoul), atau (5) menempati di tempatnya haal (jumlah inna menjadi haal) seperti: Zirtu hu wa inniy dzu amal “aku mengunjunginya sebagai orang yg berharap/punya kebutuhan)
وَكَسَرُوا مِنْ بَعْدِ فِعْلٍ عُلِّقَا بِالَّلاَمِ كَاعْلَمْ إنَّهُ لَذُو تُقَى
Dan (6) mereka mengkasrahkan (hamzah inna) berada setelah fi’il yang digantungkan dengan lam ibtida’ (sebagian fi’il dari af’aalul quluub yg menyertai lam ibtida) seperti: I’lam innahuu la dzuu tuqoo “ketahuilah bahwa dia itu orang yang mempunyai ketakwaan”
CONTOH HAMZAH INNA WAJIB KASRAH:
1. Permulaan kalam (INNA ZAIDAN QOOIMUN)
2. Shilah maushul (JAA-A ALLADZI INNA HU QOOIMUN)
3. Jawab qosam (WALLAAHI INNA ZAIDAN QOOIMUN)
4. Mahkiyah qoul (QOOLA INNA ZAIDAN QOOIMUN)
5. Haal (JAA-A ZAIDUN WA INNA HU QOOIMUN)
6. Setelah fi’il qulub dg lam taukid (I’LAM INNA ZAIDAN LA QOOIMUN)
HAMZAH INNA BOLEH KASRAH ATAU FATHAH (INNA/ANNA)
بَعْدَ إذَا فَجَاءةٍ أَوْ قَسَمِ لاَ لاَمَ بَعْدَهُ بِوَجْهَيْنِ نُمِي
(1) Setelah Idza Fuja-ah (fujaiyah/tiba-tiba) atau (2) setelah qosam yang disesudahnya tidak ada lam ibtida, (maka Hamzah Inna) dinisbatkan pada dua jalan (boleh kasrah atau fathah)
مَعْ تِلْوِ فَا الْجَزَا وَذَا يَطَّرِدُ فِي نَحْوِ خَيْرُ الْقَوْلِ إِنِّي أَحْمَدُ
(3) serta mengiringi FA JAZA’ (fa jawab syarat) dan (4) ini juga berlaku seperti contoh: Khairul qouli inniy ahmadu = “paling baiknya perkataan adalah: ” aku memujiNya” (khobar mubtada fil ma’na qoul).
HAMZAH INNA BOLEH KASRAH ATAU FATHAH (INNA/ANNA):
1. Setelah Idza Fujaiyah contoh:
KHOROJTU FA IDZA INNA/ANNA ZAIDAN HAADIRUN “aku keluar tiba-tiba ada zaid”
2. Jawab Qosam tanpa lam ibtida, contoh:
HALAFTU INNA/ANNA ZAIDAN HAADIRUN “aku bersumpah Zaid ada”
3. Setelah Fa Jawab syarat, contoh:
MAN YA’TINIY FA INNA/ANNA HUU MUKROMUN “barang siapa datang kepadaku maka sungguh ia dimulyakan”
4. Khobar Qoul, contoh:
KHAIRUL QOULI INNIY/ANNIY AHMADU-LLAAHA “paling baik perkataan adalah: aku memuji Allah)
HAL IHWAL PELETAKAN LAM IBTIDA’ PADA KHOBAR INNA
وَبَعْدَ ذَاتِ الْكَسْرِ تَصْحَبُ الْخَبَرْ لاَمُ ابِتْدَاءٍ نَحْوُ إنِّي لَوَزَرْ
WA BA’DA DZAATIL KASRI TASH-HABUL KHOBAR # LAMU-BTIDAA’I NAHWU INNIY LA WAZAR
Sesuda (INNA) yg punya hamzah kasrah, lam ibtida boleh menemani pada khobarnya, contoh: Inniy La Wazarun “sesungguhnya saya adalah pelindung/bodyguard”
KET:
Khusus khobar Inna yg kasrah hamzahnya, boleh dipasangi lam ibtida. Selain Inna (semua saudara2nya) tidak boleh kecuali syadz/tanpa qias.
وَلاَ يَلِي ذِي الَّلامَ مَا قَدْ نُفِيَا وَلاَ مِنَ الأَفْعَالِ مَا كَرَضِيَا
Khabar Inna yang dinafikan, tidak boleh mengiringi Lam Ibtida. Juga khabarnya yg berupa fi’il (khabar jumlah fi’liyah) yang seperti lafazh RODHIYA (fi’il madhi mutasharrif)
وَقَدْ يَلِيْهَا مَعَ قَدْ كَإِنَّ ذَا لَقَدْ سَمَا عَلَى الْعِدَا مُسْتَحْوِذَا
Terkadang khabar fi’liyah yg seperti RODHIYA tsb, bisa dapat mengiringi Lam Ibtida dg syarat menyertai QOD (huruf tahqiq). Seperti contoh: INNA DZA LA QOD SAMA ‘ALAL-‘IDAA MUSTAHWIDZAN “sungguh ia ternama karena mengalahkan lawan-lawannya”
KET:
Syarat masuknya lam ibtida pada khobar Inna yg kasrah hamzahnya adalah
1. Harus Mutsbat bukan Manfiy
2. Bukan jumlah fi’liyah fi’il madhi mutasharrif tanpa Qod
3. Khabarnya harus diakhirkan dari isimnya (sebagaimana contoh bait)
CONTOH:
Boleh ada lam ibtida
INNA ZAIDAN LA QOOIMUN (isim)
INNA ZAIDAN LA YAQUUMU (fi’il mudhari)
INNA ZAIDAN LA QOD QOOMA (fi’il madhi mutasharrif dengan qod)
INNA ZAIDAN LA NI’MA (fi’il madhi ghairu mutasharrif)
Tidak boleh ada lam ibtida:
INNA ZAIDAN LAM YAQUM (manfi)
INNA ZAIDAN QOMMA (fi’il madhi mutasharrif tanpa qod)
INNA FID-DAARI ZAIDAN (khabar mendahului isimnya)
وَتَصْحَبُ الْوَاسِطَ مَعْمُوْلَ الْخَبَرْ وَالْفَصْلَ وَاسْمَاً حَلَّ قَبْلَهُ الْخَبَرْ
Lam Ibtida juga boleh masuk pada: (1) Ma’mulnya khobar yg menengahi (antara isim inna dan khobarnya), (2) dhamir fashl, (3) isimnya inna yg khobarnya menempati di sebelumnya (khobar muqaddam).
KET:
Lam Ibtida’ masuk pada:
1. Ma’mul Khobar yg menengahi antara isim dan khobar inna, contoh:
INNA ZAIDAN “LA THO’AAMAKA” AAKILUN = sesungguhnya zaid adalah orang yang memakan makananmu.
2. Dhamir Fashl (dhamir yg memisah antara isim dan khobar inna), contoh:
INNA ZAIDAN “LA HUWA” AL-QOOIMU = sesungguhnya zaid adalah dia yg berdiri.
3. Isim Inna yg diakhirkan dari khobarnya, contoh:
INNA FID-DAARI “LA ZAIDAN” = sesungguhnya yg berada di dalam rumah yaitu Zaid.
PERIHAL HURUF “MAA” YG MENYERTAI INNA CS
وَوَصْلُ مَا بِذِي الْحُرُوِف مُبْطِلُ إعْمَالَهَا وَقَدْ يُبَقَّى الْعَمَلُ
WA WASHLU MAA BI DZIL-HURUUFI MUBTHILU # I’MAALA HAA WA QOD YUBAQQOL-‘AMALU.
Bersambungnya “MAA” dengan INNA CS ini, membatalkan terhadap pengamalan INNA CS. Terkadang ada juga yg pengamalannya ditetapkan.
KET:
Umumnya pengamalan inna cs dibatalkan jika dimasuki huruf MAA, ada juga yg tidak dibatalkan tapi sangat jarang, dan khusus LAITA boleh batal atau tidak.
“MAA” tambahan yg masuk pada Inna dan saudara2nya disebut:
1. MAA KAFFAH (pencegah) mencegah pengamalan Inna dan saudara2nya. Contoh : إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ
“INNAMA”-ALLAHU ILAAHUN WAAHIDUN
(Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa)
2. MAA MUHAYYIAH (pemantas) untuk memantaskan INNA CS bisa masuk pada kalimat jumlah fi’liyah. Contoh:
كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ
“KAANNAMAA” YUSAAQUUNA ILAL-MAUTI WA HUM YANZHURUUN
(seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat)
PERIHAL LAFAZH YG MA’THUF PADA ISIM INNA
وَجَائِزٌ رَفْعُكَ مَعْطُوْفَاً عَلَى مَنْصُوبِ إِنَّ بَعْدَ أَنْ تَسْتَكْمِلاَ
Boleh kamu merofa’kan isim yg diathafkan pada isim Inna yg dinashabkan, setelah Inna menjadi sempurna (setelah ada khobarnya).
KET:
Bilamana setelah isim dan Khobarnya Inna terdapat isim yang athaf, maka boleh memilih diantara dua irob:
1. Nashab, athaf kepada isim Inna yg dinashabkan. Contoh:
INNA ZAIDAN QOOIMUN WA “AMRAN”
2. Rofa’, athaf kepada mahalnya isim Inna karena asalnya adalah mubtada yg rofa’, demikian menurut pendapat yg masyhur termasuk ibn malik. Contoh:
INNA ZAIDAN QOOIMUN WA “AMRUN”
Pendapat lain adalah sebagai mubtada’ dan khobarnya dibuang, takdirannya adalah WA AMRUN “KADZALIK”
Sedangkan jika isim tsb athaf kepada Inna sebelum sempurna dengan khobarnya, maka ada dua pendapat:
1. Nashab, demikian menurut jumhur, contoh:
INNA ZAIDAN WA “AMRAN” QOOIMAANI.
2. Rofa’, demikian menurut pendapat yg lain. Contoh:
INNA ZAIDAN WA “AMRUN” QOOIMAANI.
Pendapat yg kedua diperkuat oleh dalil Al-Qur’an, hikayah perkataan orang arab oleh Imam Syibawaihi dan banyaknya syair-syair arab yg menunjukkan bolehnya merofa’kan isim yg athaf kepada isim Inna sebelum disebut khobarnya. Contoh:
Dalam Al-Qur’an:
إنّ الذين ءامنوا والذين هادوا والصابئون والنصارى من ءامن بالله
Merofa’kan “ASH-SHOOBI’UUNA”
Hikayah oleh Imam Syibawaihi tentang orang arab yg berkata:
إنك وزيدٌ ذاهبان
Merofa’kan “ZAIDUN”
Contoh syahid dalam Sya’ir:
فمن يك أمسى بالمدينة رَحْلُهُ……فإني وقَيَّارٌ بها لغريب
Merofa’kan “QOYYAARUN”
وَأُلْحِقَتْ بِإِنَّ لكِنَّ وَأَنْ مِنْ دُوْنِ لَيْتَ وَلَعَلَّ وَكَأَنْ
“LAKINNA” dan “ANNA” hukumnya mengikuti “INNA” (dalam hal merofa’kan ma’thuf pada isimnya, di Bait 15 sebelumnya) selain “LAITA”, “LA’ALLA” dan “KA-ANNA”.
KET:
kebolehan merofa’kan isim yg ma’thuf pada isim manshub setelah menyebut khobarnya (jumhur) atau sebelum menyebut khobarnya (shahih) berlaku untuk INNA Cs yang berupa:
1. INNA
2. ANNA
3. LAKINNA
Tidak berlaku untuk INNA Cs yang berupa:
1. LAITA
2. LA’ALLA
3. KA-ANNA
PERIHAL INNA YG DIBACA TAKHFIF “IN”
وَخُفِّفَتْ إِنَّ فَقَلَّ الْعَمَلُ وَتَلْزَمُ الَّلاَمُ إِذَا مَا تُهْمَلُ
“INNA” yang ditakhfif (diringankan tanpa tasydid dibaca “IN”) maka jarang beramal (sering tidak beramal menashabkan isimnya) dan diharuskan ada “LAM” apabila “IN” tsb memang di-muhmal-kan (tidak beramal).
وَرُبَّمَا اسْتُغْنِيَ عَنْهَا إِنْ بَدَا مَا نَاطِقٌ أَرَادَهُ مُعْتَمِدَاً
Dan kadang kali cukup tanpa “LAM” jika sudah jelas tujuan pembicara seraya meyakinkan.
KETERANGAN BAIT KE 17-18
“INNA” yg dibaca “IN” (di-takhfif) dalam kebiasaan orang arab sering di-muhmal-kan atau tidak diamalkan, yakni ada juga yg di-amal-kan tapi jarang.
“IN” yang muhmal tersebut harus ditandai dengan “LAM” untuk membedakan antara IN huruf taukid dan IN huruf nafi, oleh karenanya sering disebut sebagai “LAM FARIQOH” atau “LAM FASHL”.
Kadang kali tanpa harus ada “LAM” jika memang sudah jelas diketahui baik secara lafazh atau secara makna, misalnya pembicara bermaksud IN takhfif tersebut tidak di-muhmal-kan /diamalkan, maka dapat membedakan dengan IN nafiyah yg tidak beramal menashabkan isim.
contoh”in” muhmal berikut ada “lam” (sering)
“IN” ZAIDUN “LA” QOO-IMUN
contoh”in” beramal (jarang) beriktu tanpa “lam”
“IN” ZAIDAN QOO-IMUN
وَالْفِعْلُ إِنْ لَمْ يَكُ نَاسِخَاً فَلاَ تُلْفِيْهِ غَالِبَاً بِإِنْ ذِي مُوصَلاَ
Jika kalimah fi’il itu bukan fi’il nawasikh, maka lazimnya kamu tidak akan mendapatkan fi’il tersebut bersambung dengan “IN” ini (IN huruf taukid yg ditakhfif dari INNA).
KETERANGAN BAIT KE 19
Umumnya “IN” yg ditakhfif dari INNA tsb, jarang dipertemukan dengan kalimah fi’il, kecuali pada fi’il-fi’il yg berstatus amil nawasikh atau fi’il yg biasa masuk pada susunan mubtada’ khobar seperti: KAANA Cs, ZHONNA Cs, dan KAADA Cs.
Contoh dalam ayat-ayat Al-Qur’an :
وإن كانت لكبيرة إلا على الذين هدى الله
Wa “IN” KAANAT la kabiirotan illa ‘alal-ladziina hadaa-Allaahu
(Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah)
وإن يكاد الذين كفروا ليزلقونك بأبصارهم
Wa “IN” YAKAADU alladziina kafaruu la yuzliquunaka bi abshoorihim.
(Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka).
وإن وجدنا أكثرهم لفاسقين
Wa “IN” WAJADNAA aktsarohum la faasiquun.
(Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik)
وإن نظنّك لمن الكاذبين
Wa “IN” NAZHUNNUKA la minal kaadzibiin
(dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta.)
Ada juga yg dipertemukan dengan fi’il-fi’il selain nawasikh tapi ini jarang diluar keumumannya, contoh orang arab berkata:
إن يزينك لنفسك وإن يشينك لهيه
“IN” YAZIINUKA la nafsuka, wa “IN” YASYIINUKA la hiyah
(Sesungguhnya kepribadianmulah yg menghiasi dirimu sediri, dan sesungguhnya dia hanyalah mencelamu)
PERIHAL “AN” TAUKID TAKHFIF DARI “ANNA”
وَإِنْ تُخَفَّفْ أَنَّ فَاسْمُهَا اسْتَكَنّ وَالْخَبَرَ اجْعَلْ جُمْلَةً مِنْ بَعْدِ أَنّ
Jika ANNA ditakhfif = AN, maka isimnya ada tersimpan (berupa dhamir syaen). Dan jumlah sesudah AN jadikan! sebagai khobarnya .
KETERANGAN BAIT KE 20 :
Apabila ANNA yg hamzahnya berharakat fathah tsb di-takhfif (AN), maka ia tetap beramal namun isimnya berupa dhamir syaen yg terbuang, dan khobarnya tiada lain adalah kalimat yang ada setelah AN tsb. Contoh:
‘ALIMTU “AN” ZAIDUN QOOIMUN, ada dhamir syaen yg terbuang taksirannya : ‘ALIMTU “ANNA-HU” ZAIDUN QOOIMUN.
(Isimnya berupa “HU” dan khobarnya adalah kalimat “ZAIDUN QOOIMUN”)
arti secara tarkib nahwu: Aku tahu sesunggunya “suatu perkara” adalah zaid orang yg berdiri.
Arti bebas : Aku tahu bahwasanya zaid adalah orang yg berdiri.
(dhamir syaen = dhamir yg merujuk pada suatu hal, suatu kejadian atau suatu perkara).
وَإِنْ يَكُنْ فِعْلاً وَلَمْ يَكُنْ دُعَا وَلَمْ يَكُنْ تَصْرِيْفُهُ مُمْتَنِعَا
Jika (khobar ANNA yg takhfif tsb) berupa Fi’il (kata kerja) yang tidak menunjukkan du’a atau fi’il yang kemutasharrifannya tidak tercegah…
فَالأَحْسَنُ الْفَصْلُ بِقَدْ أوْ نَفْي أوْ تَنْفِيْسٍ أوْ لَوْ وَقَلِيْلٌ ذِكْرُ لَوْ
maka yg terbaik ada pemisah (antara AN dan Khobarnya) dengan QOD, HURUF NAFI, HURUF TANFIS atau LAW, sedangkan penyebutan LAW adalah jarang.
KETERANGAN BAIT 21-22:
AN yg ditakhfif dari ANNA, apabila khobarnya berupa kalimah fi’il (khobar jumlah fi’liyah) maka umumnya ada Fashl/pemisah antara AN dan Fi’il yg menjadi khobarnya, dengan syarat: fi’ilnya Mutasharrif dan tidak ada maksud untuk Du’a (permohonan).
Penggunaan fashl/pemisah tersebut dimaksudkan untuk membedakan antara AN taukid takhfif dan AN mashdariyah.
Huruf-huruf pemisah tersebut berupa:
1. QOD, contoh:
وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا
WA NA’LAMA AN “QOD” SHODAQTANAA
dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami (Almaidah : 113)
2. Huruf tanfis (Sin atau Saufa), contoh:
عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى
‘ALIM AN “SA” YAKUUNU MINKUM MARDHOO
Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit (Almuzammil : 20)
3. Salahsatu huruf Nafi yg biasa berlaku dalam hal ini (LAA, LAN, LAM), contoh:
أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا
A FALAA YAROWNA AN-“LAA” YARJI’U ILAIHIM QOWLAN
Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka (Thoha : 89)
4. LAW, contoh:
وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
WA AN-“LAW” ISTAQOOMUU ‘ALATH-THORIIQOTI LA-ASQOINAAHUM MAA-AN GHADAQOO.
Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). (Al-Jinn : 72)
PERIHAL “KA-AN” TAKHFIF DARI “KA-ANNA”
وَخُفِّفَتْ كَأَنَّ أَيْضَاً فَنُوِي مَنْصُوْبُهَا وَثَابِتَاً أَيْضَاً رُوِي
Demikian juga “KA-ANNA” yg ditakhfif (terbaca “KA-AN”) lalu isim manshubnya dikira-kira (berupa dhamir syaen), dan juga diceritakan dengan menetapkannya/men-zhahirkan isim manshub (tapi jarang)
KETERANGAN BAIT 23:
“KA-AN” mukhoffafah dari “KA-ANNA” dihukumi sebagaimana hukum yg terjadi pada “AN” mukhoffafah dari “ANNA” (lihat bait-bait sebelumnya). Yaitu:
Pengamalannya tetap (menashabkan isimnya dan merofa’kan khobarnya) tapi isimnya terbuang/dikira-kira dhamir syaen, terkadang isimnya dizhahirkan tapi jarang. Adapun khobarnya berupa jumlah sesudah “KA-AN”, baik khobarnya berupa
1. jumlah ismiyah, contoh
كأنْ عصفورٌ سهمٌ في السرعة
KA-AN ‘ASHFUURUN SAHMUN FIS-SUR’AH
Seakan-akan bahwa burung pipit adalah panah dalam kecepatannya.
2. jumlah fi’liyah yang biasanya diawali dengan “LAM nafi” kalau fi’il mudhari’, atau diawali dengan “QOD” kalau fi’il madhi. (sebagai fashl antara KA-AN dan khobarnya), contoh:
فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ
FA JA’ALNAAHAA HASHIIDAN KA-AN LAM TAGHNA BIL AMSI
lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin (Yunus : 24)
{Hasil copas}
Bagian selanjutnya klik disini